Kolom M.U. Ginting: TEROBOSAN JENDERAL GATOT

2
444

Suharto always said it was the communists. Yet from the start, says Colonel Latief, Suharto himself was involved,” tulis Greg Poulgrain.

Ini erat kaitannya dengan terobosan baru Panglima TNI Gatot tayangkan film G30S sekarang ini. Soal penayangan ini memang banyak menariknya. Sejenak kita lepaskan pandangan ke kematian 3 juta orang yang tak ada salah apa-apa dari segi hukum dibantai dan diuber kayak berburu tikus.

Tragedi yang sungguh menyedihkan.

Terobosan panglima untuk Nobar film sadis itu memang betul-betul banyak bikin munculnya pikiran dan pertanyaan baru, diskusi baru maupun perdebatan baru. Apalagi sampai ada juga yang menganjurkan supaya kepala negara juga ikut nobar bersama kabinetnya. Wow, luar biasa memang menariknya, seakan-akan kepala negara juga diingatkan supaya waspada terhadap ‘kekejaman komunis’.

Bisa juga diartikan supaya kepala negara atau publik Indonesia semua diingatkan kembali akan peristiwa menyedihkan ‘buru dan bantai’ 3 juta manusia yang menyedihkan itu.




Gatot mengatakan, pemutaran film G30S/ PKI agar kekejaman komunis bisa diketahui masyarakat luas. Ia tidak sependapat jika pemutaran film itu dianggap untuk mendiskreditkan pihak tertentu. Bagus jugalah pemikiran sang panglima ini, tidak mendiskreditkan pihak tertentu, dan supaya kekejaman komunis bisa diketahui masyarakat luas. Tidak ada yang buruk dalam pernyataannya. Siapa yang menginginkan ‘kekejaman komunis’ dan juga siapa yang ingin ‘mendiskreditkan pihak tertentu’.

Panglima juga menambahkan setelah banyak kritik nobar, “itu memang perintah saya, mau apa?” Siapa yang mau apa, Pak? He he he . . .  Ra popo kok pak, putar film, film apa saja asalkan ada imbas baiknya bagi bangsa ini. Itu sajalah pedoman kita, semua kita, tiap insan bangsa ini.

Artinya, sesuai dengan pemikiran bhinneka tunggal ika nation Indonesia itu, sesuai dengan budaya bangsa kita yang beragam kultur itu, saling mengakui dan saling menghormati dan menghargai, supaya menjaga pesatuan dan keharmonisan sesama manusia beragam itu. Mengakui dan menghormati sesama berbagai kultur, jangan lagi seperti masa lalu itu, menguber dan memburu kultur dan pemikiran berbeda. Bukankah pikiran ini juga bagus?




Pak Jenderal Gatot ini ingin mencerahkan publik bangsa ini, dari segi pikiran grup pembantai/ pemburu 3 juta orang komunis yang diperlakukan tidak manusiawi, walaupun pencerahannya sangat sepihak memang, karena filmnya juga menggambarkan keberpihakan yang sangat menonjol. Pemikiran keberpihakan ini menandakan pemikiran yang kurang objektif.

Apa saja yang objektif harus ditinjau dari banyak segi. Setidaknya dari 2 segi yang saling bertentangan, dari segi kontradiksi. Kalau ditinjau dari 2 segi pemikiran bertentangan, jelas akan lebih objektif, tidak diragukan. Sama halnya dengan menetapkan kebenaran suatu soal dalam lingkungan akademisi, sesuatu pendapat atau penemuan baru, sudah bisa dikatakan benar/ ilmiah kalau tidak ada lagi pendapat atau argumentasi yang bisa membantah kebenaran yang diajukan itu.

Tetapi, bagaimana pandangan lain yang bisa membantah pandangan Panglima Gatot. Dari segi militer yang tidak patut berpolitik praktis, karena film itu adalah 100% politis, karena ini juga adalah film propaganda politik rezim lalu (Orba). Tetapi, ini bisa dikatakan kekeliruan yang tidak berat sekali, tidak tahu kalau ditinjau dari disiplin militer. Itu militerlah yang tahu, selain Presiden RI yang memang panglima tertinggi rakyat sivil maupun kekuatan bersenjata militer bangsa ini.

Kalau ada yang bantah, ‘mau apa’ kata panglima, tetapi demi pencerahan tadi Pak, siapa yang mencerahkan kekejaman pembantaian 3 juta manusia tak bersalah itu?

