Kadang, jika diperhatikan, Pak Dhe ini sungguh terlalu. Sungguh para haters sudah mati-matian menghujat, Pak Dhe malah tetap kalm. Tentu membuat mereka pada bingung sendiri-sendiri.

Lha piye? Ketika saat pertama menjabat, Pak Dhe ini diejek. Dihujat. Bahkan seorang Fadli Zon pernah membuat Puisi yang menyindir dengan judul “ORA ISO OPO-OPO”.

Apakah Pak Dhe tersinggung? Tidak. Malah dengan sangat lugu Pak Dhe menjawab, “Aku Ra popo.”

Yang lebih fatal, sejak awal ketika Pak Dhe nyapres, isu PKI lebih dahsyat dari sekarang. Sebagaimana biasanya, filosofi Orang Jawa ketika diejek, akan bilang, “Yow wis ben.” Biarin.




Juga ketika Pak Mantan keliling Pulau Jawa, entah apa maksudnya, seakan merasa masih menjabat, dan selalu tebar pesona seakan Pak Dhe disepelekan. Dengan gampang Pak Dhe datang ke peninggalan sejarah yang mangkrak, Hambalang. Dan, apa yang terjadi? Pak Mantan “cep klekep” diam seribu bahasa seperti maling BH ketangkap basah.

Nah, sekarang, ketika menjelang peringatan G 30 S PKI, isu PKI begitu hangat. Begitu santer diawali dengan isu Rohingya yang skenarionya telah gagal dan hancur berkeping-keping. Lho, Pak Dhe malah asyik masyuk dengan sang cucu. Malah main odong-odong, main pedang-pedangan. Juga bercanda mesra di pinggir kolam renang.

Tentu, siapapun “musuh” itu kepalanya akan kemut-kemut. Terpaksa harus ditempeli koyo cap kadal.

Woaaaaaallaaaahhh, itu sungut para pembenci kira-kira.

“Saya ini sudah teriak-teriak. Urat leher sudah mrengkel-mrengkel membiru, sudah berpanas-panas, sudah bilang PKO dan PKI. Lho, mbok ya demo saya ini direspon tow, Pak Jokowi, Pak Jokowi …. Apa gak kasihan orang tua yang sudah thuyuk-thuyuk seperti saya ini…” ini kira-kira keluh kesah Pak Amin yang selalu ngresulo.

Dan, Si Mantan Jendral menyahut: “Jangan putus Asa, Pak Amin. Kita tetep berjuang sampai titik darah penghabisan. Biarlah sejarah akan mencatat, bahwa anda disebut sengkuni, dan saya sebagai Capres Abadi.”

Lalu mereka berangkulan. Namun, ya, tidak seperti Telletubis tentunya.

Apakah Pak Dhe ikut merasakan pedih dan perih pada para “musuhnya” yang makin lama semakin parah “sakit jiwanya”?

Jika ada yang menanyakan itu, saya yakin Pak Dhe menjawab dengan ketawa khasnya: Hehehehehehehehehehehe …..

“Mbok ya kami ini diopeni tow, Pak Jokowi, Pak Jokowiiiiiii ….”

Sedih, bukan?













Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.