Karo dan Batak Adalah Dua Suku Berbeda

45
3591

Oleh: Ririen Petricia Ginting (Medan)

 

Saya Karo Bukan Batak dan saya bergereja di GBKP (Gereja Batak Karo Protestan). Mengapa anda keberatan?

Adik saya kawin dengan orang Batak. Saat perkawinan mereka, diharuskan melaksanakan dua upacara adat. Satu peradatan Karo dan satunya lagi peradatan Batak. Tidak adat penggabungan tta cara adatnya. Oleh karena itu, tidak pantas disebut kawin campur. Yang ada adalah upacara adat Suku Batak dan upacara adat Suku Karo.

Kalo memang Karo adalah bagian Batak, mengapa harus melaksanakan dua peradatan?

Sedikit catatan, banyak orang Karo tidak suka anaknya kawin dengan orang Batak dan, sebaliknya, banyak orang Batak tidak suka anak mereka kawin dengan orang Karo. Kalau pun jadi kawin, pasti ribet urusannya.

Dari adat saja beda, bagaimana bisa mengatakan karo adalah Batak?

Dari mas kawin sudah beda. Orang Batak mas kawinnya bisa mahal sekali dan putrinya sudah jadi milik pihak laki-laki. Sedangkan orang Karo mas kawinnya ada aturan untuk setiap merga dan tidak boleh dibayar lunas karena, menurut nenek saya, itu tanda bahwa anak perempuan itu masih punya ikatan dengan keluarganya.

Mas kawin di Karo akan dibagi-bagi ke ibu pengantin perempuan dan para istri saudara-saudara suaminya (bride’s Mothers/ M), para saudari ibu pengantin perempuan (perbibin) (bride’s Mother’s Sisters/ MZ), para saudari ayah pengantin perempuan (sirembah ku lau) (bride’s Father’s Sisters), istri-istri dari para saudara ibu pengantin perempuan (bebere) (bride’s Mother’s Brother’s Wive), dan ibu dari ibunya pengantin perempuan (perkempun) (bride’s Mother’s Mother/ MM).

Satu lagi, di Suku Karo, mertua laki-laki tidak boleh ngomong langsung dengan menantu perempuannya dan yang laki-laki tidak boleh ngomong langsung dengan mertua perempuan. Pantngan seperti ini (rebu dalam Bahasa Karo) tidak didapati di Suku Batak.

Itulah perbedaan-perbedaan sangat mendasar yang saya lihat antara Suku Karo dengan Suku Batak.

Foto-foto: Karo_Mejile.








45 COMMENTS

  1. kenapa di gereja kalian itu harus ada kata” “BATAK” seharusnya GKP gereja karo protestan, jadi orang jangan sok memisahkan suku bung , nah klau kai bisa prostes gimana.. muncung itu di jaga

    • kalau mau kau tahu dahulu itu bukan gbkp atau gereja batak karo perotestan melainkan gkp setelah pada jaman penjajahan jepang maka setiap orang karo harus dijadikan batak termasuk mandailing,simalungun,pakpak,kau baca sejarah karo jangan muncungmu itu aja kau panjangin jangan cuman adatmu ajj yang kau baca jadi kau gk tau gimana awalnya terbentuknya gbkp.

    • Pada tahun 1941 inilah, Gembala Sidang (Moderamen) GKP menjalankan politik kotornya dengan mengubah nama Gereja Karo Protestan (GKP) menjadi GBKP (Gereja Batak Karo Protestan), tujuannya membatakkan orang Karo.

      Sejaka saat itu orang Batak menganggap Karo sebagai bagian dari Batak dan memanggil orang Karo dengan sebutan Batak Karo. Dan mereka selalu mengatakan pada siapapun bahwa orang Karo adalah Batak.. Orang Karo telah dizolimi. Karo menangis, sedih, marah..tetapi kami orang Karo (khususnya jemaat GKP) berjuang melawan..

      mosses sitepu

  2. Dulu saya sempat jatuh hati kepada seorang gadis yang disebut masyarakat dikampung saya dengan sebutan “abot” ini. memang dia salah satu yg paling menonjol baik dari segi paras maupun dalam Skill mencuci wartol/wartel. Tapi muncul problema karena hubungan kami ditentang keras oleh orang tua dan sanak saudara saya. Saya masih ingat perkataan mereka : ” Mending kau sama orang jawa dari pada sama abot-abot itu” . karna saya takut berdosa kalau membantah orang tua , lebih baik hati saya sedikit kecewa. dan akhirnya saya meninggalkan si gadis batak ini, lalu saya memacari “permisop-misop” dari jawa dan hubungan kami di restui oleh orang tua dan sanak family. demikian terimaksih.

  3. Dikampung saya banyak pendatang orang batak yang bekerja sebagai pekerja ladang ( kebanyakan sebagai tukang cuci wartol/wortel ) , orang kampung saya menyebut mereka dengan sebutan “abot”. pertanyaan saya apakah “abot” juga bagian dari suku batak ( Batak abot ) ?