Tidakkah perlu diingatkan rakyat Indonesia supaya jangan berburu manusia seperti 1965-66? Kalau manusia bersalah, tangkap dan adililah, biar di pengadilan diputuskan. Ini mengingatkan lagi kalau negara kita adalah negara hukum, bukan negara pemburu dan penjagal tanpa prikemanusiaan. Tentu termasuk juga pembunuhan kejam para jenderal saingan Soeharto itu. Keluhan terhadap pembantaian jutaan orang ini hanyalah satu segi pemikiran lain, dari korban pihak lain, yang patut juga digubris, cara melihat soal dari segi lain yang bertentangan. Dalam sengketa, korban sering tidak sepihak, atau korbannya bisa dari semua pihak.

Segi peninjauan lainnya yang mungkin juga Pak Jenderal Gatot sudah pernah mendengar atau setidaknya pernah membacanya yaitu soal “premature communist coup”, rancangan intellijen Barat dalam usahanya untuk menjatuhkan Soekarno. Dirancanglah semacam kudeta semu atau disebut ‘premature communist coup’.

And there is no doubt it was a CIA operation because it was predicted almost a year in advance. In December of 1964, a Dutch intelligence officer attache to NATO said that Indonesia was about to fall into the hands of the West like a rotten apple. For “Western intelligence agencies . . . . would organize a ‘premature comunist coup’ (which would be) foredoomed to fail, providing a legitimate and welcome opportunity to the army to cruss the communists and make Soekarno a prisoner of the army’s goodwill”, – James DiEugenio dalam bukunya ‘Destiny Betrayed . .’

 

Dalam kudeta prematur ini, sejumlah kolonel muda disiapkan dan dihasut membunuh sejumlah jenderal (jenderal-jenderal yang merupakan saingan berat Soeharto ketika itu). Lalu, muncullah Soeharto (paling tinggi pangkatnya) setelah jenderal-jenderal saingannya dibunuh oleh grup kolonel itu. Soeharto dengan tangkasnya dan cepat menghabisi grup kolonel-kolonel yang tertipu dan tersesat itu. Sekarang tinggal ‘buru manusia komunis’ dan pendukung Soekarno ke seluruh pelosok Indonesia, dipanglimai oleh Sarwo Edhie.

Dan ternyata, “Akhirnya, pada tahun 1989, sebelum kematiannya, Sarwo Edhie memberi pengakuan kepada anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) bahwa 3 juta orang tewas dalam pertumpahan darah ini,” (Wikipedia).




Manusia 3 juta inilah yang dijadikan tikus buruan sehingga menimbulkan kesan kekejaman manusia atas manusia lain yang dianggap dan diperlakukan tidak manusiawi seperti binatang. Siapa yang menunjukkan filmnya soal ini? Bukan Gatotlah, dia masih belum terpikir ke sana. Bahkan katanya belum tahu atau belum pernah lihat film ‘Sepi’ dan ‘Jagal’ buatan Joshua Oppenheimer, saksi mata dan pengakuan terus terang pemburu dan penjagal manusia 3 juta itu.

Tetapi bukan tidak mungkin juga bagi Pak Gatot untuk melihat dan menganalisa persoalan dari segi ini, mengingat kebenaran yang harus ditinjau dari banyak segi tadi. Ini terutama dari segi-segi bertentangan itu, asalkan semuanya demi kesatuan, kemajuan dan kesejahteraan bangsa ini. Khususnya demi persatuannya, jangan dipecah-pecah seperti dilakukan oleh neolib internasional itu, yang mana semua dilakukan demi duit, duit, duit.  

The “premature communist coup” 1965, adalah semacam kudeta ‘semu’ untuk melegalkan dan merintis jalan licin bagi kudeta sesungguhnya yaitu menyingkirkan Soekarno dan menghabisi komunis pendukungnya dan semua pendukung lainnya, termasuk orang-orang nasionalis Soekarno pendukung Nasakom ketika itu.

Soal “premature communist coup”, dan coup berikutnya menjatuhkan Soekarno bisa juga dilihat dari segi keindahannya, demonstrasi daya cipta pikiran yang sangat briliant, yang ditampilkan dalam pelaksanaan coup itu, dilukiskan oleh seorang penulis James DiEugenio dalam bukunya ‘Destiny Betrayed . . . ‘, bukunya yang melukiskan soal kematian tragis Kennedy dan penggulingan Soekarno yang dimulai dengan ‘premature communist coup’ yang dilakukan oleh Untung dkk dan yang begitu cepat pula ditumpas dengan kudeta baru dan yang sesungguhnya, direstui oleh Soeharto sendiri dengan bantuan kekuatan dan pemikiran luar.

DiEugenio tulis: 

“It was a multi-layered, interlocking masterpiece of a clandestine operation. A coup d’etat that was so well disigned, so beautifuly camouflaged, so brilliantly executed.”

 

Keindahan dan seni yang menakjubkan pelaksanaan kudeta 1965 menyingkirkan Soekarno, memang patut dipuji. Juga kalau kita lihat pengaruhnya sampai sekarang ini, terus ke ‘terobosan’ panglima Gatot ini  misalnya. Bukankah itu semua bisa dimasukkan ke dalam kategori kegenialan tinggi dari pemikir dan pencipta coup itu?

