Pola pikir yang terjebak dalam pertanyaan tentang mana yang benar antara 5.000 pucuk senjata dengan 500 pucuk senjata adalah pola pikir umum, maka wajar jika keliru dalam mengambil kesimpulan. Di bawah ini akan saya tulis penggalan-penggalan yang disampaikan oleh Panglima TNI di luar soal di atas, yaitu sbb:

 “Situasi sekarang ini yang harus sama-sama kita waspadai, ada semacam etika politik yang tidak bermoral.”

 “Bahkan TNI pun akan dibeli, tidak semua isinya bersih pak, jujur saya katakan tidak semua bintang-bintang di sini bersih.”




 “Ada yang sudah punya keinginan dengan cara yang amoral untuk menempuh jabatan. Dan saya berjanji, mereka akan saya buat merintih, pak, bukan hanya menangis. Akan saya buat merintih, bukan hanya menangis biarpun mereka itu Jenderal, karena ini berbahaya.”

 “Kalau sudah TNI ditarik ke politik, semua dikuasai politik, selesai negara ini, ujung-ujungnya nanti pasti kita tidak  bisa berbuat apa-apa lagi.”

Pemikiran yang berujung pada kesimpulan bahwa Panglima akan terjun ke politik praktis sah-sah saja namun sangat kecil kemungkinannya jika menyimak baik-baik ucapannya yang menegaskan “saya berjanji, mereka akan saya buat merintih, pak, bukan hanya menangis. Akan saya buat merintih, bukan hanya menangis biarpun mereka itu Jenderal, karena ini berbahaya.” (kata “Akan saya buat merintih, bukan hanya menangis” diucapkan 2 kali).

Informasi intelejen A1 itu adalah bukan konsumsi publik, apalagi diucapkan oleh seorang Panglima, maka yang paling terlebih dahulu berhak tahu adalah Presiden.

Perhatikan, sejak Gatot Nurmantyo sering “bermain” di media mainstream, pada saat yang sama pula kelemahan-kelemahan Prabowo dan cerita lama soal Prabowo pun naik ke permukaan yang pada gilirannya membuat elektabilitas Prabowo merosot. Karena sebagian orang yang pro Prabowo juga mulai mencoba membangun wacana “pindah selera politik” ke Gatot. Gatot terlihat lebih kuat dibanding Prabowo, hal ini disadari karena memang berat jika Prabowo berhadapan langsung dengan tokoh fenomenal Indonesia yaitu Mr. President Jokowi.




Bahwa manuver “Sang Jenderal” ini adalah sebagai bentuk penguatan sekaligus pelemahan terhadap pihak-pihak yang sedang dan akan “bertarung” di 2019 nanti. Maka yang perlu dipahami oleh kita semua adalah bahwa Gatot Nurmantyo itu bukan seorang Panglima Hansip, akan tetapi Panglima TNI. Karena itu, silahkan anda “berpikir gila” untuk mendapatkan inti informasi yang tersaji. Jika anda hanya berpikir dengan cara biasa maka anda hanya menemukan “kemasannya” saja bukan isinya.

Isi yang saya dapatkan atas manuver sang Jenderal dan fakta politik di lapangan adalah suatu bentuk pelayanannya sebagai seorang prajurit terhadap Panglima Tertinggi/ Presiden.

Akhirnya saya pun bisa tersenyum dan salut kepada Jokowi. #Bravo_Jokowi_Dua_Preiode

#Salam “Berpikir Gila”








Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.