Sampurasun Kang Deddy, ya. Gini, Kang. Ketika ada berita bahwa engkau dianggap musrik, dianggap kufur, bahkan yang lebih tragis lagi engkau dianggap dan dituduh memakai Budaya Sunda untuk sesuatu hal yang paling sangat berdosa, dosa itu dianggap dosa besar dan tak terampuni. Tiba-tiba sosokmu hadir menemani ngopi di pagi hari ini, Kang.

Seperti biasa, engkau tetap memakai ikat kepala. Itu tradisi ya, Kang? Jujur sebagai anak bangsa saya suka dengan pemimpin yang tetap menjaga nilai budaya negeri ini. Bukan hanya suka, tapi bangga, Kang. Memang budaya yang “adiluhung” negeri ini juga tidak kalah hebat dari budaya negeri dari para penghuni kadal gurun.




Budaya negeri ini yang secara umum mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan untuk mencintai sesama, menghormati perbedaan dengan tenggang rasa, mencintai alam, yang di sana ada gunung, sungai, hutan dan gemericik air, adalah sebagai bukti tradisi leluhur negeri ini juga merefleksikan diri percaya kepada Sang Khalik. Kepada Sang Penguasa Alam.

Itu jika saya melihat diri anda dari manusia berbudaya, Kang Deddy.

Dalam page akun FB, saya mengikuti anda. Saya suka, Kang. Bagaimana ketika engkau membantu seorang pedagang es cendol dengan bantuan modal. Bagaimana ketika engkau menggendong nenek-nenek, bagaimana engkau juga membantu membuatkan rumah seorang janda tua. Yang lebih dasyat, ketika engkau harus repot-repot datang dari Purwakarta ke Bekasi dan tanpa basa basi menolong dan membantu keluarga sahabat kami MOZA.

Lalu, ketika engkau baru mau dicalonkan untuk Jabar 1, tiba-tiba engkau juga akan di-Ahok-kan.

Kang, meski saya bukan warga Purwakarta, namun sebagai anak bangsa, sangat hormat kepada pemimpin yang tetap memegang teguh warisan leluhur yang nyatanya tidak tergerus oleh zaman karena mengedepankan budi pekerti, mengajarkan rasa asih, rasa welas terhadap sesama. Ya kan, Kang?

Jangan takut, Kang. Budaya kita lebih baik dibanding budaya kadal gurun.

Yang jadi soal, ketika orang baik seperti anda, yang juga mempunyai nabi yang sama, yang mempunyai kitab yang sama. Lalu dikatakan musrik karena anda mencintai budaya sendiri, apa gak nasib, ya, Kang?

Boleh saya bisiki, Kang?

“Jika saja anda punya jenggot, pakai jubah, apalagi berjidat hitam, kira-kira dianggap musrik gak, ya?”

Gak usah dijawab, Kang……








Leave a Reply