  4. Macam betul aja kalian semua, apa pun alasan anda tentang semua ini, ujung”nya kedalam tanah nya kalian, jadi tak usah melakukan pembenaran sendiri terhadap sesuatu hal yg kalian ketahui masing”, intinya dikehidupan ini, lakukanlah perbuatan baik antar sesama, jgn buat/menebarkan kebencian,,, sebab itu lah yg harus dilakukan manusia (mau dr mana suku kau, dr nagara mana kau, dr nenek moyang yg mana kau, keturunan apa kau) kalau kau masih merasa diri kau itu manusia yg hidup (bernafas, berangtivitas, dll) Lakukan la itu, bukan terus mencari atau melakukan pembenaran didalam hidup kau, biar tau kau semua didunia ini bukan masa penghakiman (manusia mana yg benar, manusia mana yg benar) , tpi masa didunia ini adalah masa kesempatan melakukan perbuatan baik atau buruk….!
    Jadi jgn sok jago kalian semua, ukuran 1 x 2 meter ujungnya raga kalian itu, dimakani ulat, dan ga kalian bawak raga kalian itu semua ke penghakiman nanti.
    Semoga kalian semua tidak melihat komen aku ini dr satu sudut pandang, sebenarnya tujuannya hanya untuk meluruskan agar tidak terjadi perpecahan.
    HORAS, MEJUAH-JUAH, YAHOWU, NJUAH-JUAH
    #NKRIBHINEKA

  5. Sejatinya itu tidak dapat dipisahkan karena merupakan satu kesatuan.
    Saran aku artikel ini dihapus aja admin, takutnya ntar menimbulkan persepsi yang berbeda.
    awalnya gerakan Karo Bukan Batak dimulai dari mahasiswa karo di unimed.

    salam
    Ikatan Mahasiswa Karo Malang Jawa Timur

    • Yth, Agi kami Dunan Peranginangin , cobalah kita mengkaji secara akal sehat dan nalar yang benar berdasarkan fakta sejarah dan fakta kekinian dari segi bahasa, adat dan budaya antara suku karo dan suku batak memang berbeda dan sesama orang karo janganlah kita menganggap ini sebagai perpecahan atau persepsi yang berbeda tapi sebagai suatu pencerahan dan meluruskan identidas suku karo yang selama ini tertutupi oleh suku lain. Salam KBB ,Mejuah juah

  6. Saya orang Karo sudah dikaruniai oleh Tuhan usia kepala 6 malah mendekati kepala 7, baru sekarang saya mendengar pernyataan sebagian kecil orang suku karo yang menyatakan karo bukan Batak, kenapa jaman dulu usia saya masih remaja tidak pernah ada pernyataan seperti itu? Memang Karo ada berasal dari beberapa daerah, seperti Karo gugung, Karo berneh, dmn dialog bahasa jarinya pun berbeda. Intinya menurut saya, saya adalah Batak Karo, keluarga saya juga ada yang kawin dengan Batak Toba, ada Batak Simalungun dan ada juga dengan Batak Mandailing, semua akur saja sampai sekarang, horas dan mejuah juah, salam…

  7. Tambahan untuk pengetahuan kita….

    Sejarahwan Universitas Negeri Medan (Unimed) Phill Ichwan Azhari menyampaikan hasil penelitiannya di Jerman terkait etimologi (asal-usul kata) dan genealogi (asal-usul garis turunan) Batak. Simpulan Ichwan: Batak bukan berasal dari Batak sendiri, tapi dikonstruksi para musafir barat dan dikukuhkan misionaris Jerman yang datang ke tanah Batak sejak tahun 1860-an. Benarkah demikian?
    Ilmuwan Batak yang juga Guru Besar Departemen Sejarah Unimed Prof Bungaran A Simanjuntak sedikit ‘gerah’ dengan publikasi Ichwan itu. Menurut Bungaran, tak perlu terlalu meyakini arsip-arsip di Jerman. “Belum tentu arsip-arsip di sana merupakan arsip yang valid, perlu dikonfirmasi ulang. Saya rasa kita tidak perlu terlalu menghebat-hebatkan arsip yang ada di sana,” katanya.
    Bungaran menegaskan, asal-usul nama etnik Batak merupakan hasil dari budaya maupun sejarah di Sumut. “Batak merupakan satu kata dari bahasa Batak sendiri yang artinya penunggang kuda. Dari sisi inilah nama Batak ini muncul. Nama ini sudah sejak lama ada,” katanya.

    Menurutnya, etnis Batak merupakan ras Mongolia Mansuria. “Awalnya kurang lebih 5000 tahun lalu, tentara Mongol berperang dengan bangsa Tar-tar, terpojok dan kemudian lari menuju Indonesia Bagian Timur melalui China. Para tentara Mongol ini pada saat itu mengendarai kuda, dan masyarakat di daerah Indonesia Bagian Timur (saat itu belum beretnis Batak) menamai tentara Mongol ini dengan ‘Batak’. Itulah awal nama etnik Batak,” tutur Bungaran.

    Bukan Hal Baru

    Bagi sebagian orang, hasil penelitian Ichwan itu mungkin mengejutkan. Tapi bagi sebagian lain, ini polemik yang sudah ‘basi’, sebab sudah sejak awal abad ke-20 pengertian dan asal kata Batak dipolemikkan. Sebutan atau perkataan Batak sebagai nama satu etnis di Indonesia, misalnya, sudah dibicarakan dalam beberapa penerbitan surat kabar pada tahun 1900-an. Sejumlah penulis ketika itu sudah berdebat, apa sesungguhnya pengertian kata (nama) Batak dan dari mana asal muasal kata itu?

    Di suratkabar Pewarta Deli No. 82 tahun 1919, misalnya, polemik terjadi antara seorang penulis yang memakai nama samaran “Batak na so Tarporso” dengan J Simanjutak. Polemik yang sama terjadi di suratkabar keliling mingguan yang diterbitkan HKBP pada edisi tahun 1919 dan 1920.

