Deretan panjang kasus yang melilit seorang manusia belut ini memang “ngeri-ngeri sodap”. Paling luar biasa adalah, bagaikan seorang pesulap, sang manusia belut berhasil lolos ketika detik-detik terakhir para penonton menahan nafas.

Soal kasus E-KTP yang sekarang ini menjeratnya, lagi-lagi sang manusia belut juga dengan dahsyat membuat Netizen bisa dikadali dengan foto-foto yang beredar. 0Namun ada beberapa asumsi tentang diterimanya Pra Peradilan si manusia belut ini.

Asumsi pertama
Proses hukum adalah hak setiap warga negara. Apapun keputusan musti dihormati dan dijunjung tinggi. ~ ini kata mereka lho, yaaaaa ~




Asumsi ke dua
Ada kong kali kong dan rekayasa.

Sejak ditetapkan sebagai tersangka, secara masif KPK diserang. Bukan hanya Institusinya, namun termasuk seorang penyidik seniornya juga mengalami serangan fisik. Bahkan saksi kunci yang ada di Amerika tiba-tiba dikabarkan bunuh diri. Kental sekali, KPK akan dihabisi dengan berbagai cara.

Mulai dibentuk Pansus KPK hingga Komisi 3 memaksakan diri memanggil petinggi KPK. Bahkan pihak pengacara KPK merilis kejanggalan-kejanggalan soal keputusan itu.

Asumsi ke tiga
Ada Faktor POLITIK.




Sejak Munaslub Mei 2016, Golkar ada dua kubu. Konon, antara kubu Pak JK dan kubu Pak Luhut. Kubu Pak Luhut ternyata unggul. Artinya apa? Jika kubu Pak Luhut kalah, ditenggarai Golkar akan selalu menjadi batu sandungan di parlemen semua kebijakan Pak Jokowi. Dan ini tentu sangatt berbahaya.

Jadi, dengan diolah agar sementara si manusia belut dengan gerbong Golkar tidak terjadi kegaduhan jika SN dilengserkan dari Ketua Umum Golkar, maka Setya Novanto musti diselamatkan. Diamankan demi kepentingan yang lebih besar .

Apa itu? Jika SN diganti, lalu arah dukungan politik berubah haluan, siapa yang rugi? Toh untuk merangket SN bisa ditunda? Kenapa harus buru-buru? Meski langit runtuh hukum harus ditegakkan~ katanya~

Mana Asumsi yang benar? Silahkan dipilih ….













Leave a Reply