“Bantuan pemerintah untuk Rohingya itu cuma pencitraan,” ujar Prabowo di depan masa. Masa menyambutnya. Berteriak takbir berkali-kali. Seperti mau jihad ke Syuriah.

Tapi yang pasti, dari kata-kata itu terselip pengakuan bahwa pemerintah Jokowi memang sudah membantu Rohingya dengan caranya. Bantuan dikirimkan. Lobby diplomatik dilakukan dengan gencar. Pengungsi ditampung. Sekolah dan rumah sakit pun dibangun.

Lantas apa lagi? Sebetulnya, sebagai sebuah negara, bantuan Indonesia itu cukup berarti. Ketika negara-negara lain cuma sibuk teriak-teriak, Indonesia bergerak. Sebab tragedi Rohingya tidak cukup ditangani dengan memaki. Tragedi Rohingya harus ditangani dengan kerja nyata.




Pesan yang ingin disampaikan Prabowo adalah pengakuan bahwa pemerintah sudah bekerja untuk pengungsi Rohingya. Pesan itu yang jelas dia sampaikan di depan pendukungnya. Bahwa ujung dari pesan itu dia mengkritik pemerintah dengan kata pencitraan, ya gak apa-apa. Emang bisanya cuma segitu. Yang pasti justru kata-kata itu menjadi sebuah pengakuan bahwa pemerintah sudah bekerja. Sudah membantu rakyat Rohingya.

Soal pencitraan atau bukan, bagi Rohingya gak penting. Bagi warga Rohingya tindakan nyata jauh lebih berarti ketimbang cuma teriak petantang-petenteng.

Mau pencitraan kek, mau pendodolan kek, yang penting kirim bantuan dan usaha diplomatik untuk menekan pemerintah Myanmar agar kekerasan dihentikan. Itu sudah dilakukan Indonesia. Prabowo aja mengakui, kok.

Saya sih, membaca ucapan Prabowo sebagai pesan orang minder yang akal sehatnya mengakui kehebatan lawan politiknya. Tapi karena keminderannya, dia harus mencari kata yang seolah tidak mengakui prestasi itu. Maka ditemukanlah kata pencitraan.

“Mbang, kalau membantu Rohingya disebut pencitraan. Kalau membakar 7 gedung sekolah itu namanya apa, ya?” tanya saya iseng kepada Bambang Kusnadi.

“Kalau membakar sekolah mah, cuma dianggap becanda doang, mas. Mereka becandanya emang gitu. Suka bakar-bakaran.”








Leave a Reply