    Seorang penulis memakai inisial “JS” dalam tulisan pendeknya di suratkabar Immanuel edisi 17 Agustus 1919, akhirnya tampil sebagai penengah di antara silang pendapat yang ada. JS mengutip buku berjudul “Riwayat Poelaoe Soematra” karangan Dja Endar Moeda yang terbit tahun 1903, ada halaman 64 menulis: “Adapoen bangsa yang mendoedoeki residentie Tapanoeli itoe, ialah bangsa Batak namanya. Adapoen kata “Batak” itoe pengertiannya : oerang pandai berkuda. Masih ada kata Batak yang terpakai, jaitoe “mamatak”, yang artinya menaiki koeda. Kemoedian hari orang perboeatlah kata itoe djadi kata pemaki (plesetan) kepada bangsa itoe…”

    Berdasarkan sejumlah referensi, umumnya kata Batak menyiratkan defenisi tentang keberanian atau keperkasaan. Menurut Ambrosius Hutabarat dalam catatannya di suratkabar Bintang Batak tahun 1938, pengertian Batak adalah orang yang mahir menaiki kuda, memberi gambaran pula bahwa suku itu dikenal sebagai suku yang berjiwa keras, berani, perkasa. Kuda merupakan perlambang kejantanan, keberanian di medan perang, atau kegagahan menghadapi bahaya/rintangan.

    Bahkan, salah seorang pemikir Batak ketika itu, Drs. DJ. Gultom Raja Marpodang menulis teori bahwa suku Batak adalah sai-Batak Hoda yang artinya suku pemacu kuda. Asal-usul suku Batak berdasarkan teori adalah pendatang dari Hindia Belanda (sekitar Asia Tenggara sekarang), masuk ke pulau Sumatera pada masa perpindahan bangsa-bangsa di Asia.

    Drs DJ Gultom bahkan bersusah payah melakukan serangkaian penyelidikan intensif seputar arti kata Batak dengan membaca sejarah, legenda, mitologi, termasuk wawancara dengan orang-orang tua, budayawan dan tokoh adat. Beberapa perkataan “batak” antara lain ditemukan dalam hampir seluruh bahasa sub etnis Batak mulai Pak-pak, Karo, Simalungun, Mandailing dan Toba, yang pada umumnya bermakna heroik, tidak negatif. Berbagai penjelasan itu disampaikan untuk meluruskan anggapan seolah-olah ‘Batak’ adalah suatu aliran/kepercayaan tentang suatu agama yang dikembangkan pihak tertentu mendiskreditkan citra orang Batak ketika itu.

    Namun dalam pemeriksaan Ichwan terhadap arsip-arsip di Jerman, penelusuran data di KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde atau the Royal Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies) di Belanda, sama sekali tidak ada penjelasan tentang defenisi Batak sebagai penunggang kuda, yang kemudian diplesetkan sehingga menjadi sangat peyoratif terhadap identitas kebatakan.

    Pada sumber-sumber manuskrip Melayu klasik, memang ditemukan kata Batak di kalangan orang Melayu di Malaysia, tetapi sebagai label untuk penduduk yang tinggal di rimba pedalaman semenanjung Malaka. Tidak hanya di Malaysia, di Filipina juga penduduk pesisir menyebut penduduk pedalaman dengan streotip atau label negatif sebagai Batak. Tak mengherankan peneliti Batak asal Belanda bernama Van der Tuuk, pernah risau dan mengingatkan para misionaris Jerman agar tidak menggunakan Batak untuk nama etnik karena imej negatif pada kata itu.

    “Di Malaysia dan Filipina penduduk yang diberi label Batak tidak mau menggunakan label merendahkan itu menjadi nama etnik mereka. Di Sumatera Utara label itu terus dipakai karena peran misionaris Jerman dan pemerintah kolonial Belanda yang memberi konstruksi dan makna baru atas kata itu,” katanya.

    Dalam peta-peta kuno itu, baik peta bata lander yang dibuat peneliti Jerman Friedrich Franz Wilhelm Junghuhn, maupun peta-peta lain sebelum dan setelah peta Junghuhn dibuat. kata bata lander hanya digunakan sebagai judul peta tapi di dalamnya hanya nampak lebih besar dari judulnya nama-nama seperti Toba, Silindung, Rajah, Pac Pac, Karo, dan tidak ada nama batak sama sekali. Dalam salah satu peta kata Batak di dalam peta digunakan sebagai pembatas kawasan Aceh dengan Minangkabau.

    Bermula dari Daniel Perret

    Menurut salah seorang pengamat Kebatakan, Thompson Hs, penelitian Ichwan Azhari itu terkait dengan isu tentang Batak yang dilontarkan Daniel Perret dalam bukunya berjudul Kolonialisme dan Etnisitas Batak dan Melayu di Sumatera Timur Laut. Buku tersebut sudah diseminarkan oleh PUSSIS pimpinan Ichwan Azhari sendiri.

    Dalam buku Daniel Perret, semua istilah Batak dicatat dalam tanda petik dan identifikasi “batak” dalam setting kolonial waktu itu merupakan bagian dari dikotomi antara melayu yang dianggap beradab melalui kesultanan dan keislamannya dan posisi orang-orang “batak” yang belum menganut Islam yang dianggap stereotip dari orang-orang yang tidak beradab. “Peta dikotomi ini saya kira yang ingin diungkapkan kembali oleh Ichwan Azhari tanpa mengungkap posisi Melayu di Sumatera Utara. Kita tunggu saja sambungan penelitiannya,” ujar Thompson.

    Menurut Thompson, hasil penelitian Ichwan itu juga terkait dengan kepentingan isu Batak yang diperdebatkan lagi oleh sebagian orang Karo belakangan ini. Dalam sebuah diskusi di Padangbulan baru-baru ini, identitas Karo dalam kaitannya dengan Batak, kembali digugat. Gugatan muncul dari seorang antroplog Karo, Juara Ginting. Juara mempertanyakan kembali latarbelakang kata Batak disematkan pada suku Karo. Menurut Juara, tak ada kaitan antara Batak dengan Karo. Juara tak setuju jika Karo dianggap Batak, sebab Karo punya standar adat-istiadat yang mandiri. Kalaupun ada kemiripan tidak bisa langsung diklaim, harus dilihat dari banyak sisi.

