Saat kuliah, saya beribadah di Gereja HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) di ibadah pagi yang berbahasa Indonesia. Di jadwal pagi ini sebagian besar yang beribadah itu pelajar atau mahasiswa/i yang koster di sekitar gereja. Di warta pada selebaran yang biasa ditaruh di meja dekat pintu (kadang dibagikan), ada saya baca tertulis di sana jadwal ibadah berbahasa Batak.

Di media-media juga tidak jarang saya baca tulisan adat Batak, budaya Batak, dan bahasa Batak. Bahkan di pergaulan sehari-hari tidak sedikit saya temui bahkan teman saya sendiri banyak orang Batak.

Dari kesemuaan yang saya temui itu, hal-hal yang berkaitan dengan Batak, kesemuanya terhubung terbatas dengan par-Samosir, par-Humbang, par-Silindung, dan par-Toba. Sedikit sesekali terhubung dengan Simalungun ataupun Mandailing.




Kemudian, setelah usai kuliah, saya pulang ke rumah dan kembali aktif di GBKP.

Berbeda dengan HKBP, di GBKP jarang sekali saya temui hal-hal mengenai Batak. Misalnya, bahasa, di tiap literatur yang dikeluarkan oleh GBKP selalu ditulis Bahasa (cakap) Karo. Demikian dengan kata ‘adat’, ‘budaya’, atau menunjuk ke orang Karo (kalak Karo). Aneh juga ya. Selain judul (kops surat) hampir tidak ada kita temui kata “batak” di GBKP.

Dalam perkembangan diskusi/ debat mengenai KBB (Karo Bukan Batak), tidak jarang saya temui teman-teman yang anti-KBB mengatakan “suku, adat, dan bahasa Batak itu tidak ada.”, atau, “Batak itu bukan suku”, atau juga, “Batak bentukan Belanda.”

Pernyataan ini mereka munculkan untuk mematahkan argumen Karo bukan Batak, atau untuk mematahkan kalau dikatakan Batak itu merupakan keturunan Si Raja Batak (versi Tarombo Batak). Sehingga Karo dapat mereka selipkan di situ. Atau untuk membenturkan para penggiat KBB agar saling benci dengan orang Batak.

Pernyataan-pernyataan mereka ini jelas berpotensi menimbulkan kegaduhan, atau sadisnya menyakiti hati saudara kita Suku Batak. Mengapa?

Keluarga Suku Karo berbusana Suku Karo

Karena mereka Suku Batak dan percaya akan Si Raja Batak sebagai leluhurnya, menjalankan adat Batak, dan kesehariannya berbahasa Batak. Namun, dengan gampang dan teganya ada yang bilang Suku Batak itu tidak ada! Adat Batak itu tidak ada! Bahasa Batak itu tidak ada!

Jangan karena Anda anti-KBB, lantas mengingkari keberadaan dan eksistensi mereka. Atau menebar kebohongan.

Jadi, saran saya, hendaklah dalam mematahkan argumen itu dipikiri dulu. Jangan karena Anda bernafsu mematahkan argumen KARO BUKAN BATAK, lantas dengan seénaknya bilang suku, adat, dan bahasa Batak itu tidak ada.

Kalau saya, percaya dan merasakan kalau suku, adat, dan bahasa Batak itu ada. Karena sudah saya lihat, dengar, dan rasakan di sekitar saya. Dan saya percaya, jauh sebelum Kolonial Belanda berkuasa di Sumatera, rumpun Batak (yang terdiri dari Toba, Samosir, Humbang, dan Silindung) itu ada dan sudah ada.




Di mana peran Belanda? Memperluas kategori Batak itu. Jadi, Belanda tidak pernah menciptakan Batak, namun memperluas kategori Batak dan memperkenalkannya ke dunia.

Jadi, stop bilang Batak tidak ada atau Batak itu ciptaan Belanda.

Mejuah-juah.
Salam Karo Bukan Batak.

FOTO HEADER: Orang-orang dari Suku Batak berbusana Suku Batak

Kepustakaan gamblang tapi nyata:

  1. Oka HUtabarat, SUKU BATAK.
  2. Komposisi suku-suku di Sumut menurut DPRD Sumut.







Leave a Reply