Kolom Eko Kuntadhi: ZUBAIDAH HANYA JEBOLAN KELAS 3 SD

1
301

Siti Zubaidah istri Almarhum Zoya hanya jebolan kelas 3 SD. Sedang hamil enam bulan ketika suaminya mati mengenaskan dibakar warga karena dituduh mencuri Amplifier sebuah mushola. Dia sedang hamil anak keduanya. Sedangkan anak pertamanya baru berusia 5 tahun.

Saat suaminya mati mengenaskan ada sebuah lembaga pengepul sedekah yang membuka kampanye sedekah untuk keluarga Alhamrhum Zoya. Dana sedekah terkumpul Rp 650 jutaan lebih.

Kata berita yang beredar, Rp 250 juta akan diberikan kepada Zubaidah dalam bentuk sebuah rumah. Lalu sisanya sekitar Rp 400 juta, katanya, atas dasar kemauan Zubaidah disumbangkan lagi pada yayasan pengepul sedekah itu.

Jadi Rp 650 juta itu adalah hak ahli waris almarhum karena orang menyumbang memang untuk membantu keluarga lelaki bernasib tragis tersebut. Tapi istri almarhum hanya mau mengambil Rp 250 juta, itupun dalam bentuk rumah yang akan dicarikan oleh pengepul sedekah tersebut. Katanya, dia menolak –dengan cara menyumbangkan kembali ke pengepul sedekah itu– justru sebagian besar haknya yang lain, Rp 400 juta.




Ok, katakanlah sebuah rumah seharga Rp 250 juta akan diberikan kepada Zubaidah. Meskipun setelah beberapa bulan, belum ada kejelasan yang pasti. Yang ada malah berita simpang siur. Ada berita yang katanya sudah disiapkan rumah di daerah Pekayon, tapi Zubaidah menolak karena tidak terbiasa hidup di komplek perumahan.

Ini jelas agak lucu. Membelikan rumah kepada seorang perempuan malang yang polos di lokasi yang jauh dari tempat tinggalnya sekarang? Itu sama dengan menyengsarakan hidupnya. Sekarang justru dia lebih butuh tempat berteduh yang dekat dengan keluarganya.

Lalu ada berita lagi, rumahnya sedang direnovasi. Sebentar lagi akan diberikan kepada Zubaidah. Yang mencarikan rumah adalah para pengepul sedekah itu juga.

Tapi pertanyaan besarnya sekarang adalah apakah hidup Zubaidah lalu selesai dengan hanya sebuah rumah?

Bukankah justru masalah real yang dihadapi oleh Zubaidah adalah bagaimana hidup kedua anaknya kelak tanpa suami yang menafkahinya. Sementara dia sendiri hanya perempuan dusun lulusan kelas 3 SD dan sedang hamil tua.

Lalu kenapa justru uang yang Rp 400 juta itu disumbangkan kembali? Apakah Zubaidah benar-benar tidak membutuhkan uang itu padahal anaknya harus makan, hidupnya harus berlanjut dan dia harus melahirkan bayinya?

Jikapun Zubaidah begitu heroik menyumbangkan kembali hak-nya tersebut, kenapa justru pengepul sedekah yang budiman itu tidak memberikan perspektif bahwa Rp 400 juta yang memang hak-nya Zubaidah lebih penting digunakan olehnya untuk kelangsungan masa depan Alif dan adiknya, ketimbang harus disumbangkan lagi.

Lantas kenapa mereka malah menerima dengan suka-cita sumbangan Zubaidah?

Saya kok merasa, ada yang agak aneh. Tidak logis orang yang masa depannya saja tidak tahu harus mencari nafkah dari mana, tapi malah menyumbangkan hak-nya kepada orang lain lagi. Anak-anaknya saja belum tentu besok makan apa, malah dia tidak mau mendapatkan haknya. Tidak logis juga lembaga pengepul sedekah itu malah menerimanya dengan senang hati. Padahal orang yang duduk di lembaga itu mungkin para ustad, pintar ngomong, suka mengutip-ngutip Al Quran, pakai baju koko dan kopiah kemana-mana.

Atau jangan-jangan?

Ah, sudahlah. Zubaidah memang hanya lulusan kelas 3 SD…










1 COMMENT

  1. Kalau rumahpun tidak ditempati, akhirnya tidak ada bantuan kepada Zubaidah. Rumahpun bisa jatuh kembli ketangan pengepul dana, Licik memang lembaga pengepul ini, Menangguk di air keruh, memanfaatkan jebolan SD kelas 3. yang bernasib malang.

    Ayo semua tetangga gerakkan media sosial mencerahkan semua persoalannya.

    MUG

Leave a Reply