    “Tentu saja orang Karo tidak harus menjadi Batak. Itulah mungkin dasar lain di samping argumen Juara Rimanta Ginting yang mengambil catatan-catatan lama secara umum. Lalu orang Toba sendiri juga bisa juga menganggap dirinya bukan orang Batak. Mamun masalahnya bukan di situ,” kata Thompson.

    Masyarakat Mandailing juga menolak disebut Batak. Sebab Mandailing sudah diketahui sejak abad ke-14, menunjukkan adanya satu bangsa dan wilayah bernama Mandailing. Nama Mandailing tercatat dalam kitab Nagarakretagama yang mencatat perluasan wilayah Majapahit sekitar 1365 M.

    Tapi ‘Batak’ sama sekali tidak disebut dalam kitab tersebut. Nama Batak itu sendiri tidak diketahui asal-usulnya. Ada yang berpendapat istilah Batak itu digunakan oleh orang pesisir seperti orang Melayu untuk memanggil orang di pedalaman Sumatra, Batak, sepertimana orang Melayu memanggil ‘orang asli’, Sakai dan Jakun.

    Saat Belanda menguasai kesultanan-kesultanan Melayu, mereka bukan saja memasukkan kesultanan-kesultanan tersebut ke dalam sistem kolonial, tapi juga mengambil-alih pemisahan Batak-Melayu. Belandalah yang kemudian membatakkan bangsa/umat Mandailing dalam persepsi, tanggapan, tulisan-tulisan, dan sensus administratif Belanda.

    Kembali ke hasil penelitian Ichwan. Menurutnya, konsep Batak dari misionaris Jerman semula digunakan kelompok masyarakat di kawasan Tapanuli Utara, tapi lebih lanjut dipakai Belanda menguatkan cengekraman ideologi kolonial.

    Perlahan-lahan konsep Batak itu meluas dipakai Belanda termasuk sebagai pernyataan identitas oleh penduduk di luar daerah Toba. Peneliti Belanda kemudian merumuskan konsep sub suku batak dalam antropologi kolonial yang membagi etnik Batak dalam beberapa sub suku seperti sub suku Batak Toba, Batak Mandailing, Batak Karo, Batak Simalungun serta Batak Pak Pak

  8. Kenapa malu jd orang batak??? Yg kupelajari batak itu beberapa jenis.. Sperti di jawa ini kalo ada yg tanya org mana.. saya sering jawab.. Org batak… batak toba buk/ Pak gitu.. Tp Asuuuudahlah. 😂😂😂😂

  9. Sekedar Pencerahan dari sisi IPTEK dan Historis…

    Orang Karo Berdasarkan Migrasi Leluhur

    Orang Karo (Suku Karo) berada di wilayah Sumatera bagian Utara dan untuk dapat mengenal Orang Karo lebih jauh, maka perlu mengetahui asal migrasi leluhurnya. Arkeolog senior, Prof. Dr. Harry Truman Simanjuntak dari Pusat Arkeologi Nasional telah malang-melintang melakukan penelitian arkeologi prasejarah selama ini di Indonesia. Peneliti dan Direktur Center for Prehistoric Austronesian Studies ini memaparkan bahwa pada masa Pleistosen yang terentang mulai dari 2 juta tahun lalu hingga 11.500 tahun lalu, bumi begitu dinamis. Banyak pergerakan lempeng bumi, aktifnya gunung api, dan peng-es-an (glasiasi), sehingga diduga pada masa itulah banyak manusia dan hewan bermigrasi. Di Indonesia, pertanggalan tertua berasal dari situs Song terus, Pacitan, sekitar 45.000 tahun lalu. Lalu, berlanjut dengan berakhirnya zaman es awal Holosen yang menyebabkan kenaikan air laut, sehingga memicu diaspora pada 10.000 – 5.000 SM, kedatangan penutur Austronesia sekitar 4.000 tahun lalu hingga zaman fajar sejarah alias protosejarah beberapa abad menjelang Masehi (Majalah Arkeologi Indonesia, 16/03-2014).

    Prof. Dr. Harry Truman Simanjuntak memaparkan, bahwa berdasarkan data arkeologi, etnologi, dan paleontologi, terdeteksi adanya arus migrasi, selain penutur Austronesia dan Papua, yang masuk dari sisi barat melewati Malaysia hingga ke Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Mereka adalah penutur Austroasiatik. Penutur Austroasiatik ini tiba di Indonesia pada 4.300-4.100 tahun lalu yang kemudian baru disusul penutur Austronesia pada kisaran 4.000 tahun lalu. Austroasiatik dan Austronesia sebenarnya berasal dari satu rumpun bahasa yang sama, yaitu bahasa Austrik, tetapi kemudian pecah. Bahasa Austroasiatik digunakan di sekitar Asia Tenggara Daratan, sedangkan Austronesia digunakan di wilayah kepulauan, seperti Taiwan, Filipina, Pasifik, Madagaskar, hingga Pulau Paskah. Bahasa Austrik awalnya dimanfaatkan masyarakat Yunan, Cina Selatan. Bahasa ini kemudian pecah menjadi dua, yaitu Austroasiatik dan Austronesia, yang kemudian menjadi penyebutan nama kelompok berdasarkan penggolongan bahasa. Pada 4.300-4.100 tahun lalu, dari Yunan, penutur Austroasiatik bermigrasi ke Vietnam dan Kamboja lewat Malaysia hingga ke Sumatera, Jawa, dan Kalimantan. Salah satu penandanya ialah temuan tembikar-tembikar berhias tali yang bentuknya sama dengan tembikar di selatan Tiongkok hingga Taiwan. Kemudian, pada 4.000-an tahun lalu, muncul arus migrasi penutur Austronesia lewat sisi timur Indonesia. Arus migrasi itu muncul mulai dari Sulawesi, Kalimantan, dan sebagian ke selatan, seperti Nusa Tenggara, hingga menuju Jawa dan Sumatera (Kompas, 27/11-2014).

