Saya Karo Bukan Batak

8
1031

Oleh: Seriulina Karosekali

 

Karo Bukan Batak (KBB), mungkin bagi yang belum pernah mendengar masih bertanya-tanya maksudnya apa. Tapi, bagi yang sudah pernah dengar KBB, khususnya kalak (orang-) Karo yang tidak setuju atau anti dengan KBB serta yang merasa dirinya bagian dari Batak, pasti banyak punya persepsi.

Ada yang bilang lebay, cari sensasi, buat perpecahan, ada kepentingan tertentu seperti politik dan banyak lagi pendapat-pendapat lainnya. Bahkan ada yang mencoba mengaitkannya dengan isue Saracen dalam upayanya meredam isu KBB, atau sekedar ikut memperpanas situasi.




Saya sendiri setuju dan sangat mendukung gerakan KBB sebagai sebuah pencerahan dan penegasan identitas Karo, bukan karena saya benci atau ingin membuat jarak dengan saudara dan teman dari Suku Batak atau yang merasa Batak. Bukan pula ada kepentingan tertentu, karena saya bukan politikus, bukan pejabat, bukan pengusaha pemburu proyek, dan juga bukan pula seorang akademisi yang lagi buat skripsi, tesis, desertasi, atau jurnal ilmiah lainnya.

Tapi, memang dari orangtua saya tidak pernah mendengar cerita kalau Suku Karo itu berasal dari ataupun bagian dari Batak. Dan saya juga merasakan dan mengamininya.

Yang saya ingat, cerita Kerajaan Haru, Putri Hijau, Meriam Puntung, dan tentang merga Karosekali yang sering saya dengar kisahnya waktu masih kecil, yang biasa diceritakan orangtua-orangtua Suku Karo kepada anak-anaknya menjelang tidur, yang dalam tradisi Suku Karo dikenal dengan turi-turin. Kesemuannya itu tidak pernah ada mengindikasikan kalau Karo merupakan bagian dari Batak, bahkan tidak memiliki keterkaitan cerita dengan Suku Batak.

Karo Trekker Community

Bagi saya, identitas dan asal usul serta kebudayaan itu perlu diketahui, karena itu adalah salah satu menjadi kebanggaan bagi kita dan mungkin juga bagi sebagian besar atau sebagian kecil orang. Bayangkan jika satu suku bangsa tidak memiliki itu, apa yang bisa kita banggakan? Atau jika generasinya tidak merasa bangga akan itu, maka bersiaplah akan terhapus dari muka bumi ini.

Sebenarnya kalau secara hitungan untung rugi secara sepintas, mungkin orang Karo lebih bangga dimasukkan ke Batak, karena jika dihitung jumlah keseluruhan populasi Batak jauh lebih besar dibanding Suku Karo, tentunya, juga persentasi keberadaan orang Batak jauh lebih besar di segala bidang.

Akan tetapi, saya tetap lebih bangga menjadi Karo. Walau tidak jarang banyak godaan, bahkan ada juga yang bilang, “pelajari dulu Batak itu apa.” Ini maksudnya apa, ya? Seperti mempromosikan sebuah produk agar dibeli saja.

Sebenarnya saya juga sudah pernah baca Batak itu apa walaupun hanya sekedarnya saja, seperti masakan tadi cuma dicicipi saja. Tapi pengalaman saya yang sangat identik dengan sebutan Batak itu adalah Toba atau Tapanuli. Karena sedari saya tahu ada suku lain selain Karo, adalah Jawa dan Batak.

Belakangan Batak semakin banyak dibahas, membuat pengetahuan kita tentang Batak pun kian luas. Dan semakin jelas kalau Batak itu merupakan kelompok etnis yang terdiri dari Toba, Humbang, Silindung, dan Samosir. Tidak termasuk Karo di dalamnya.




Sewaktu duduk di bangku SMP di kampung, saya punya teman marga Manalu. Jika teman lain bertanya, “kamu orang apa (?), karena yang lain masih merasa asing degan marganya (siswa di sekolah itu 99% orang Karo), dia pasti jawab Batak. Bukan Toba dan bukan pula Batak Toba sebagaimana biasanya ditulis di buku-buku.

Ketika saya tamat SMP dan bersekolah ke Medan, banyak bertemu dengan suku-suku yang lain. Sewaktu kenalan kita saling tanya, hingga ke sukunya. Ada yang menjawab Suku Karo, Suku Batak, Suku Jawa, Suku Mandailing, dsb. Bahkan dulu kami sering panggil teman, “hei batak, hei jawa, begitu juga teman-teman memanggil saya, “hei karo”. Tidak ada yang panggil saya “hei Batak” atau “hei Batak karo”.

