Alam semesta tidak diciptakan. Sampai saat ini misteri kehadiran alam semesta masih menjadi pertanyaan serius di kalangan Ilmuan. Istilah “penciptaan” jelas bermasalah dilihat dari perspektif Ilmiah –

Oleh: Archer Clear

 

Alam semesta tidaklah sefana yang dibayangkan oleh manusia. Klaim penciptaan alam semesta oleh para agamawan telah dibantah berulang-kali oleh temuan-temuan ilmiah dari para ilmuan yang konsen meneliti alam semesta dengan 2 pendekatan. Pertama, pendekatan Relativitas Einstein dan yang ke dua adalah pendekatan Quantum Mechanic lewat prinsip Uncertainty.

Pertanyaan seputar bagaimana alam semesta berawal, masih menjadi misteri yang terus menerus coba dijelaskan oleh para Ilmuan mutakhir dewasa ini.

Para ilmuwan dan filsuf yang mencari jawaban dengan kecerdasan dan akal sehat mereka sampai pada kesimpulan bahwa rancangan dan keteraturan alam semesta merupakan bukti keberadaan Pencipta Mahatinggi yang menguasai seluruh jagat raya.- Ernia Elaine Deep (konsep penciptaan alam semesta menurut sains dan Islam.




Kesimpulan yang ditulis secara menyakinkan oleh Ernia Elaine Deep bahwa “Rancangan dan keteraturan alam semesta merupakan bukti keberadaan “pencipta” maha tinggi yang menguasai seluruh jagat raya”, klaim ini bukan hanya bombastis tapi begitu “pongah”. Padahal, secara tidak langsung dia menyebut “para ilmuan dan filsuf”, sementara faktanya ilmuan dan philosopher hingga saat ini masih terus mempertentangkan berbagai konsep yang lahir untuk menjawab pertanyaan “purba” soal penciptaan.

Dengan menggunakan dalil-dalil Al-Quran EED mencoba meyakinkan pembacanya bahwa apa yang dicapai oleh para ilmuan dan Filsuf sudah dijelaskan jauh sebelumnya oleh Al-Quran. Padahal, jika ditelusuri dengan pendekatan yang sederhana, baik Ilmuan maupun Philosopher sama sekali tidak mendasarkan argumen-argumen ilmiahnya pada Al-Quran, tapi pada metode empirical experiment. Ini menjadi bukti bahwa EED hanya membonceng temuan-temuan para Ilmuan dengan menempelkan ayat-ayat Al-quran yang sama sekali tidak nyambung.




Allah menyatakan bahwa Dia telah menciptakan alam semesta dari ketiadaan, untuk suatu tujuan khusus, serta dilengkapi dengan semua sistem dan keseimbangannya yang dirancang khusus untuk kehidupan manusia- EED

PUSUK BUHIT. Tempat manusia pertama (Siraja Batak) diturunkan dari langit oleh Sang Pencipta (Mula Jadi Na Bolon), menurut mitos Batak yang sangat dipercayai oleh orang-orang Batak.

Lagi-lagi EED membuat klaim  yang super bombastis soal penciptaan, seolah-olah alam semesta diciptakan khusus oleh Allah hanya untuk manusia, sementara jika kita menggunakan perspectif  kosmik, species Homo Sapiens macam manusia hanya ditemukan di planet bumi. Itupun usianya homo sapiens lebih lama dari usia Allah yang baru 14 abad. Jadi, klaim EED di atas runtuh dengan sendirinya.

Argumen penciptaan tidak datang sepenuhnya dari para Ilmuan. Buktinya, 400 tahun yang lalu seorang Ilmuan terkemuka bernama Copernicus membantah apa yang selama hampir 2.500 tahun menjadi dogma dan dipercaya oleh masyarakat di bawah kendali otoritas gereja. Mereka beranggapan bahwa “bumi adalah pusat dari alam semesta” dan anggapan tersebut terbukti keliru total. Bumi bukanlah apa-apa di atas permukaan alam semesta. Dia bagaikan debu di pojok Milky Way yang tidak kelihatan dan sama sekali regular, persis seperti planet-planet lainnya.




Membaca artikel yang ditulis oleh EED, menyisakan begitu banyak pertanyaan serius. Bahwa klaim Allah-lah yang bertanggungjawab menciptakan alam semesta adalah klaim yang tidak berdasarkan pada temuan-temuan Ilmiah. Karena itu, saya dengan cara meyakinkan berani mengatakan bahwa EED telah melakukan “pembajakan serius” atas berbagai argumen yang ditulis oleh para Ilmuan dan Philospher.

Jelas sekali kesimpulan yang dia ajukan adalah kesimpulan personal, bukan kesimpulan yang lahir dari proses pencaharian lewat model pendekatan deductive reasoning maupun inductive reasoning. Mengutip berbagai pandangan ilmuan dan Philosopher tidak lantas membuat klaim EED valid dalam kaca mata scientific.










Leave a Reply