    Kembali Prof. Harry Truman Simanjuntak menegaskan, bahwa hasil penelitian menunjukkan adanya dua arus migrasi besar ke Indonesia yang menjadi cikal bakal leluhur langsung bangsa Indonesia. Pertama, penutur Austroasiatik yang tiba pada 4.300-4.100 tahun lalu dan, kedua, penutur Austronesia yang datang pada kisaran 4.000 tahun lalu. Arus migrasi terjadi setelah pertanian di sekitar Cina Selatan (asal kedua rumpun itu) berkembang pesat hingga terjadi ledakan jumlah penduduk yang memaksa mereka bermigrasi. Kedua ras Mongoloid yang menggunakan bahasa berbeda ini akhirnya bertemu di sekitar Jawa, Kalimantan, dan Sumatera. Penutur Austronesia ternyata lebih berhasil mempengaruhi penutur Austroasiatik, sehingga berubah menjadi penutur bahasa lain. Sebelum kedua penutur tadi datang, sudah ada ras Australomelanesoid, yang hingga sekarang hidup di wilayah Indonesia timur, seperti Papua (Kompas, 07/08-2014). Jadi, ada tiga penutur bahasa yang menjadi cikal-bakal leluhur bangsa Indonesia pada masa prasejarah, yaitu: Orang Negrito (dari ras Australomelanesoid seperti Papua), penutur Austrosiatik, dan penutur Austronesia.

    Penutur Austroasiatik dan penutur Austronesia ini berasal dari ras Mongoloid yang berasal dari Cina Selatan, sedang Orang Negrito berasal dari ras Australomelanesoid (campuran ras Australoid dan ras Melanesoid). Orang Negrito ini datang lebih awal ke Sumatera setelah Sundaland tenggelam yang datang dari Hoabinh, Teluk Tonkin, Vietnam. Di pesisir Sumatera bagian Utara, migrasi Orang Negrito ditandai dengan ditemukannya bukit-bukit kerang dari Deli Serdang hingga Lhok Seumawe. Penelitian arkeologi yang dilakukan oleh H.M.E. Schurmann di dekat Binjai (1927), Van Stein Callenfels di dekat Medan, Deli Serdang, Kupper di Langsa, Aceh Timur (1930), MacKinnon di DAS Wampu, Prof. Truman Simanjuntak dan Budisampurno di Sukajadi, Langkat (1983), di Lhok Seumawe dan oleh Tim Balai Arkeologi Medan (Balarmed) di Aceh Tamiang (2011) menemukan bahwa para pendukung budaya Hoabinh sudah datang pada masa Mesolitik, 10.000-6.000 tahun lalu (Wiradnyana, 2011:19-21). Belakangan ditambah dengan hasil penelitian Balarmed di Bener Meriah di Aceh (2012) (Wiradnyana, 2011:127). Temuan fosil tertua dari Loyang Mandale, Aceh Tengah berusia 8.430 tahun (Lintas Gayo, 11/07-2014).

    Sumatera bagian Utara terbukti sudah didatangi para pendukung budaya Hoabinh, yaitu Orang Negrito pada masa Mesolitik (10.000-6.000 tahun lalu). Orang Gayo terbukti adalah keturunan Orang Negrito ini setelah dilakukan penelitian arkeologi oleh Balai Arkeologi Medan dan penelitian genetika oleh Lembaga Eijkman. Secara genetik, bahwa Orang Gayo dengan Orang Karo berkerabat sangat dekat (Lintas Gayo, 07/12-2011; Kaber Gayo, 07/12-2011), sehingga jelas bahwa Orang Karo merupakan keturunan Orang Negrito juga dan di dalam DNA Orang Karo ada unsur Negrito tersebut. Mengingat bukit kerang ditemukan juga di Deli Serdang dan Langkat yang telah dilakukan penelitian arkeologi, maka sangat mungkin Orang Negrito banyak juga di Tanah Karo pada masa lalu. Kemudian, seperti dikemukakan Harry Truman Simanjuntak sebelumnya, bahwa penutur Austroasiatik dan penutur Austronesia datang juga ke Sumatera bagian Utara, sehingga bahasa Karo dan Gayo dimenangkan oleh penutur Austronesia. Oleh karena itu, bahasa Karo dan Gayo termasuk rumpun bahasa Austronesia (Adelaar, 1981:55), seperti bahasa Simalungun, Toba, Pakpak, dan Mandailing juga termasuk rumpun bahasa Austronesia. Selain itu, secara khusus, bahwa ada jejak genetika orang-orang Tamil dari India Selatan di Gayo dan Karo. Jejak genetika ini ditemukan selain genetika orang-orang daratan Asia (Kamboja dan Vietnam), yaitu penutur Austroasiatik, yang datang melalui Semenanjung Malaka dan penutur Austronesia melalui Filipina. Migrasi Orang Tamil ke Gayo dan Karo berlangsung secara bertahap pada masa sejarah (Kompas, 02/04-2013).

