Bahwa harus diakui Presiden Jokowi sangat piawai dalam memainkan perannya, yang kemudian dengan seketika “diberi stampel” oleh sebagian besar masyarakat Indonesia sebagai pemimpin yang sederhana dengan orientasi kerja yang berfokus pada hasil dalam bentuk nyata.


Selain dari itu, terobosan-terobosan di bidang pembangunan dan ekonomi pun perlu diapresiasi secara positif. Pergerakan politik praktisnya pun juga harus diacungi jempol. Predikat miring yang mengatakan beliau bisa “disetir” oleh partai, kandas. Bagaimana tidak?

Tidak? Politisi senior sekaliber Megawati saja dibuat tak berkutik olehnya dengan cara yang sungguh sangat santun sehingga Mega pun tidak merasa “kehilangan muka”. Jokowi adalah sosok politisi satu-satunya di Tanah Air yang “bermain” dengan gaya solo karir.

Namun, tak ada gading yang tak retak. Fakta membuktikan bahwa di era beliau yang notabene Era Reformasi, hukum harus terkubur a/n stabilitas nasional. Padahal, hitung-hitungan politiknya masih bisa bermanuver jika memang merasa ada salah hitung di awal.

Hal itu terbukti dalam kasus Ahok. Trial by mob sudah dipastikan bertentangan dengan rule of law. Ini sangat membahayakan demokrasi dimana sumber legitimasi hukum telah bergeser dari kedaulatan rakyat yang dijalankan berdasarkan UUD menjadi kedaulatan kerumunan yang mengingkari prinsip-prinsip sebuah negara hukum. Due process of law dalam penegakan hukum tidak pernah dilakukan.

Akhirnya, saya harus berharap, apabila beliau terpilih kembali untuk periode ke duanya, pembenahan di bidang hukum menjadi target utama.

#Salam “Berpikir Gila”








Leave a Reply