Kolom Asaaro Lahagu INI merupakan pencerahan yang mantap dan merupakan bacaan yang menarik. Sejak berdirinya Pansus pembela koruptor memang sudah terlihat kontradiksi intern PDIP. Mayoritas mereka tidak membela korupsi, tapi sebagian kecil membelanya.

Dalam perkembangan dialektika kontradiksi tesis-antitesis-syntesis, golongan pembela Pansus menjadi lemah dan tersingkir dalam kontradiksi itu.

Sekiranya kekuatan pembela koruptor ini menang dalam kontradiksi intern itu, PDIP sudah berubah haluan; dari partai pembela kepentingan nasional menjadi partai pembela kepentingan Pansus (korupsi). Tetapi, untungnya, dominasi kaum nasionalist sejati masih kuat di PDIP. Korupsi adalah salah satu alat penting bagi Neolib Internasional deep state untuk mencapai hegemoninya di seluruh dunia.




Korupsi, terrorisme, narkoba, sex, taktik divide and conquer (devide et impera) memecah belah dan melemahkan kesatuan nation-nation dunia, itulah semua perlengkapan taktik dan strateginya mencapai hegemony dunia itu.

Apakah PDIP Mashinton sedar jadi alat Neolib Internasional untuk membela dan melaksanakan dengan suka rela alat korupsi internasional ini, memang diragukan. Sama halnya apakah Imam ‘besar’ FPI yang sekarang buron itu sedar kalau dia jadi alat divide and conquer neolib internasional itu, juga masih pertanyaan. Tetapi, sedar atau tidak, akibatnya bagi keutuhan NKRI tetap sama; yaitu menghancurkan kesatuan nasional.

Bila dibandingkan dengan soal yang lebih besar apakah Soeharto sedar jadi alat neolib untuk membantai bangsanya sendiri demi melapangkan jalan ke SDA Indonesia bagi neolib . . . . Persoalan besar ini sekarang sudah bisa dibaca catatan-catatan penting penulis internasional atau dokumen-dokumen resmi internasional yang menggambarkan kejadian sebenarnya pembantaian 1965, yang jauh lebih ilmiah dan lebih akurat dari film G30S yang sekarang diputar kembali atas inisiatif ‘briliant’ panglima Gatot.

Dalam pemutaran kembali film G30S yang 100% politis, atas inisiatif seorang panglima yang patutnya sebagai seorang militer tidak boleh berpolitik praktis. Tetapi terlepas dari pro-kontra dan positif-negatifnya bagi kesatuan NKRI, penayangan kembali film itu membikin publik bisa mengangkat kembali diskusi dan debat soal itu, soal yang memang adalah sangat penting dalam melihat kembali sejarah dan pemutarbalikan sejarah.

Debat dan diskusi ilmiah bisa dikedepankan sekarang. Cari semua dokumemen resmi internasional termasuk dokumen-dokumen resmi CIA dan pejabat-pejabat resmi diplomasi AS ketika itu. Begitu juga buku-buku ahli peneliti situasi internasional sudah banyak bisa dibaca sebagai perbandingan. Jangan hanya melihat dari segi film G30S yang jelas sangat sepihak. Tinjaulah tiap soal dari banyak pihak dan banyak segi sebagai syarat medekati kebenaran. Itulah semangat menimba ilmu dan pengetahuan yang sekarang sudah bisa dilakukan oleh siapa saja. Tinggal kemauannya saja, ada apa tidak.

Sering memang terjadi orang memilih untuk lebih enak ikut saja daripada pikir sendiri. Ini sifat yang harus dikurangi pada era pengetahuan sekarang ini.

Sangat menarik misalnya diangkatnya pernyataan logis bahwa kudeta yang dilakukan oleh Untung adalah rekayasa dari neolib internasional itu sendiri. Kudeta ini disebut “premature communist coup“. Pernyataan ini bisa dipahami lebih jelas terutama setelah melihat kenyataan sandiwara kudeta yang sama (paralel) 20 tahun kemudian di Grenada (1983). 

Di situ ada Soekarnonya (Maurice Bishop) dan kol. Untung (Hudson Austin). Sebagai Aidit berperan Bernard Coard yang sudah pernah jadi anggota Partai Komunis Inggris dan Partai Komunis Amerika Serikat sebelum dia kembali ke Grenada dan beperan sebagai Wakil PM Bishop. Sebelum Austin diturunkan, komunis Coard sudah lebih dulu mengkudeta Bishop. Soal Grenada ini bisa dibaca dimana saja dengan mesin pencari Google.




Sudah berulang-ulang Soekarno mau dijatuhkan termasuk denga pemberontakan senjata atau percobaan pembunuhan. Semuanya gagal. Dan semuanya tentu berpangkal pada duit, duit, duit . . .  SDA yang masih berlimpah ketika itu. Tetapi semua usaha kekerasan itu gagal, dan dengan ‘premature kudeta’ ini bisa sukses.

Soekarno was gradually eased from power.” The U.S. was very much involved with providing money, …

“Freeport  apparently had an inside track”.

“Western intelligence agencies, he said, would organize a “premature communis coup . . . (which would be) foredoomed to fail, providing a legitimate and welcome opportunity to the army to crush the communists and make Soekarno a prisoner of the army’s goodwill.” The ambassador’s report was dated December 1964.

Lengkapnya lihat di SINI.








Leave a Reply