    Jadi, dari migrasi yang datang ke Gayo dan Karo terlihat yaitu: Orang Negrito, penutur Austroasiatik, penutur Austronesia, dan Orang Tamil dari India Selatan. Kesamaan ini terlihat ketika penelitian genetika dilakukan oleh Lembaga Eijkman terbukti bahwa genetika Gayo dan Karo berkerabat sangat dekat. Berdasarkan migrasi leluhur tadi, maka Orang Karo terutama merupakan campuran dari 4 (empat) penutur bahasa, yaitu:

    1. Orang Negrito (Masa Mesolitik: 10.000 – 6.000 tahun lalu).

    2. Penutur Austroasiatik (Masa Neolitik: 6.000 – 2.000 tahun lalu).

    3. Penutur Austronesia (Masa Neolitik: 6.000 – 2.000 tahun lalu).

    4. Orang Tamil dari India Selatan (Masa periode tahun masehi).

    Di dalam DNA Karo (dan Gayo) ada ditemukan unsur: Negrito, Austroasiatik, Austronesia, dan Tamil, sehingga kesamaan inilah yang membuat Karo dan Gayo berkerabat sangat dekat.

    Si Raja Batak dari Sianjur Mula-mula

    Pada Juli 2013, Balai Arkeologi Medan melakukan penelitian “Jejak Peninggalan Tradisi Megalitik di Kabupaten Samosir” dengan melakukan kegiatan ekskavasi dan survei arkeologi. Tinggalan megalitik yang mereka temukan di Samosir, yaitu: sarkofagus, tempayan batu, kubus batu, kubur pahat batu, tambak batu, batu dakon, menhir, patung-patung batu seperti patung pangulu balang, lesung batu, palungan batu, bottean, sakkal, gajah dari batu paha, parik (pagar batu), dan punden berundak. Tempayan batu seperti disebutkan tadi ada ditemukan di Sumatera Selatan yang berasal dari millenium kedua masehi. Rumah adat memiliki pola arsitektur rumah panggung melengkung yang merupakan ciri budaya Dong Son. Pola hias di rumah adat dalam bentuk berbagai macam binatang dan sulur-suluran yang dibuat dengan hiasan rumbai-rumbai seperti bulu-bulu yang panjang baik itu pada pahatan flora ataupun pahatan fauna mengingatkan akan hiasan model yang serupa pada benda-benda perunggu yang berasal dari Dong Son. Gambar cecak sebagai lambang kejujuran dan atau kebenaran bagi para pemimpin yang memimpin. Pada tradisi paleometalik Dong Son sangat umum dikenal motif-motif antara lain sulur-suluran, spiral atau pilin berganda, geometris berupa segi empat, bulatan, tumpal maupun belah ketupat dan motif-motif itu masih selalu hadir pada berbagai aspek tinggalan budaya Toba (Wiradnyana & Setiawan, Jejak Peninggalan Tradisi Megalitik di Kabupaten Samosir, 2013).

    Berdasarkan penelitian arkeologi di atas, disimpulkan bahwa pendukung budaya Dong Son yang merupakan penutur bahasa Austronesia telah datang dari Cina Selatan setelah melalui Taiwan terus berakhir di Sianjur Mula-mula sekitar 800 (+/- 200) tahun lalu (Wiradnyana, 2015). Hal ini sesuai dengan Teori Out of Taiwan yang sangat terkenal itu. Mark Lipson (Juni 2014) — dengan menggunakan data-data dari HUGO Pan-Asian SNP Consortium dan CEPH-Human Genome Diversity Panel (HGDP), yang data awalnya dipasok oleh Lembaga Biologi Molekuler Eijkman — melakukan analisa statistikal atas DNA penutur Austronesia. Analisa atas DNA penutur Austronesia itu termasuk DNA Orang Toba (Mark Lipson, New statistical genetic methods for elucidating the history and evolution of human populations, 2014:85-90) dapat disimpulkan bahwa Orang Taiwan yang datang ke Sianjur Mula-mula berasal dari suku Amis dan suku Atayal, yang kedua-duanya merupakan suku asli Taiwan. Khusus suku Amis dan suku Atayal merupakan keturunan dari suku H’Tin dari Thailand (Austroasiatik) yang sudah bercampur dengan penutur Austronesia, sehingga kedua suku ini memiliki DNA: Austronesia + Austroasiatik. Diperkirakan percampuran itu terjadi di Cina Selatan dan oleh karena ledakan penduduk, mereka pun bermigrasi ke Taiwan membentuk suku Amis dan suku Atayal tadi. Jadi, DNA penghuni awal Sianjur Mula-mula terdiri dari Austronesia dan Austroasitik.

    Antara Fakta atau Mitos

    Menurut penuturan W.M. Hutagalung, dalam bukunya: “PUSTAHA BATAK: TAROMBO DOHOT TURITURIAN NI BANGSO BATAK” (1926), bahwa Si Raja Batak adalah keturunan dari Raja Ihat Manisia sebagai hasil perkawinan dari Si Borudeak Parujar dengan Raja Odapodap. Mereka berdua adalah penghuni langit ketujuh yang turun ke bumi dan mendiami Sianjur Mula-mula di kaki Pusuk Puhit. Mereka berdua turun-naik melalui puncak Pusuk Buhit ke Sianjur Mula-mula dan Sianjur Mula-mula dipandang sebagai kampung awal persebaran manusia. Si Raja Batak merupakan keturunan dari Raja Ihatmanisia. Dalam tarombo dan turiturian itu diceritakan bahwa keturunan Si Raja Batak ada sebagian ke tanah Pakpak membentuk Batak Pakpak, ke tanah Karo membentuk Batak Karo, ke tanah Simalungun membentuk Batak Simalungun, dan ke tanah Mandailing membentuk Batak Mandailing. Begitulah ringkasan penuturan W.M. Hutagalung dalam bukunya yang laris manis itu.

    Apabila melihat kepada Si Raja Batak dari Sianjur Mula-mula, maka jelas bahwa Si Raja Batak adalah Orang Taiwan yang memiliki DNA Austronesia dan Austroasiatik.

