Bakar dulu, baru petik keuntungan. Begitulah mungkin motto Yansen Binti. Anggota DPRD Kalimantan Tengah dari Partai Gerindra ini dicokok polisi karena membakar 7 sedung SD dari 10 sekolah yang direncanakan. Tujuannya satu: Jika sekolah-sekolah terbakar, maka akan ada anggaran untuk pembangunannya. Lalu dia berharap proyek itu jatuh buat dirinya atau koleganya.

Yansen tidak berfikir, ketika gedung-gedung sekolah itu ludes dan untuk membangunnya butuh proses tidak sebentar, lantas bagaimana nasib anak-anak yang sekolahnya kini hangus? Bagaimana kegiatan belajar-mengajar mereka?

Ohh, Yansen tidak peduli soal itu. Mau anak-anak itu putus sekolah kek, mau bodoh, kek. Bukan urusannya. Yang dia tahu duit dari proyek pembangunan bakalan masuk ke kantongnya. Toh, jabatan Yansen cuma anggota DPRD. Cuma wakil rakyat dari Partai Gerindra.




Kita tentu saja kaget dengan ulah Yansen. Kok ada pejabat publik berfikiran begitu? Tapi, jangan kaget. Mungkin saja Yansen belajar dari koleganya yang lain.

Di Jakarta kemarin, waktu Pilkada, logika model Yansen juga diterapkan. Bakar dulu suasana Jakarta, setelah itu baru petik keuntungan politiknya. Maka rakyat dibakar emosi keagamaanya dengan memainkan semua jurus memecah belah. Al Quran dikutip-kutip untuk kampanye. Mimbar-mimbar Jumat penuh hujatan. Kebencian rasial dikobarkan.

Masjid-masjid menolak sholat jenazah sesama muslim. Persekusi dan ancaman dilakukan. Demo besar-besaran digelar berjilid-jilid. Ketika strategi itu berhasil mengacaukan publik, mereka tinggal memetik keuntungan politiknya.

Bagaimana hasilnya? Bagus. Toh, kandidat yang menggunakan strategi seperti ini akhirnya menang.

Sebetulnya strategi model begini sudah dilakukan pada Pilpres 2014 kemarin. Segala isu dan fitnah beredar hingga menimbulkan kebencian dalam masyarakat. Berita-berita hoax menjamur. Bukan hanya isu yang beredar dari mulut ke mulut, tetapi merupakan sebuah orkestra yang direncanakan dengan matang. Untung saja waktu itu rakyat Indonesia masih lumayan cerdas sehingga tidak mau memilih pemimpin yang seideologi dengan Yansen : merusak dulu, ambil untung kemudian.

Tapi rupanya strategi merusak tidak juga berhenti. Lihat saja model kerja kelompok seperti Saracen yang gemar menyebarkan hoax dan fitnah. Selain Saracen ada banyak cacing kremi yang kerjanya membakar-bakar emosi publik. Baik lewat media sosial, group-group WA, atau kasak-kusuk di rumah-rumah ibadah.

Pada posisi di atas beberapa pimpinan DPR juga terus koar-koar dengan bahasa yang bernuansa kebencian agama. Para politisi afkiran juga terus menerus memainkan isu dan jurus yang sama. Ustad-ustad menyuburkan provikasi serta menyebarkan gambar hoax untuk membakar emosi umat. Bahkan isu luar negeri seperti Rohingya ditunggangi untuk kepentingan kelompoknya.

Apa target mereka? Agar bangsa ini saling cakar dengan kebencian. Setelah itu, mereka berusaha memetik keuntungan dari kekacauan tersebut. Ini sepertinya strategi untuk Pemilu 2019.

Kenapa mereka perlu melakukan pembakaran emosi masyarakat, baik dengan isu agama maupun rasial? Padahal langkah seperti itu sangat berbahaya bagi Indonesia. Negara ini bisa berkeping-keping karena ulahnya tersebut.

Oh, mereka tidak peduli dengan itu, sama seperti Yansen yang tidak peduli dengan nasib anak-anak sekolah yang gedungnya hangus dibakar.

Sama seperti Yansen yang berharap mendapat proyek pembangunan sekolah yang dibakarnya. Mereka juga berharap dapat memenangi persaingan politik pada 2019 dari Indonesia yang porak-poranda dilanda kebencian agama dan rasial. Pilkada Jakarta sudah bisa dijadikan contoh keberhasilan strategi model Yansen ini. Kebetulan juga Anies-Sandi juga didukung oleh partai dimana Yansen berteduh.

Ada yang bilang ini strategi model loot of burning house atau merampok rumah yang terbakar. “Bapak ibu kita mengajarkan kita, Nak belajar yang baik. Jadi orang yang baik. Kalau besar jadi orang baik membantu orang, membantu tetangga. Kalau strategi tidak begitu. Kalau perlu kau rampok tetanggamu yang sedang kesusahan,” kata seorang mantan Jenderal yang dipecat, pada pidatonya tahun 2004.

Mungkin Yansen belajar dari sana. Juga orang-orang lainnya. Toh, satu guru, satu ilmu, bisa saling belajar.








Leave a Reply