Ketika menyikapi tragedi Rohingya kali ini, Pak Dhe bekerja mengedepankan “sepi ing pamrih rame ing gawe” (Bekerja tanpa banyak bicara, melakukan kerja nyata senyap tanpa gembar gembor). Apakah ini sengaja?

Bayangkan, 10 container alat kesehatan dan bantuan lainnya tidak sempat terekspose oleh media. Usaha maksimal Ibu Retno yang menghubungi PBB juga luput dari kamera wartawan. Berita ini dikalahkan oleh berita remeh dan recehan seperti halnya ulah Jonru, atau kalah dengan hiruk pikuk SARACEN dan Hak Angket KPK.

Pontang pantingnya Ibu Retno tidak dilirik sama sekali.

Di sinilah mereka mereka yang doyan hoax, yang memang kepingiiiiiin sekali nama Pak Dhe hancur luluh. Mereka sudah kebelet agar yang namanya Jokowi dihujat rame-rame. Eeeee syukur-syukur ditinggalkan oleh para kecebong, kecubung atau kecebeng. Apa tujuannya? Yaa agar yang hobby nyopras nyapres 2019 tidak ditipu lagi dengan sujud syukur gara-gara salah itung.

Maka yang terjadi adalah, manusia-manusia yang dendam kesumatnya sudah “mbalung sumsum” sudah benci sebenci-bencinya langsung memposting dengan gagah dan garang. Langsung menyerang meski wasit belum meniup peluit.

Lagi-lagi, tokoh-tokoh antagonis (banditna kata orang Karo, red.) sekelas Facri, Fadli ditambah mantan Menkominfo bagaikan habis minum obat kuat lelaki menyerang Pak Dhe. Celakanya, seperti yang sudah-sudah, mereka tanpa mau mikir, tanpa mau pakai perasaan, atau barangkali pikirannya dan perasaan lagi ditaruh di dengkul amohnya, mereka malah ikut-ikut menyebar Hoax.

Celaka oh celaka, ketika Pak dhe mengumumkan hampir sepuluh item. Hampir lho ya, bahkan dengan tegas mengatakan pemerintah sudah melakukan tindakan nyata, dan Kecaman tidak menyelesaikan masalah, barangkali jika mereka mereka yang punya hati, punya kemaluan, tentu akan cepat-cepat memukul jidatnya sendiri sambil bilang:

“Aku kejebak lagi. Gagal maning. Gagal maning. Aku guwoooobloog. Kenapa anda begitu Tega, Pak Jokowi? Sampeyan kejam, kejaaaaaaaaaaaaaaam…..”

Ini kira-kira lho ya……..








Leave a Reply