Seorang teman mengirim cerita si tikus kepada saya dan mengaitkannya dengan jebakan PKI. Entah dari mana sumber cerita itu, namun ketika mengaitkannya dengan jebakan PKI, saya tertarik untuk menuliskannya kembali. Ceritanya berikut ini.

Seekor tikus mengintip dari atas plafon mengamati seorang tukang kue yang sedang membuka sebuah bungkusan. Ada bahan-bahan kue baru yang bisa disantap pikir si tikus. Tetapi si tikus terkejut sekali. Ternyata bungkusan itu berisi perangkap tikus tercanggih yang dipesan dari toko online.

Sambil lari ke belakang rumah, si tikus menjerit memberi peringatan, “ Awas ada perangkap tikus di dalam rumah si tukang kue. Hati-hati ada perangkap tikus di dalam rumah!”




Sang ayam jantan yang ada di kandangnya dengan tenang berkokok.

“Maaf Pak Tikus. Aku tahu perangkap tikus itu masalah besar untuk kamu. Tetapi itu bukan masalah buat gue. Jangan buat aku tambah sakit kepala,” kata si ayam.

Tikus kecewa mendengar jawaban Si ayam.

Lalu ia memberitahu si kambing yang tertidur lelap di kandangnya.

“Ada perangkap tikus di dalam rumah. Sangat berbahaya, ada perangkap tikus di dalam rumah!” teriak si tikus.

“Saya ikut sedih, Pak Tikus. Tetapi tak ada satupun yang bisa kulakukan di kandang ini selain berdoa. Yakinlah Pak Tikus, anda selalu di dalam doa-doa saya,” hibur Pak Kambing kepada Pak Tikus.

Si tikus memberitahu si sapi dan menaruh harapan bantuan kepadanya.

“Haha, jadi saya juga ikut dalam bahaya besar Pak Tikus? Kayaknya itu tidak ngefek buat gue deh,” kata si sapi sambil makan rumput kering yang tersaji di hadapannya.

Si tikus kembali ke atas plafon rumah dengan kepala tertunduk. Ia merasa patah hati, kesal, sedih dan terpaksa menghadapi perangkap tikus itu sendirian. Ia merasa sungguh-sungguh sendiri.

Malampun tiba. Tiba-tiba suara berisik memenuhi seluruh rumah. Ternyata perangkap tikus menangkap seekor ular berbisa. Si isteri tukang kue melihat apa yang terperangkap. Di dalam kegelapan rumah, dia tidak melihat bahwa yang terperangkap itu adalah seekor ular berbisa. Saat memegang perangkap tikus, si isteri dipatok ular.

Dengan panik si tukang kue bergegas membawa isterinya ke rumah sakit. Tetapi di rumah sakit tidak tersedia obat penawar racun ular. Si tukang kue pun membawa isterinya kembali ke rumah. Ia merasakan tubuh isterinya terus menggigil dan demam. Lalu ia ingin isterinya minum sup ayam hangat. Maka si tukang kue mengasah pisaunya dan pergi ke kandang, menangkap ayam untuk dijadikan sebagai bahan supnya.

Kondisi isteri si tukang kue semakin parah. Banyak tetangga datang membesuk di rumahnya. Si tukang kuepun menyiapkan makanan, dan terpaksa kambing yang ada di kandang disembelih untuk dijadikan gulai kambing. Beberapa hari kemudian, si isteri itu tak kunjung sembuh dan malah meninggal dunia. Tukang kuepun tidak mempunyai pilihan lain. Sapi yang ada di kandang juga ikut disembelih untuk dijadikan panganan saat diadakan upacara selamatan atas kepergian isteri si tukang kue.

Lalu apa hubungannya dengan jebakan PKI?

Ada pihak-pihak yang membangkitkan isu PKI. Itu adalah jebakan maut untuk merongrong negara ini. Siapa mereka? Seorang kunyuk kata Gusdur, yang juga ditenggarai provokator PKI, berteriak: “Ada jebakan PKI di istana”. Siapa yang membuat jebakan PKI di istana? Yang kita tahu adalah sosok Alfian Tanjung, yang kini tersangka.




Drama kepanikan si kunyuk sampai kepada para penggiat sosial seperti si DS.

“Ada jebakan PKI di istana,” kata si kunyuk.

Si DS yang tidak percaya berseru: “Isu itu sudah basi. Saya sudah bosan mendengarnya. Di negaranya sendiri isu itu sudah menjadi bangkai,” kata si DS.

Cerita si kunyuk sampai di telinga Buya Safii.

“PKI tidak ada. Berpikir tentang PKI, bagai mimpi di siang bolong,” kata Buya seirama dengan Menteri Yasonna.

Si kunyuk berteriak kepada Panglima ABRI.

“Ada jebakan PKI di istana, ada jebakan PKI di istana.

“Saya perintahkan seluruh anggota TNI wajib menonton film G 30 S/PKI. Menhan tidak berwewenang kepada saya,” kata si Panglima ABRI.

Si kunyuk telah bekerja keras memprovokasi. Provokasinya tak berhasil memancing kepanikan semua orang, malah berbalik menghantamnya. Lalu ia merenung sendiri. jebakan PKI ada karena diciptakan. Jebakan PKI bisa menghancurkan, mengalihkan isu, mencapai tujuan dan membuat si kunyuk sendiri jadi pahlawan. Si kunyuk diam. Ia tidak paham bahwa ada Kapolri dan Presiden yang menanggapi jebakan PKI itu dengan cerdik.

“Hentikan isu jebakan PKI itu. Saya akan menangkap siapa provokatornya,” kata Kapolri Tito, tegas.

Oh, itu jawaban yang cerdas. Kita beruntung punya Kapolri yang tidak berpolitis. Dan kita lebih untung lagi mempunyai Presiden Ndeso yang peka pada isu PKI itu.

“Dimana PKI itu? Saya akan gebuk sekarang juga,” kata Presiden dengan garang.

Kita beruntung punya Kapolri sekaliber Tito dan Presiden yang peka namun cerdas merespon isu jebakan PKI itu. Kalau tidak, nasib kita seperti si isteri tukang kue, ayam, kambing dan sapi yang menjadi korban adanya jebakan PKI. Tetaplah waspada. Salam Towi-Towi.











Leave a Reply