Duka dan simpati atas penindasan kemanusiaan Rohingya tentu sangat baik. Sayangnya, lagi-lagi entah apa maksudnya banyak foto hoax beredar seolah korban pembantaian, padahal itu gambar musibah di waktu dan tempat yang berbeda. Tidak ada hubungannya dengan Rohingya.

Indikasi provokasi terdeteksi. Menyebarkan kebencian lagi. Hati-hati, kita mesti jeli dengan agenda tersembunyi seperti ini.

Terdengar nada sumbang dan kecaman pada pemerintah yang disangka diam. Padahal Indonesia sudah care dan terbuka menampung puluhan ribu pengungsi di Medan, Aceh, hingga Sulsel sejak 2015. Mengirimkan bantuan pangan dan lainnya sampai 10 kontainer, hingga mendirikan sekolah di tanah Rakhine. Diplomasi Menlu bahkan khusus dilakukan dengan Aung San Suu Kyi untuk mendorong kedamaian di kawasan konflik tersebut. Kita doakan semoga semua ada hasilnya.




Apa yang perlu kita lakukan?

Pertama, berfikir jernih menciptakan kedamaian mulai dari diri dan keluarga kita, hingga lingkungan lebih luas.

Dua, jangan terbawa arus kebencian dan hoax. Itu semua lagi-lagi bukan muncul tanpa arah. Tapi ada makelarnya yang bertujuan menciptakan konflik horizontal di dalam negeri sendiri. Mengkritisi pemerintah itu boleh dan perlu. Tapi jika medianya kebencian dan fitnah, bukannya daya bangun yang didapat tapi daya rusak. Dan, yang pertama rusak adalah mentalitas terkontaminasi menjadi culas. Energi negatif ini merugikan terutama ketika berbalik pada pribadi kita sendiri.

Selain berduka dan empati kita, juga perlu belajar dari banyak konflik yang motifnya kompleks, termasuk di kawasan Teluk.

Yaman misalnya, hingga kini mengalami penindasan dari koalisi Arab. Di samping korban-korban serangan, embargo membuat tiap hari 1 dari 3 balita di sana meninggal dunia akibat gizi buruk berkepanjangan. Tapi, entah kenapa, ini di kita sepi reaksi dibanding konflik Palestina dan Rohingya. Saudi menindas Yaman, dan solidaritas muslim mengapa hanya diam?

Inilah gambaran standar ganda dalam mengangkat isu. Banyak orang belum berdiri pada pembelaan di sisi kemanusiaan. Jika sebatas peduli dengan sentimen keyakinan agama, ditambah intrik politik di dalamnya, justru akan memicu gesekan baru yang tidak perlu. Contohnya, konflik di Myanmar yang jadi sasaran Candi Borobudur. Main bawa-bawa amuk nggak karuan.

Terakhir, kita kembali lagi kepada perkataan ulama yang sering mengingatkan kita tentang PERSAUDARAAN. Saudara itu bagaikan satu tubuh. Jika satu bagian sakit, maka seluruh tubuh merasakannya. Dan persaudara yang PENTING DIJAGA selain saudara kandung sendiri itu ada 3:

  1. Ukhuwwah Islamiyah (seagama),
  2. ukhuwwah basyariyyah (sesama manusia),
  3. ukhuwwah wathoniyyah (sebangsa setanah air).

Jika ini diabaikan, konflik mudah saja merambat ke sekitar kita.

Terhadap hal terakhir, kita bangga bahwa para ulama pejuang kemerdekaan sudah bahu-membahu dengan eleman bangsa lainnya, menepis perbedaan latar belakang apapun juga, etnis dan agama, sampai akhir nafas mereka membela dan menjaga negara besar yang plural ini. Sambil menggelorakan semboyan “hubbul wathon minal iman” cinta Tanah Air adalah bagian dari iman.

Wasiat yang agung tentang membangun jati diri dan nilai kebersamaan, bagi kita yang inginkan kemajuan dan kedamaian negeri ini, “baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur”.

Salam hangat!








Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.