Bantuan kemanusiaan Jokowi kepada pengungsi Rohingya disebut pencitraan oleh Prabowo. Pertanyaannya mengapa tindakan membantu Rohingya itu disebut pencitraan oleh Prabowo?

Nalar saya meronta-ronta dan berdenyut-denyut mencari jawabannya. Setelah menyeruput segelas daun pepaya pahit, saya menemukan jawabannya.

Pertama, ketika Menlu Retno sukses bertemu dengan Aun San Suu Kyi dan Jenderal Min Aung, dunia internasional memuji langkah diplomasi Jokowi. Padahal kubu Prabowo sudah sangat berharap Myanmar menolak kedatangan Menlu Retno.




Jika utusan Jokowi ditolak, maka kubu Prabowo akan mengolok-olok diplomasi Presiden Jokowi. Citra Jokowi pun akan turun. Tetapi yang terjadi adalah Menlu Retno selfi bersama Aun San Suu Kyi dan Jenderal Min Aung.

Tidak lama kemudian Survei CSIS dirilis dengan tingkat elektabilitas Jokowi terus menanjak sementara Prabowo stagnan. Terbayang nggak hati Prabowo melihat kenyataan itu? Hatinya luka teriris-iris. Sakitnya tuh di sini hehe.

Ke dua, belum sempat sakit hati itu sembuh, dengan segera Jokowi melumuri luka hati Prabowo dengan garam. Jokowi selfi di depan pesawat-pesawat Hercules yang mengirim bantuan kemanusiaan dari Indonesia kepada Myanmar. Foto-foto Jokowi pun menghiasi headline berbagai media. Citra Jokowi berkibar. Sementara Prabowo? Tak ada berita.

Saat yang tepat ditunggu Prabowo. Hari yang dinanti pun tiba. Bersama Amin Rais, Prabowo hari ini ikut aksi bela Rohingya. Di sana Prabowo duet dengan Amin Rais berseru menghilangkan perih luka hatinya: “Bantuan yang dikirim Jokowi adalah pencitraan.”

Bah, itu tidak cukup. FPI tambahkan: “Kalau tidak dizinkan Presiden Jokowi ke Myanmar, senjata polisi dan TNI serahkan kepada FPI. FPI siap ke Myanmar”. Lalu siapa yang melatihnya?

“Jenderal Kopasus,” pinta FPI.

Kembali saya minum air rebusan daun pepaya. Lalu, saya tersadar bahwa kini nalar jenderal sudah mulai bocor karena terlalu lama menunggu kapan menjadi presiden. Prihatin nalar jenderal mengikuti nalar FPI yang minta senjata TNI Polri diserahkan kepada mereka, bocor… bocor…








Leave a Reply