    Sementara Orang Karo merupakan keturunan dari campuran Orang Negrito yang datang pada masa Mesolitik, penutur Austroasiatik dan penutur Austronesia yang datang pada masa Neolitik, serta Orang Tamil. Maka, jelas berbeda kedatangannya yang jauh lebih dulu kedatangan dari Orang Negrito, penutur Austroasiatik, dan penutur Austronesia dibanding Si Raja Batak yang diperkirakan datang sekitar 800 (+/- 200) tahun lalu.

    Kemudian dari campuran tadi jelas bahwa Orang Karo berbeda secara genetik dengan Si Raja Batak yang Orang Taiwan tadi. Sehingga, pernyataan bahwa Orang Karo adalah keturunan Si Raja Batak bukanlah fakta, melainkan hanyalah mitos.

    Sebelum Si Raja Batak datang ke Sianjur Mula-mula di Negeri Toba, dalam bukunya: “Prasejarah Kepulauan Indo-Malaysia” (2000:339), Peter Belwood menulis bahwa Orang Negrito sudah datang ke Humbang di Negeri Toba pada sekitar 6.500 tahun lalu. Peter Belwood merujuk pada hasil penelitian paleontologi yang dilakukan Bernard K. Maloney di Pea Simsim, Pea Sijajap, Pea Bullock, dan Tao Sipinggan daerah Humbang. Penelitian Maloney ini dan penelitian Balai Arkeologi Medan di Samosir yang sudah disebutkan tadi dikonfirmasi oleh hasil analisa DNA Orang Toba oleh Mark Lipson (2014:87) dengan menyimpulkan bahwa DNA Orang Toba terdiri dari: Austronesia 55%, Austroasiatik 25%, dan Negrito 20%. Maka, jelas bahwa Orang Toba bukan hanya Orang Taiwan (Austronesia+Austroasitik), tetapi campuran Orang Taiwan dan Orang Negrito. Orang Negrito sudah ada mendiami Humbang sebelum Si Raja Batak datang ke Sianjur Mula-mula di kaki Pusuk Buhit, Negeri Toba, sehingga pernyataan bahwa Sianjur Mula-mula merupakan awal persebaran manusia bukanlah fakta, melainkan hanyalah mitos.

    Kesimpulan

    Orang Karo bukanlah Orang Taiwan seperti Si Raja Batak yang Orang Taiwan, melainkan campuran Negrito, Austroasiatik, Austronesia, dan Tamil. Oleh karena itu, dapat dipastikan bahwa Orang Karo bukan keturunan Si Raja Batak dari Sianjur Mula-mula. Orang Karo lebih dulu sampai di Tanah Karo yang sudah datang pada masa prasejarah daripada Si Raja Batak yang sampai di Sianjur Mula-mula sekitar 800 (+/- 200) tahun lalu, sehingga migrasi Orang Toba ke Tanah Karo tidak menjadikan Orang Karo menjadi keturunan Si Raja Batak dari Sianjur Mula-mula. Jelas bahwa tidak ada hubungan genealogis Si Raja Batak dengan Orang Karo, sementara bahasa Toba dan bahasa Karo termasuk ke dalam rumpun bahasa Austronesia. Akhirnya, pernyataan bahwa Orang Karo adalah keturunan Si Raja Batak dari Sianjur Mula-mula bukanlah fakta, melainkan hanyalah mitos! ***

  10. Marga apa saja suku karo…??? kl ada marga suku karo dr keturunan siraja batak (baca tarombo si raja batak) berarti karo adalak batak

  11. “Lothar Schreiner, dalam bukunya “Adat dan Injil; Perjumpaan Adat dengan Iman Kristen di Tanah Batak” (1999:11) mengatakan: “Sebutan ‘Batak’ maupun ‘daerah Batak’ barulah muncul setelah pengkristenan.” Senada dengan itu, Lance Castle, dalam bukunya, “Kehidupan Politik Sebuah Keresidenan: Tapanuli 1915-1940”, Desertasi Ph.D (1972:138) mengemukakan bahwa sebutan “Batak” itu bermula dari ‘stereotipe’ orang-orang Melayu Muslim di Sumatra Timur terhadap orang “Batak”, sedangkan konotasi yang terkandung dalam sebutan “Batak” ialah: ‘jelek, kasar, jorok, dan bodoh’. Akibatnya banyak orang “Batak” tidak mau menyebutkan identitas mereka sebagai “Batak”, dan lebih senang menyatakan diri sebagai orang: Toba, Karo, Simalungun, Mandailing/Angkola, atau Pakpak/Dairi. Lothar Schreiner dan Lance Castle maupun Ensiklopedia Britannica sebelumnya memberikan informasi bahwa kata “BATAK” itu baru muncul sejak masuknya Kristen dan Kolonial ke daerah pedalaman Sumatera Utara.” dr sini aja bs diliat, di suku karo sblm masuknya kristen sudah ada agama Perbegu (Hindu Tua), di Karo tdk ada arti “Batak”, “Istilah ”Batak” ini disebutkan dengan konotasi merendahkan (seakan memiliki stigma/cacat sosial). Khusus mengenai istilah ”Batak”, Daniel Perret menjelaskan bahwa istilah itu bukan berasal dari orang-orang Toba, Simalungun, Pakpak Bharat, Karo atau Mandailing. Label itu datang dari luar khasanah budaya mereka. Dalam beberapa dokumen bahwa sebutan ”Batak” tidak terdapat dalam sastra pra-kolonial. Bahkan dalam Hikayat Deli (1825) istilah ”Batak” hanya sekali digunakan, sedang dalam Syair Putri Hijau (1924) sama sekali tidak menyinggung ”Batak” atau Melayu. Baik dalam Pustaka Kembaren (1927) maupun Pustaka Ginting (1930) tidak dijumpai kata-kata ”Batak”. Selain itu, B.A. Simanjuntak mencacat bahwa kata-kata ”Batak” tidak dijumpai dalam Pustaha Toba. Memang dalam stempel Singamangaraja, yang tertera hanya kalimat ”Ahu Raja Toba”, bukan ”Ahu Raja Batak.” Karena label ”Batak” dibawa dari luar, maka dia menjadi sebuah label yang kabur dan menyesatkan (evasive identity). Ketika seorang menganggap orang lain ”Batak”, maka dia merasa lebih tinggi dari orang lain itu. “

  12. Yg benar itu, karo bukan toba, karo bukan simalungun, karo bukan pak-pak, karo bukan mandailing, toba bukan simalungun, toba bukan pak-pak, toba bukan mandailing, simalungun bukan pak-pak, simalungun bukan mandailing, dan pak-bukan mandailing bos.

