Prof. Salim Said menggelitik nalar saya ketika ia menyampaikan sudut pandangnya mengapa Indonesia tidak maju-maju pada ILC TV One 19 September 2017 lalu. Menurutnya, Indonesia tidak maju karena tidak ada yang ditakuti. Said memberi contoh: Korea Selatan maju karena takut kepada Korea Utara. Singapura maju karena takut digencet oleh bangsa Melayu. Israel maju karena takut dikeroyok oleh bangsa-bangsa Arab.

Apa yang disampaikan Salim Said itu bisa menyindir nalar kaum waras. Indonesia memang tidak takut kepada negara-negara tetangganya seperti Malaysia, Singapura, Brunei, Papua Nugini, Timor Leste dan Australia. Dibandingkan dengan Indonesia, jumlah penduduk di negera-negara itu termasuk kecil.




Apalagi negara-negara itu tidak pernah menantang Indonesia untuk berperang, maka tidak ada yang ditakuti oleh Indonesia. Sama dengan Indonesia, negara-negara tetangga itu belum punya bom nuklir, rudal berisi hulu ledak nuklir, kapal selam nuklir apalagi kapal induk nuklir. Jadi, Indonesia tidak takut digencet.

Dilihat ke belakang, dari sejarahnya, Indonesia juga tidak takut punya penduduk seabrek, banyak anak, tidak takut punya banyak istri dan bahkan tidak takut miskin. Alasannya, tanah di Indonesia masih luas dan subur. Tongkat yang dilempar jadi tanaman dan airnya bisa diubah jadi kolam susu. Jadi, Indonesia tidak takut miskin karena dari sononya memang miskin. Siapa takut miskin?

Jika digali lebih dalam, Indonesia dari sejarahnya tidak takut terpecah-pecah menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Malahan kalau Indonesia pecah, maka ada kesempatan lebih besar kepada mereka yang bernafsu meraih kekuasaan. Jika Indonesia pecah maka ada kesempatan lebih besar untuk menjadi presiden, raja, perdana menteri, khilafah di kerajaannya masing-masing.

Hingga kini, Indonesia tidak takut jika mempunyai pemimpin korup, punya isteri banyak, kecanduan KKN. Karena jika demikian, rakyat juga bisa ikut berfoya-foya, malas, mabuk-mabukkan, berhuru-hara mengorupsi uang negara yang dipinjam sebagai utang.

Soal penjara, Indonesia tidak takut. Jika di negara-negara Barat seperti Belanda dan Norwegia, penjara banyak yang kosong-melompong karena banyak orang takut dipenjara, di Indonesia tidak demikian. Mengapa? Karena di Indonesia sudah menjadi rahasia umum bahwa proses hukum nantinya bisa diakali. Pun di penjara sekalipun masih bisa hidup mewah, bisa mengontrol perdagangan narkoba dan bahkan bisa pesiar keluar penjara seperti Gayus Tambunan misalnya.

Lalu bagaimana dengan Jokowi? Jokowi bukanlah sosok manusia penakut. Bukti-bukti tentang hal itu ada banyak. Ia tidak takut mafia, koruptor, radikalisme, teroris, ancamanan DPR, hingga partainya sendiri. Lalu, sesuai dengan judul di atas, apa hal terbesar yang ditakuti Jokowi?

Jokowi takut jika setelah 100 tahun Indonesia merdeka yang kita rayakan nanti 2045, Indonesia tetap miskin, tetap mengekspor TKI ke Timur-Tengah, tetap menjadi budak di negeri sendiri, tak maju-maju dan bahkan tinggal sejarah karena sudah terpecah-pecah atau hancur lebur seperti Suriah dan Irak. Jika Indonesia hilang dari peta dunia, maka itu sangat mengerikan.

Jokowi takut jika di masa pemerintahannya 2014-2019 syukur-syukur jika berlanjut sampai 2024, tak ada yang dibangun dan lewat begitu saja. Jokowi takut jika kaum milenial kehilangan semangat dan tergerus peradaban era ekonomi digital ke depannya. Ingat beberapa supermarket sekarang ini saja sudah mulai gulung tikar tergerus oleh toko online. Terakhir jaringan ritel mainan Toys R Us menyatakan bangkrut.




Itulah sebabnya sejak Jokowi memerintah, ia terus bekerja keras, terus melakukan blusukan dari Sabang sampai Merauke untuk membangun infrastruktur Indonesia secara besar-besaran. Jokowi sangat ngotot mendorong pembangunan ekonomi berbasis digital (e-commerce).

Jokowi menargetkan bahwa pada tahun 2045 nanti tepat 100 tahun Indonesia merdeka, perekonomian Indonesia sudah masuk 4 besar dunia dengan pendapatan perkapita $ 20.000 US. Namun, masalahnya, ada banyak rakyat Indonesia terutama kaum bumi datar, takut bumi ini bulat karena mereka pusing bergulung-gulung hehe.

Begitulah Towi-Towi…








Leave a Reply