Apakah sex adalah sebuah aktivitas yang “kotor”? Menurut pakarnya, sex ternyata adalah aktivitas yang menyenangkan sekaligus sanggup memberikan effek “rileks” bagi mereka yang tahu bagaimana menggunakan “tools” sex dengan baik sekaligus bertanggungjawab.

Tapi sex dalam bahasa religious tidak demikian. Sex adalah sesuatu yang “tabu” dan hanya bisa diakses jika sudah mendapatkan “ijin” dari otoritas religious macam “pengadilan agama” atau dalam level yang paling rendah adalah “KUA”. Di luar lembaga itu, aktivitas sex menjadi sangat “menyeramkan” karena harus dilakukan dengan cara sembunyi-sembunyi.




Dalam konteks ini, kucing, anjing, kuda, sapi, dan species lainnya jauh lebih baik dalam urusan sex karena, ketika mereka berhasrat, bisa langsung dituntaskan di tempat kejadian perkara. Sementara manusia sedikit lebih ribet, karena mereka harus menciptakan sebuah “skenario” untuk sampai pada adegan yang biasanya tidak menghabiskan lebih dari 2 menit, jika anda beruntung.

Betapa hal-hal yang natural ini begitu menyiksa species manusia yang masih terkurung dalam wilayah kuasa otoritas, bahkan nenek moyang kita dimasa lalu jauh lebih bisa menikmati sex yang alamiah, mereka tidak terlalu “tabu” dengan berbagai aturan yang mengikat yang bersembunyi di balik moralitas palsu yang diciptakan untuk mengurung hasrat alamiah semua species.

Padahal, jika dia dibebaskan dengan cara yang bertanggungjawab dan elegant, sex bisa menjadi jawaban atas tingginya tensi manusia di bawah tekanan hidup yang menyebalkan, manusia-manusia yang sedikit lebih rileks, bukan manusia-manusia yang bertegangan tinggi ketika diajak untuk membicarakan hal-hal yang sifatnya politik, apalagi politiknya model politik identitas.

Sex dalam bahasa biologi adalah sesuatu yang given, tidak bisa diambil oleh siapapun, termasuk “katanya” yang si maha pemberi kenikmatan.

“Is sex dirty? Only when it’s being done right.” ― Woody Allen

#Itusaja!








Leave a Reply