KPK Tidak Boleh Dilemahkan:

Keteggasan Jokowi Bikin Pembencinya Ketar Ketir

 

Hampir 4 tahun sejak kasus Cicak vs Buaya, KPK diobok-obok, digencet dan dicoba dihancurkan. Tetapi, KPK tetap eksis, sakti dan menakutkan. Di era Presiden Jokowi, KPK semakin berkibar. Operasi Tangkap Tangan (OTT) kerap dilakukan. Para pejabat, petinggi partai, anggota DPR beserta ketuanya dan para pengusaha hitam, dibabat terus oleh KPK. Tak heran jika perlawanan balik para koruptor semakin sengit.

Jokowi dengan revolusi mentalnya, punya mantra sakti yang membuat lawan KPK hingga ini linglung. Setiap saat ada serangan kepada KPK, Jokowi selalu mengelurkan kata saktinya.




“KPK jangan dilemahkan tetapi dikuatkan”.

Kata-kata itu selalu mendesis, mendengung dan membahana di telinga lawan maupun kawan. Perhatikan baik-baik kementar Jokowi jika ia mendengar ada serangan kepada KPK. Ia selalu mengatakan: “KPK jangan dilemahkan tetapi dikuatkan”. Hanya dengan kalimat itu, lawan mati kutu dan masyarakat percaya dimana posisi Presiden Jokowi.

Ketika Polri menetapkan para pimpinan KPK, Bambang Widjajanto dan Abraham Samad sebagai tersangka dengan kasus ‘rekayasa’, Jokowi mengeluarkan kata saktinya: “KPK jangan dilemahkan tetapi dikuatkan”. Demikian juga ketika penyidik senior KPK Novel Baswedan mau ditahan oleh Polri ketika itu, Jokowi terus mengeluarkan kata saktinya: “KPK jangan dilemahkan tetapi dikuatkan”. Setelah itu pimpinan baru KPK terbentuk dan tetap sakti.

DPR yang menjadi institusi terkorup di Indonesia, merasa sangat terganggu dengan keberadaan KPK. Lalu Fahri Hamzah, Fadli Zon terus berkoar memimpin DPR untuk merevisi Undang-undang KPK. Tujuannya agar wewenang KPK disunat habis. Dengan demikian KPK akan terlihat macan ompong dan anggota DPR akan bebas melakukan korupsi. Tetapi lagi-lagi Jokowi mengeluarkan kata-kata saktinya: “KPK jangan dilemahkan tetapi dikuatkan”. Revisi UU KPK pun gagal, DPR gigit jari.

DPR pun kebakaran jenggot ketika KPK semakin berani dan mengobok-obok mereka termasuk ketuanya terkait kasus mega korusi e-KTP. DPR kemudian membuat Pansus KPK dengan tujuan akhirnya membekukan KPK dan membubarkan KPK. Tetapi kata-kata sakti Jokowi terus meluncur: “KPK jangan dilemahkan tetapi dikuatkan”. Kalimat itu pun mampu membuat Pansus KPK DPR linglung. Apalagi Ketua KPK (Agus Rahardjo) mengeluarkan jurus pasal menghalangi penyidikan (obstruction of justice) kepada Pansus.

Ketika politisi PDIP (Henry Yosodingingrat) meminta KPK agar dibekukan, lagi-lagi Jokowi lewat orang istana, menyampaikan kata sakti: “KPK jangan dilemahkan tetapi dikuatkan”. Hasilnya, pejabat tinggi PDIP meralat langsung ucapan Henry itu dan mengatakan bahwa pernyataan itu bukan sikap partai.

Beberapa hari yang lalu, Jaksa Agung (Prasetyo) melontarkan kata-kata blunder dengan mengatakan bahwa sebaiknya wewenang penuntutan KPK diserahkan kepada Kejaksaan seperti di Malaysia dan Singapura. Namun Jokowi mengirim Luhut Panjaitan untuk menyampaikan kata saktinya lagi: “KPK jangan dilemahkan tetapi dikuatkan”. Prasetyo pun ketakutan dan buru-buru meralat ucapannya.




Kata sakti Jokowi “KPK jangan dilemahkan tetapi dikuatkan” terus diulang-ulang. Kata-kata itu pun terus diulang-ulang sebagai respon baku kepada pihak-pihak yang melemahkan KPK. Ketika perlawanan kepada KPK semakin meningkat, Jokowi juga mulai merubah kata saktinya: “Saya tidak akan membiarkan KPK dilemahkan”.

Sepertinya Pansus KPK dari DPR tidak berani memanggil Presiden Jokowi. Malah sebaliknya Pansus KPK mulai membuat alasan konsultasi agar bisa bertemu Presiden Jokowi. Sudah pasti jika Pansus KPK bertemu dengan Presiden Jokowi, maka kata-kata saktinya kembali meluncur: “KPK jangan dilemahkan tetapi dikuatkan”. Bila Pansus meronta dan merengek, Jokowi akan mengubah kata saktinya menjadi: “Saya tidak akan membiarkan KPK dilemahkan”.










Leave a Reply