Kolom Asaaro Lahagu: Jokowi Gagal Dijebak Pansus, Masinton Dicopot, KPK di Atas Angin

1
871

Langkah Presiden Jokowi menolak bertemu dengan pansus sudah tepat. Pansus KPK adalah domainnya DPR dan bukan domainnya Presiden. Akal-akalan Pansus untuk melibatkan Presiden Jokowi ikut larut dalam huru-hara anggota Pansus, akhirnya gagal. Nalar busuk anggota Pansus jauh di bawah ketiak Presiden Jokowi yang bergerak senyap tanpa bayangan. Jelas penolakan Jokowi untuk bertemu dengan Pansus dengan alasan licik konsultasi memang harus ditolak.

Jokowi jelas membaca arah dan akal licik anggota Pansus yang mau mengambil hati Presiden Jokowi agar mereka tidak kehilangan muka. Publik dan seluruh dunia paham bahwa Pansus KPK itu tidak jelas tujuan dan arahnya. Satu-satunya tujuan Pansus yang dipahami publik adalah untuk menghancurkan KPK demi menyelamatkan mereka dari jeratan hukum karena terlibat korupsi.

Publik muak akan tingkah Pansus yang tidak bermutu. Mereka mengajari masyarakat berdungu-ria dengan memeriksa narapidana di penjara yang telah terbukti korupsi. Begitulah kalau dari awal sudah tidak beres, maka di tengahnya akan bengkok, lalu pada akhirnya akan melengkung tak karuan.




Ketidakjelasan Pansus KPK dari awal dimulai dari Gerinda yang walk-out, bergabung, lalu keluar lagi. Nafsu ketukan palu otoriter Fahri Hamzah yang mensahkan Pansus secara sepihak, membuat legitimasi Pansus dipertanyakan. Belum lagi polemik objek Pansus yang salah sasaran, telah membuat harkat Pansus DPR yang dibentuk kali ini, jatuh ke titik nadir. Walaupun demikian anggota DPR yang masuk dalam anggota Pansus, tak mau mundur, tak mau kehilangan muka, maju terus membela tersangka korupsi, Setya Novanto.

Sejarah mencetak bahwa satu-satunya anggota DPR yang menantang KPK agar ditangkap adalah Masinton Pasaribu. Ia seolah membodohi publik dengan berani menantang KPK untuk menangkapnya. Tujuannya adalah meyakinkan publik bahwa Masinton Pasaribu adalah manusia suci dan tidak berdosa, makanya berani datang di KPK. Namun publik menangkap maksud udang di balik kerupuk Masinton, yang sebetulnya hanya untuk menutupi kedoknya sendiri.

Jelas Masinton sejak membogem Sekretarisnya Dita, namanya lebih memuakkan daripada mengharukan. Komentar-komentar pedasnya terhadap KPK tak banyak menarik simpati publik kecuali kolega-koleganya. Hanya mereka yang tidak mengikuti berita yang masih mau memilih dan mempercayai manusia yang satu ini untuk menjadi wakil rakyat ke depannya.

Tingkat kecerdasan Masinton untuk menghabisi KPK ternyata tak bisa diandalkan. Ia lebih banyak frontal dari pada memainkan strategi hanyut. Masinton Pasaribu yang dipercayai partainya PDIP untuk mematikan KPK secara cerdas, gagal. Sejak ia menggantikan Mariska sebagai wakil Pansus, Masinton tampil di bawah standar. Ia kurang lihai memainkan strategi untuk menekuk KPK. Karena kegagalannya ini, maka Masinton kemarin [Rabu 20/9] dicopot dari wakil Pansus KPK oleh partainya.

Kegagalan Masinton untuk meyakinkan Jokowi akan temuan mereka, merupakan penyebab lain dicopotnya Masinton. Penolakan tegas Jokowi atas keinginan anggota Pansus telah memukul telak Masinton dan kawan-kawan.

Sebaliknya di pihak lain, KPK semakin lihai mempertotonkan kemesraan mereka dengan Polri. KPK yang tidak meladeni tingkah Masinton yang menyodorkan diri untuk ditangkap, semakin menarik simpati publik. KPK pun semakin percaya diri untuk menolak undangan Pansus KPK untuk hadir di Pansus DPR. Undangan anggota Pansus DPR ditolak oleh KPK. Kasihan Pansus.




Jelas penolakan KPK dan penolakan Presiden Jokowi untuk bertemu membuat DPR malu luar biasa. Celakanya mereka tidak bisa memaksa pimpinan KPK untuk hadir karena Kapolri Tito jauh-jauh hari sebelumnya menolak untuk menghadirkan pimpinan KPK secara paksa.

Kini Pansus hanya bisa memelas atas ketidakhadiran pimpinan KPK di DPR kemarin. Jika ke depan Mahkamah Konstitusi mengabulkan gugatan KPK yang isinya menyatakan bahwa KPK bukanlah obyek penyeledikan Pansus, maka wajah-wajah anggota DPR pucat memutih kehilangan muka. Jika demikian, Jokowi gagal dijebak dan KPK di atas angin. Menarik untuk menunggu langkah liar Pansus KPK ke depannya.