Di situ ada pengetahuan sosial masyarakat yang sangat tinggi, pengetahuan psikologi yang tinggi, pengetahuan tentang kontradiksi besar dan kecil menjelimet dalam struktur masyarakat dan pemerintahannya dimana coup itu akan dilaksanakan. Tanpa pengetauan kualitas tinggi ini semua jelas tidak mungkin melaksanakan coup 1965 itu. Ini terlihat juga dari pengalaman-pengalaman kudeta sebelumnya bahkan percobaan pembunuhan Soekarno, semua gagal.




Jadi memang hebat daya cipta coup itu. Sayangnya semua itu adalah atas dasar dorongan nafsu keserakahan untuk duit, SDA Indonesia yang masih berlimpah ketika itu. Itulah yang sekarang kita sebut kekuasaan neolib internasional Greed and Power mau menghegemony dunia, duitnya (SDA) dan kekuasaannya (world hegemony), semua demi duit, duit, duit . . . .

In fact, the Agency was so proud of it, that it recommended it as a model for future operations, ditulis DiEugenio. Betul sekali memang, model itu diterapkan di banyak negeri pada era kontradiksi pokok dunia antara Barat dan Timur abad lalu.

Salah satu contoh yang hampir 100% identik ialah kudeta Grenada hampir 20 tahun kemudian (1983). Perdana Menteri Maurice Bishop sebagai Soekarnonya, Austin Hudson sebagai Untungnya, Bernard Coard berperan sebagai Aiditnya. Coard ketika itu wakil PM Bishop. Coard adalah anggota Partai Komunis Inggris dan juga anggota Partai Komunis Amerika Serikat sebelum kembali ke Grenada bergabung dengan Maurice Bishop.

Sebelum Austin Hudson (Untung) disuruh maju telah dihasut lebih dulu si komunis Coard mengkudeta Bishop Perdana Menterinya sendiri. Lalu diturunkan dengan cepat Austin Hudson mengkudeta Coard. Tetapi dua kudeta premature ini bukan kudeta sesungguhnya. Baru setelah invasi pasukan elit AS terjadi kudeta sesungguhnya, Austin Hudson ditangkap dan dipenjarakan bersama Coard juga. Bishop terbunuh. Perpindahan kekuasaan Grenada ke Blok Barat sempurna. Semua ini terjadi hanya dalam tempo beberapa hari. (Soal ini bisa dibaca dimana saja lewat Google).  




Apapun yang kita bicarakan ini semua adalah masa lampau. Perlu diingatkan lagi bahwa kita dalam omong-omong ini relax saja, termasuk soal penayangan kembali film G30S, santai saja. Kita hanya katakan apa yang harus dikatakan, bikin apa yang harus dibikin . . . .  semua demi persatuan, kesejahteraan dan kemajuan bangsa ini. Itu saja pedomannya.

Kalau memang mau bikin film atau tayangkan film, tujuannya juga itu saja. Di samping itu, tidak perlu kita terikat masa lalu itu, walaupun kita dilahirkan oleh masa lalu itu. 

“We are products of our past, but we don’t have to be prisoners of it.” ― Rick Warren.

Kalau filmnya keliru atau tayangannya keliru, mikir lagi . . . dan masih ada kesempatan memperbaiki. Karena pedoman kita tadi tetap, yaitu demi kesatuan, kemajuan dan kesejahteraan bangsa kita, bangsa Indonesia.








2 COMMENTS

  1. Mejuah-juah BGS. Pertanyaan berat kap bahandu e, kuarap kam anak-anak muda Karo enda kerina banci sikap njawab pertanyaan kaipe, sebab gundari enggo lit jawaban tersedia bas internet,buku. Soal Illuminati banci nehendu ijenda: http://www.complex.com/pop-culture/2015/02/what-is-the-illuminati-conspiracy-and-who-are-its-members/are-they-real

    Enda me kapken kelebihen zaman informasi digitlal enda. Kai pe si nai rahasia sope jaman keterbukaan informasi, gundari lanai tertutupi salu kekuatan kaipe. Dunia pe lanai banci mulihken ku jaman rahasia nai. Illuminasi terkenal rahasiana kuat, ertina lalit keterbukaan je. Enda bali ka nge bagi rahasia mata-mata, kerina organsiasi mata-mata, CIA, FBI, MI6, KGB, dsb lit kekuatenna janah kuat sebab rahasiana atau kerahasiaan atau kegelapan si la pernah terbuka man isepe. Jenda me kekuatenna si la terlawan ibas era kegelapan si enggo lewat.