    Semua suku yg saya sebut diatas, sama2 diawali dengan kata “Batak”. Jadi jgn suka2 muncungmu misah2in kata.

    Kata “Batak” itu sama seperti ibarat kata “Buah”. Contoh: Buah apel, buah nenas, dll.
    Kalau km bilang “Apel” bukan “Buah” sama seperti yg km sbut diatas “Karo” bukan “Batak”, Berati km itu TOLOL dan BEGO. Mangkany jgn suka2 misah2in kata yg memng dari duluny sudah trlahir sperti itu.

    Kata “Batak” itu gk salah. Emng dasar kita sndiri az yg salah menyampaikan suku kita itu apa kepada org lain.
    Contoh: keseringan klo suku toba itu mngatakan sukuny kepada temanny di perantauan (misalnya di jawa), bahwa mereka adalah suku Batak. Padahal yg benar itu seharusny dia mnjawab “Batak Toba” atau “Toba” az. Shingga kata “Batak” itu sudah melekat di diri Kaum Toba.

    Mangkany, mulai skarang kembalikanlh kata “Batak” itu ke tmpatny, dimulai dari diri kita sndiri. Jelaskan kepada suku2 di luar Batak, bahwa Batak itu banyak jenisny. Ada Batak Karo, Batak Toba, Batak mandailing, Batak Pak-pak, Batak simalungun. Karena Batak itu memang ciri khas kita dari sumatera utara.

  13. Lalu mengapa di tulisan GBKP(GEREJA BATAK KARO PROTESTAN)Ada kalimat “BATAK”?Yang pasti yg mesahkan itu kan orang KARO,bukan suku lainnya.Oleh sebab itu anda harus protes itu,kalau anda bukan bagian dari BATAK.

  14. Yang perlu diketahui yang namanya BATAK itu asalnya dari mana,,, kalau suku yang 5 tersebut sudah baku adanya,,,, dan sejak kapan penamaan BATAK sebagai penyatu 5 suku diberlakukan. Itu saja….

  15. Siapa yang uda lahir pada masa jaman itu..nenek saya umur 100 tahun masih hidup sampai sekarang ada ditanah karo dan dia juga berkata karo itu bukan suku batak ..sebab karo itu pelarian dari melayu dan juga etnis lain yang melarikan diri ke pegunungan sewaktu pejajahan dahulu didataran dan menjadi satu dalam suku karo ikut menjaga persatuan dan kemerdekaan di sumatra utara dan bukit barisan..
    Siapa kalian lahir dijaman itu ???
    Kalo kalian belum lahir dijaman itu gak usah adu argument..kenali dahulu sejarah anda ..maka darisanalah anda akan kenal siapa diri anda??Mejuah Juah By Pelaut Karo

  16. Saya setuju dengan Penulis diatas bahwa Suku karo adalah suku yang berdiri sendiri bukan merupakan bagian dari suku lain.Mejuah juah

  17. Terlalu miskin argumen anda. Saya jga Batak. Jika anda tidak mau dibilang suku Batak tdk ada masalah buat saya. Tapi tolong perbanyak argumen anda.jika menurut anda karo itu bukan batak. Oke…!!!

  18. Mengapa anda mengatakan hal demikian.
    Batak secara umum itu dibagi menjadi 6 secara khususBatak toba,Batak pak pak, Batak karo, simalungun, mandailing dan angkola. Jadi wajar saja ke enamny memiliki adat adat yg berbeda namun memiliki konsep yang sama.

    • Bung Erik Malau Yth, sejak kecil saya dibesarkan di keluarga suku karo, dan kami tidak pernah merasa menjadi orang batak, setelah dewasa kami pelajari baik dari segi bahasa, budaya, adat istiadat maka kami simpulkan bahwa suku karo bukan bagian dari Batak (sub etnis Batak) karena bukan keturunan dari siraja Batak tapi suku yang berdiri sendiri. demikian salam, mejuah juah

  19. Orang batak tidak pernah mempermasalahkan ini..
    knpa anda sibuk sendiri..
    anda mengerti sejarah tidak…
    negara yg maju adalah negara yg menghormati sejarah…
    memang anda tau sejarah..?
    mari saling menghormati.

    • kenapa banyak sekali orang yang tersinggung akan sejarah ini? Secara etimologi, etnis, demografis dan bahasa itu sudah jauh berbeda. dan itu adalah fakta. bukan berarti kita tidak suka sama orang batak atau gimana, tapi kalau fakta ya fakta. jangan diambil hati. kalau ada yang salah dengan persepsi atas fakta, ya perlu diluruskan. Karo itu lebih dekat ke melayu (walaupun tidak cukup mirip untuk dibilang sesuku) daripada batak. apakah kita berhubungan baik satu sama lain, itu masalah lain. yang penting fakta ini harus diluruskan, dan kita perlu menerima bahwa kita tidak berasal dari satu akar. sejarah kerajaan karo tidak bersinggungan dengan kerajaan batak sama sekali. mohon dipahami.
      hanya karna kita berbeda bukan berarti kita saling tidak suka.

Leave a Reply