Zaman keemasan Bumi Nusantara yang gilang gemilang. Di wilayah Majapahit nyaris hampir Asia Tenggara, ada Sang Mahapatih yang loyal dan setia kepada Negara. Mahapatih yang dengan Sumpah Palapanya membuat bumi terguncang, membuat langit tergetar.

Meski pemberontakan juga terjadi, namun oleh Sang Mahapatih berhasil diredam. Berhasil ditumpas.

Saat ini, seperti halnya Raja Hayam Wuruk, seorang Jokowi juga ingin mengembalikan kejayaan Majapahit. Ingin bangsa ini tidak lagi menjadi bangsa cecunguk. Ingin negeri ini mempunyai marwah dan martabat.




Cita-cita Jokowi adalah, negara yang kuat jika bangsa ini tercukupi ketersediaan pangan dan akses transportasi yang memadai. Maka dengan tekat yang bulat, sebagaimana simbol beliau memakai baju berlengan, beliau menyingsingkan baju putihnya.

Dicarinya pembantu-pembantu untuk mewujutkan hal itu.

Ketika beliau mengangkat Ibu Susi yang bertato, badai celoteh dan cemooh mengisi hari-hari perjalanan Ibu Susi. Dengan motto “kadal gurun menggonggong, seorang Susi Pujiastuti no coment”. Dijawab dengan kerja yang luar biasa.

Bukan itu saja, wanita hebat yang lagi duduk di Lembaga Keuangan Dunia merasa terpanggil ikut di barisan Pak Jokowi. Meski konon gaji di IMF lebih besar, namun demi bangsa dan negara, Ibu Sri mulyani ikut “Cancut Taliwondo” membangun negeri. Dan sukses besar beliau adalah membuat gebrakan tax amnesti.

Ketika ada seorang yang berprestasi di bidang minyak dan gas bumi yang malah bekerja untuk Amerika, seorang Archandra yang berdarah Minang juga merasa terpanggil. Nasionalisme adalah segalanya.

Apakah para pembantu yang hebat-hebat itu juga diapresiasi? Hanya rakyat yang waraslah mengerti akan hal ini. Selebihnya hanya bisa merongrong dan menggonggong. Dan itu dari pasukan yang selama ini mengaku Macan Asia. Macan Asia yang songong dan ompong. Yang tuannya Fadli Zonk.

Yang membuat miris adalah, ketika Pak Jokowi berlari ke sana ke mari demi kemajuan negeri, sebagaimana Hayam Wuruk ada orang kepercayaannya Sang Mahapatih Gajah Mada, lalu Pak Jokowi ada siapa?

Pak JK?

Beliau ini malah ikut andil “menenggelamkan” orang berprestasi, orang yang pekerja keras, jujur, perhatian sama rakyat kecil. Dia adalah Ahok!

Hemmmhemmm ….

Jika saja yang menjadi Gajah Mada adalah seorang Basuki Tjahja Purnama, tentu kejayaan Majapahit akan berkibar. Indonesia akan luar biasa.

Jika Tuhan berkehendak, siapa yang akan bisa menghalanginya?








Leave a Reply