Ketika Tuhan berkehendak menunjukkan KekuasaanNya kepada anak manusia yang bernama Jokowi, terasa banget atmosfir perpolitikan di negeri ini semakin menggelikan, menggelitik. Bahkan orang-orang seperti saya yang selama ini tidak menggubris soal politik, terpaksa harus ikut cawe- cawe. Ikut urun rembug bahwa Presiden Indonesia saat ini adalah Jokowi. Bukan yang lain.

Sungguh, fenomena perpolitikan yang terjadi sekarang sebenernya hanya sebuah hal yang lucu. Yang seperti dagelan tatkala melihat para pembenci Jokowi semakin ke sini semakin kalap. Semakin ngawur. Sengawur-ngawurnya Cak Lontong ketika On The Track.

Kenapa hal ini bisa terjadi?




Gampang ditebak. Di negeri ini, bahkan sejarah telah membuktikan, orang-orang baik akan selalu dimusuhi. Difitnah. Dan akan selalu berakhir tragis.

Seperti halnya sekarang. Ketika Jokowi berani membubarkan Petral karena mafia Migas. Memerintahkan Ibu Susi untuk menenggelamkan kapal-kapal asing pencuri hasil laut yang ditenggarai ada permainan eks pejabat, serta menghajar Freeport tanpa ampun. Lalu mengefisienkan anggaran negara, dimana para wakil rakyat lebih banyak NGAPLO alias gigit jari jempol. Tentu yang terbiasa bancakan duit negara akan meradang alang kepalang.

Itu terbukti, kasus AHOK juga diarahkan untuk mendongkel Jokowi. Namun gagal.




Yang lebih membuat mereka makin kalap adalah, oleh Jokowi ditanggapi dengan “slow motion”. Dengan main panahan, dengan main ponco bersama Kaesang, dengan ngasih makan monyet. Eeee…. yang terakhir ketika issue PKI digelontorkan, Pak Jokowi malah ”DOLANAN WEDHUS”.

Kira-kira, jika saya yang jadi Pak Jokowi akan berucap: “Dhus, wedhus. Sejatinya kalian nyeruduk sana nyeruduk sini. Tujuanmu mau ngerampok negeri ini. Iyo, po iyoooo?”

Nah, jika di luar sana para “wedhus” mbak mbek alias ngoceh tak karuan, sejatinya mereka makin bento menghadapi Pak Jokowi.

Itulah kenapa Indonesia darurat manusia bueentoooooo!!








Leave a Reply