Salam Towi-towi.







1 COMMENT

  1. Kolom AL ini merupakan Pencerahan yang mantap dan bacaan yang menarik.
    Sejak berdirinya Pansus pembela koruptor ini memang sudah terlihat kontradiksi intern PDIP. Mayoritas tidak membela korupsi, bagian kecil membela, artinya ikut Pansus mau bekukan KPK. Dalam perkembangan dialektika kontradiksi tesis-antitesis-syntesis, golongan pembela pansus ini jadi lemah dan tersingkir dalam kontradiksi itu. Sekiranya kekuatan pembela koruptor ini menang dalam kontradiksi intern itu, PDIP sudah berubah haluan dari partai pembela kepentingan nasional menjadi partai pembela kepentingan Pansus (korupsi). Tetapi dominasi kaun nasionalist sejati masih kuat di PDIP. Korupsi adalah salah satu alat penting bagi neolib internasional deep state untuk mencapai hegemoninya seluruh dunia. Korupsi, terrorisme, narkoba, sex, taktik divide and conquer memecah belah dan melemahkan kesatuan nation-nation dunia, itulah semua perlengkapan taktik dan strateginya.

    Apakah PDIP Mashinton sedar jadi alat neolib internasional ini untuk membela dan melaksanakan dengan suka rela alat korupsi internasional ini, memang diragukan. Sama halnya apakah Iman ‘besar’ FPI yang sekarang buron itu sedar kalau jadi alat divide and conquer neolib internasional itu, juga masih pertanyaan. Tetapi sedar atau tidak, akibatnya bagi keutuhan NKRI tetap sama, artinya menghancurkan kesatuan nasional. Kalau dibandingkan dengan soal yang lebih besar ialah apakah Soeharto sedar jadi alat neolib untuk membantai bangsanya sendiri demi melapangkan jalan ke SDA Indonesia bagi neolib . . . Persoalan besar ini sekarang sudah bisa dibaca catatan-catatan penting penulis internasional atau dokumen-dokumen resmi internasional yang menggambarkan kejadian sebenarnya pembantaian 1965, dokumentasi yang jauh lebih ilmah dan lebih akurat dari film G30S yang sekarang diputar kembali atas inisiatif ‘briliant’ panglima Gatot.

    Dalam pemutaran kembali film G30S yang 100% politis, atas inisiatif seorang panglima yang patutnya sebagai seorang militer tidak boleh berpolitik praktis. Tetapi terlepas dari pro-kontra dan positif-negatifnya bagi kesatuan NKRI, penayangan kembali film itu membikin publik bisa mengangkat kembali diskusi dan debat soal itu, soal mana adalah memang sangat penting dalam melihat kembali sejarah dan pemutar balikan sejarah. Debat dan diskusi ilmiah bisa dikedepankan sekarang. Cari semua dokumement resmi internasional termasuk dokumen-dokumen resmi CIA dan pejabat-pejabat resmi diplomasi AS ketika itu. Begitu juga buku-buku ahli peneliti situasi internasional sudah banyak bisa dibaca sebagai perbandingan. Jangan hanya melihat dari segi film G30S yang jelas sangat sepihak. Tinjaulah tiap soal dari banyak pihak dan banyak segi sebagai syarat mendekati kebenaran. Itulah semangat menimba ilmu dan pengetahuan yang sekarang sudah bisa dilakukan oleh siapa saja. Tinggal kemauannya ada apa tidak.

    Sangat menarik misalnya diangkatnya pernyataan logis bahwa kudeta yang dilakukan oleh Untung adalah rekayasa dari neolib internasional itu. Kudeta ini disebut “premature communist coup”. Pernyataan ini bisa dipahami lebih jelas terutama setelah melihat kenyataan sandiwara kudeta yang sama 20 tahun kemudian di Grenada (1983) dimana disitu ada Soekarnonya (Maurice Bishop) dan kol. Untung (Hudson Austin). Sebagai Aidit berperan Bernard Coard yang sudah pernah jadi anggota Partai Komunis Inggris dan Partai Komunis Amerika Serikat sebelum dia kembali ke Grenada dan beperan sebagai wakil PM Bishop. Soal Grenada ini bisa dibaca dimana saja dengan Google).

    Sudah berulang-ulang Soekarno mau dijatuhkan termasuk denga n pemberontakan senjata atau percobaan pembunuhan. Semuanya gagal. Tetapi dengan ‘premature kudeta’ ini bisa sukses.

    “Soekarno was gradually eased from power.” The U.S. was very much involved with providing money, …
    “Freeport apparently had an inside track”.
    “Western intelligence agencies, he said, would organize a “premature communist coup . . . (which would be) foredoomed to fail, providing a legitimate and welcome opportunity to the army to crush the communists and make Soekarno a prisoner of the army’s goodwill.” lihat web dibawah ini.

    https://www.realhistoryarchives.com/collections/hidden/freeport-indonesia.htm

    MUG

Leave a Reply