Pagi ini saya kaget ketika membaca berita, temanku Indra J. Pilliang ditangkap polisi karena narkoba. Dia ditangkap di sebuah tempat karaoke di daerah Taman Sari dengan bukti beberapa gram shabu. Kata polisi, urine Indra positif narkoba.

Saya bingung. Bagaimana seorang yang cukup cerdas, kritis, politisi muda juga mantan aktivis Islam ini kok, bisa terjebak di dunia itu?




Saya mengenal Indra saat mahasiswa. Ada masa ketika saya bolak-balik main ke kosannya di sekitar Pondok Cina bersama teman-teman lainnya. Dia hobby diskusi dengan tema yang berat-berat. Saya sendiri cuma hobi becanda.

Saya juga dengar nama IJP (begitu dia akrab disapa) ketika maju sebagai calon independen Bupati Pariaman. Saya terakhir bertemu Indra sekitar 6 tahun lalu. Waktu itu dia sedang naik daun, jadi pembicara di mana-mana. Tulisannya tersebar di media-media ternama. Bagi saya Indra adalah penulis yang prolifik, cerdas, kritis dan bangunan argumennya mantap.

Dia juga memilih nyemplung ke partai politik. Pilihannya Golkar. Dari twit-twitnya, dia membeberkan alasan memilih Golkar dan kenapa seorang aktivis harus masuk ke partai politik. Ketika kampanye Pilpres 2014, Indra memilih berbeda dengan partainya. Dia ada di kubu Jokowi, sementara Golkar di bawah Ical habis-habisan bertarung untuk Prabowo.

Pada Pilkada 2017 Indra kembali berbeda dengan partainya. Golkar mendukung Ahok dan Indra menjadi pendukung Anies yang militan.

Mungkin karena seringnya berbeda kubu dengan partainya sendiri, Indra menjuluki dirinya sebagai Ronin. Dalam kisah ksatriya Jepang, Ronin adalah sebutan para samurai yang tidak punya tuan.

Pada momen Pilkada Jakarta itulah saya sering mengikuti IJP terlibat twitwar dengan banyak orang. Kadang membaca cuitannya saat itu, saya agak kaget. Indra yang dulu santun kini sering menuliskan sesuatu yang merendahkan lawan bicaranya. Ada kesan menyombongkan diri dalam cuitannya. Di mata saya dia seperti kehilangan kepekaan dengan apa yang dituliskan.

Saya sendiri tidak pernah bersentuhan langsung dengan Indra baik di twiter maupun di FB. Kami memang berteman, tapi mungkin karena saling memahami pilihan politik masing-masing, lebih baik tidak saling sahut di medsos.

Pagi ini saya sedih, Indra yang saya kagumi, terjaring kasus narkoba. Meski sering berbeda pandangan politik, Indra adalah teman saya. Saya sendiri tidak pernah bermasalah dengan teman-teman yang berbeda pandangan politik. Setahu saya, Indra juga cukup rasional untuk tidak gila-gilaan menggunakan isu agama dalam kampanye Pilkada lalu.

Teman saya yang berbeda pandangan politik bukan hanya Indra.Ada banyak teman lainnya yang memiliki pandangan yang berseberangan. Di mata saya, mereka hanya memainkan peran politiknya saja. Saya juga begitu.




Selain Indra, ada juga teman saya yang pernah ditangkap karena kasus Makar, namanya Rizal Kobar. Dia akhirnya dikenakan tuduhan ujaran kebencian. Berbeda dengan Indra, Rizal adalah operator yang sangat aktif. Bahkan namanya sering disangkut-pautkan dengan Saracen.

Tapi, ya, itulah kehidupan. Pada akhirnya setiap orang memilih jalannya sendiri-sendiri. Apalagi soal politik. Saya sendiri lebih mensibukkan diri menghalau politisasi agama. Menurut saya, jika agama selalu dijadikan bahan tunggangan politik akan menjadi persoalan berbahaya bagi bangsa ini ke depan. Meskipun, saya harus berbeda dengan banyak teman saya sendiri.

Sekali lagi hidup adalah pilihan. Setiap pilihan memiliki konsekuensinya masing-masing. Pada akhirnya hidup kita ditentukan dari jalan yang kita pilih.










Leave a Reply