Pertengkaran kedua cara pandang ini telah berlangsung sejak manusia pertama kali melewati “Revolusi Kognitif” hingga memasuki era Revolusi Informasi dewasa ini. Akar problemnya juga sederhana, bahwa hidup bagi mereka yang akal sehatnya tersumbat oleh dogma sejak lahir, selalu sinis memandang realitas.

Bagi mereka, semua yang ada saat ini hanyalah sementara belaka, karena tidak ada yang kekal abadi selain kematian itu sendiri.




Tidak heran jika kita sering mendengar filsafat “hidup hanya numpang boker”. Filsafat hidup semacam inilah yang kemudian membuat mereka sinis, apapun yang dikerjakan seolah tidak ada makna, sehingga mereka malah berlomba-lomba untuk menumpuk harta “kebaikan” untuk dipersembahkan kepada Tuhan sebagai pemilik hidup yang sah dan tidak bisa diprotes.

Dari sinilah semua itu berawal, sehingga penampilan “seolah-olah” menjadi realitas. Malah lebih parah dari semua itu, mereka menjadi objek exploitasi dari mereka yang doyan main cap sebagai pemilik sertifikat alam ghoib.

Si pemilik sertifikat yang kemudian kita kenal dengan nama “otoritas” sebagai Wakil Tuhan di atas muka bumi, merekalah yang kemudian menjadi tuan atas budak-budak yang menolak untuk menggunakan akal sehatnya. Ideologi kematian menjadi sesuatu yang favorit, karena janji-janji sorga yang menggiurkan.

Wanita, pria, dan anak-anak menjadi target utama untuk jualan kehidupan setelah kematian. Padahal, dalam perspectif biologis kematian, artinya berhentinya fungsi-fungsi jaringan otak oleh waktu, ibarat komputer yang softwarenya expired.

Jadi, ideologi kematian hanya bekerja pada otak yang berhenti bertanya.

Sementara ideologi kehidupan sangat berbeda 360°. Bagi saya, hiduplah yang perlu dirayakan dengan suka cita, karena hidup kita bisa mengekspresikan apapun yang melintas dalam batas imaginasi kita sebagai manusia.

Jangankan Tuhan dengan berbagai janji manisnya, apapun yang bisa kita bayangkan exist. Itulah kekuatan dari pikiran manusia. Dan, semua ITU hanya bisa terjadi saat kita hidup.

#Itudulu!








Leave a Reply