“KEBENARAN BARU (Jangan Langsung Panik)”, tulis Andi Safiah dalam kolomnya (Lihat di SINI). Ini juga bisa dimasukkan ke dalam fenomena kebenaran baru. Jangan panik kalau ada baru yang menegasi yang lama, ‘negasi dari negasi’. Kulit kacang mengering dan membusuk, lalu tumbuh kacang baru dari kacang lama itu. Begitu di alam, begitu dalam pikiran manusia yaitu tesis – antitesis – syntesis atau dalam dialektika Karo kuno yang terkenal sejak adanya kultur/ budaya Karo 7400 tahun lalu, yaitu ‘seh sura-sura tangkel sinanggel‘.

Dari kematian sinanggel tumbuh lagi sura-sura baru dst dst . . .  Proses jalan terus,. Proses perubahan jalan terus di luar kehendak manusia. Tidak ada yang tetap, yang tetap hanya perubahan itu sendiri – motion. Tidak ada yang diam juga, karena perubahan adalah gerakan, motion.




‘Jangan langsung panik’ kalau melihat perubahan terutama dalam soal doktrin yang sudah melekat dan bergaya selama berabad-abad seperti doktrin komunisme/ sosialisme atau doktrin kepercayaan tertentu. Tetapi dalam kenyataan memang banyak yang panik.

Ada 2 macam kepanikan. Satu, karena belum memahami (masih butuh waktu), dan satunya lagi, karena jelas memahami dimana akan berakhirnya penindasan dan penipuan atas kemanusiaan yang dia lakukan selama masa kegelapan. Ini adalah golongan neolib internasional yang telah berhasil memperdayakan dunia selama hampir setengah abad (Abad 20).

Di Indonesia, gerombolan ini yang bikin adu domba pembunuhan 3 juta orang 1965 demi melanggengkan jalan ke SDA Indonesia yang kaya itu, hutan, minyak, tembaga, emas, terutama Freeport Papua yang bisa berhasil mengeruk duit triliunan dolar selama setengah abad tanpa suara. Adakah yang lebih penting dari duit bagi gerombolan ini? Apakah mereka ini menyayangkan kematian/ pembantaian 3 juta atau 10 juta atau 100 juta?

Terbaru, gerombolan ini ialah bikin ISIS di Syria dan Irak demi duit miliaran dolar tiap bulan dari SDA kedua negeri itu. Akan tetapi, dalam era keterbukaan, semua persoalan ini ditelanjangi, oleh publik dan info dari publik (internet, digital), termasuk kegelapan bantai 3 juta orang 1965 di Indonesia. Itulah hasil utama munculnya era KETERBUKAAN, era transparansi dunia, ERA PENELANJANGAN semua kegelapan dan segala macam penipuan.

Di sini berlaku teori ‘tesis-antitesis-syntesis’ dalam praktek dan dalam kenyataan kehidupan. Perumusan proses dialektika keterbukaan-kegelapan-keterbukaanlagi, atau dari keterbukaan (abad primitif) – ke kegelapan (abad kekuasaan/duit) – ke abad keterbukaan sekarang (abad 21, abad internet).

Proses ‘keterbukaan-kegelapan-keterbukaan’ ini memang sangat panjang. Dari keterbukaan abad primitif sampai munculnya permulaan era kegelapan bersamaan dengan munculnya era kekuasaan dan munculnya duit yang bahkan sudah terjadi sebelum era Aristoteles, karena dia sendiri sudah mengatakan ketika masih hidup bahwa duit adalah sumber dari segala macam kejahatan.

Jadi, era kegelapan ini sudah berjalan sangat lama, karena era keterbukaan atau proses keterbukaan dimulainya baru pada Abad 21 bersamaan dengan munculnya era internet.

Proses munculnya keterbukaan Abad 21 adalah akibat yang logis dari kemajuan teknologi digital, perubahan dan perkembangan teknik digital (internet) yang mendorong keterbukaan dalam segala bidang dan, pada gilirannya, mendorong keikutsertaan jutaan sampai ratusan juta publik dunia dalam tiap persoalan penting yang tadinya kabur atau gelap sepenuhnya, atau dikaburkan atau digelapkan oleh MSM (Main Stream Media) milik neolib. Keterlibatan publik dengan sendirinya mendorong keterbukaan yang lebih luas lagi.

Keterbukaan yang luas ini membikin panik pihak pemain gelap, dan bahkan mereka bikin rontaan sekarat. Mereka pertaruhkan apa saja untuk menyelamatkan era kegelapannya, seperti mengadu domba dengan perang nuklir lewat kenaifan pemimpin Korut Kim Jong-un kontra si ceplas-ceplos Trump.

Selain rontaan sekarat di atas, juga masih meneruskan taktik divide and conquernya seperti bikin berbagai organisasi teror model ISIS atau model teror ‘3 juta 1965’ seperti Boko Haram di Nigeria, Al-Shabab di Somalia, Lord’s Resistence Army di Uganda, AQIM di North Africa, pecah belah dan pembantaian/pengusiran etnis Rohingya di Myanmar demi explotasi oil dan gas, pembentukan negara kartel narkoba di Mexico dll.

Semua kegiatan sekarat ini tidak lepas dari duit, duit, duit . . . termasuk mengadu si naif Kim Jong Un dengan siceplas-ceplos Trump yang sudah dan akan terus bisa menjamin menghasilkan profit besar bagi fabrik senjata neolib. Dengan alasan logis dan dengan ‘keinginan rakyat’ AS harus meningkatkan persenjataan AS sendiri dan juga pengiriman/ penjualan persenjataan secara besar-besaran ke Korsel. Semuanya dengan alasan menangkis ‘ancaman Korut’.

Bagi fabrik senjata neolib berlaku: profit, profit, duit, duit . . . dan mereka berhasil.




Keberhasilan ini memang berisiko tinggi, artinya perang nuklir yang bisa membahayakan bahkan jiwa dan kehidupan orang-orang neolib sendiri. Tetapi seperti pernah dikatakan oleh Marx sendiri bahwa sikapitalis akan mempertaruhkan nyawa anaknya kalau ada profit 50%, dan akan mempertaruhkan lehernya sendiri kalau profit 100%! Wow!

Menariknya sekarang ialah bahwa dalam kenyataan profit itu bisa melebihi 100% tanpa mempertaruhkan nyawa anak atau leher sendiri, yaitu hanya dengan memanipulasi omongan naif dan ceplas-ceplos dari Kim dan Trump. Hebat memang. Mengapa bisa begitu kalau sudah ada keterbukaan dan partisipasi publik soal info apa saja?

Pemahaman publik tadi masih butuh waktu. Sama halnya dengan teror 3 juta 1965 masih banyak yang belum paham soal tipu muslihatnya yang mengeruk triliunan dolar itu, walaupun sudah berlangsung setengah abad lebih. Bahkan masih banyak yang semangatnya masih menyala-nyala untuk membakar buku komunis. Betapa jauh ketinggalan berpikirnya.

Terlepas dari permainan rontaan sekarat yang berisiko tinggi ini, kegelapan jelas sudah tidak bisa dikembalikan. Era Keterbukaan sudah tiba dan akan berlanjut untuk ‘selama-lamanya’, walaupun belum semua terbuka matanya, tetapi arahnya sudah pasti.






Leave a Reply