    Illuminati bagepe organisasi neoliberal atau deep state, kekuatenna bas kerahasiaanna adah ndai nge kerina. Maka ibas era keterbukaan enda, kerina organisasi rahasia enda atau organisasi si kekuatenna bas kerahasiaanna adah ndai, gundari lanai kuat. lanai mungkin mempertahankan kekuatenna bagi ibas jaman ketertutupan. Maka nasib kalak enda atau organisasi enda kerina enggo me itentuken.

    Presiden Kennedy sope mate nina: kita nggeluh ibas sada sistem “a system which has conscripted vast human and material resources into the building of a tightly knit, highly efficient machine that combines military, diplomatic, intelligence, economic, scientific and political operations.” He went on to state that “its preparations are concealed, not published. Its mistakes are buried, not headlined. Its dissenters are silenced, not praised. No expenditure is questioned, no rumor is printed, no secret is revealed.” Enda me situasi situhuna ibas era Kennedy. Ibas era informasi digital gundari, kata-kata Kennedy lanai berlaku, rahasia sistem neoliberal enggo lanai tertutupi.

    Enggo ibegindu uga rahasia kudeta G30S PKI. Kudeta letkol Untung enda me kapken kudeta semu nimai kudeta situhuna njatuhken Soekarno, ibas keperlun ku SDA dari pihak neolib internasional. Kudeta Untung enda enggo irencanaken setahun sope imulai emkap bulan Desember 1964. Kudeta Untung enda kapken sada kudeta semu persiapken kudeta situhuna pimpinen Soeharto tanggal 1 Oktober 1965. Emaka Soeharto la setuju gelar kudeta 30S, iubahna jadi Gestok, Gerakan Satu Oktober. Soeharto berusaha menutupi kudeta 1 Oktober miliknya dibikin jadi kudeta Untung, padahal kudeta Untung adalah 30 September, ertina bagi Soeharto sada ngenca kudeta enda emkap kudeta Untung, padahal kudeta Untung emkap kudeta semua saja nge, enda igelari ‘premature communist coup’. Kudeta situhuna emkap kudeta 1 Oktober adah ndai. Lit denga kin si mungkin itutupi bas kudeta 30S atau kudeta 1 Oktober? Ijapape enggo terbuka dokumen-dokumenna, tading ngogesa saja.

    And there is no doubt it was a CIA operation because it was predicted almost a year in advance. In December of 1964, a Dutch intelligence officer attache to NATO said that Indonesia was about to fall into the hands of the West like a rotten apple. For “Western intelligence agencies . . . . would organize a ‘premature comunist coup’ (which would be) foredoomed to fail, providing a legitimate and welcome opportunity to the army to crush the communists and make Soekarno a prisoner of the army’s goodwill”, – James DiEugenio dalam bukunya ‘Destiny Betrayed . .’ Jadi rencana ‘premature coup’ enda enggo dung persiapenna setahun sope terjadi. Emaka Soeharto pe la setuju ibahan gelarna G30S tapi Gestok. Padahal Gestok enda ilakokenna 1 Oktober, pagi-pagi enggo imulai erburu pasukan Untung yang dalam kenyataan hanya secuil pasukan dari sebagian kecil pasukan Tjakrabirawa. Tentu saja tidak berdaya melawan pasukan yang dikerahkan Soeharto. Jam 4 sore 1 Oktober pasukan Soeharto sudah menguasai RRI bagepe Telkom, dengan bantuan RPKAD pimpinan Sarwo Edhie. Untung tidak ada lagi hubungan keluar, dalam perjalanan pada bubar dan melarikan diri. Soekarno sudah berada dibawah naungan pasukan Soeharto, juga tak punya hubungan keluar istana. Kudeta Untung yang memang direncanakan akan gagal foredoomed to fail untuk persiapan kudeta 1 Oktober, jelas kudet gagal. Kudeta 1 Oktober nge kudeta situhuna, janah berhasil, labo foredoomed to fail bagi kudeta Untung. Engkai kin maka Soekarno i kudeta? Enda enggo mbue jawabenna bas Sora Sirulo.

    Engkai kin maka ngayak gundari pe ipake denga hantu komunis enda mecah belah bangsanta? Pertama perbahan mantap denga imbas perpecahenna, bagi sienggo teridah belakangan enda. Emaka kaum divide and conquer terus make alat pecah belah hantu komunis enda. Padahal komunisme enggo me lewat sejarahna, bagi lewatna sejarah perbudakan atau feodalisme.
    Enda ka lebe sitik, bujur ras mejuah-juah
    MUG

  2. Mejuah-juah pak MUG.. Sentabi agak melenceng sitik, lit ka ku nen arah video bas you tube simbunuhsa john f.kennedy e ILUMINATI , seri nge neoliberalisme ras iluminati pak?

Leave a Reply