Itulah perbedaan Suku Karo dan Suku Batak yang saya ketahui, lihat, dan rasakan, yang dibingkai menyatu dalam NKRI dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika. Sungguh indah perbedaan negeri ini, jadi, mengapa kita anti dan takut akan perbedaan?









8 COMMENTS

  1. Menarik kesimpulan yg sangat prinsip hanya dari satu sisi, rasanya naif, apalagi hanya sekedar turin-turin (turi-turian, toba) dan sebutan/ panggilan di pasar atau di tengah jalan. Sejatinya hrs merujuk dari berbagai referensi yg komperehensif sehingga objektif. Mencari atau meneguhkan identitas itu sah-sah saja, dan itu menunjukkan kecintaan anda terhadap budaya kita. Saya setuju dengan gerakan menegaskan jati diri, tetapi jgn pula mengabaikan realita sejarah sebenarnya.

    • Sdr Edo Yth, saya tidak tahu apakah anda dari suku karo atau suku lain, mungkin buat anda tulisan diatas merupakan tulisan bodoh, jika anda dari suku karo anda perlu merenung bahwa identitas diri suatu suku itu penting dan ada saling mengakui, buat kami penting bahwa karo itu suku yang mandiri bukan bagian dari suku lain, Mejuah juah

  2. Saya sangat mendukung bahwa KBB sebagai suatu gerakan pencerahan dan penegasan identitas karo sebagai satu suku yang mandiri, agar memunculkan kebanggaan bagi generasi penerus karo kedepan nantinya, apapun halangan dan rintangan yang ada , KBB tetap harus digemakan terus menerus baik di internal suku karo maupun suku-suku lain (eksternal), hal ini kita lakukan bukan karena kita membenci suku lain tapi agar eksistensi suku kita diakui dalam bingkai bhineka tunggal ika.

    Salam KBB

    Mejuah juah kita kerina

  3. Silahkan baca kembali sejarahnya. Dari awal sekolah saya belajar sejarah itu. Baik Karo, Toba, Mandailing, Angkola, atau pun Pak-pak masuk dalam rumpun Batak. Sekarang ini, penyebutan “Suku Batak” sendiri memang lebih mengarah ke Batak Toba. Tapi bukan berarti kita bisa lari dari sejarah. Kita semua sama. Sama-sama Batak.

    • Sejarah apa?
      Sejarah BALONKU ADA LIMA ya?

      Yang saya baca itu pendefinisian yang dipaksakan. Tidak ada kandungan sejarahnya.
      “Suku Batak ada 5 …..” apa pernah dibahas sejarahnya selain ucapan itu yang diulang2 di tiap buku produk Orba?

  4. “mendukung gerakan KBB sebagai sebuah pencerahan dan penegasan identitas Karo”
    Pencerahan soal identitas setiap suku dalam bhinneka tunggal ika adalah kunci kebersamaan dan kerjasama antara semua suku bangsa Indonesia.
    Tanpa ada kebersamaan dan kerjasama semua suku bangsa itu, tidak ada juga yang namana nation Indonesia. Jadi adanya Nation Indonesia itu adalah karena adanya kesatuan yang utuh dari semua suku bangsa, semua kultur yang sangat beragam itu. Kesatuan itu ada karena ada keragaman. Tetapi keragaman itu ada kalau diakui, dihargai dan dihormati oleh masing-masing anggota keragaman itu. Kalau keragaman itu tidak diakui dan tidak saling mengakui existensi masing masing, dan apalagi tidak dimengeri sama sekali bentuk dan isi keragaman kultur itu, ini akan bikin situasi yang sangat kritis, bikin perang etnis. Kita punya pengalaman dan dunia punya pengalaman korban jutaan jiwa dalam ethnic revival atau cultural revival yang melanda dunia abad lalu. Nation Indonesia bukan lagi ditingkat perkembangan itu, sudah lebih tinggi. Tingkat kita sekarang ialah memperdalam dan mengembangkan pengertian saling mengakui dan saling menghormati perbedaan alamiah berbagai kultur itu sehingga arti NATION INDONESIA dalam satu negeri dengan ratusan suku, bisa menjadi satu nation-contoh bagi semua nation-nation dunia yang multietnis.

    MUG

Leave a Reply