Kolom Eko Kuntadhi: VIDEO EGGY SUDJANA

0
513

Pemahaman teologis (ketuhanan), serasional apapun, tetap saja hanya dapat ditangkap kebenarannya oleh mereka yang meyakini. Orang yang berbeda keyakinan, bisa mempelajari konsep teologi agama lain, tapi belum tentu bisa meyakini kebenarannya.

Artinya, sebagai sebuah pondasi keyakinan, pemahaman teologis itu sifatnya subjektif. Untuk menilai kebenarannya, alat ukur yang digunakan juga khusus. Hanya menurut tuntunan agama tersebut.

Islam belajar tauhid dari Al Quran. Kristen belajar Keagungan Tuhan dari Bible. Hindu belajar keperkasaan Sang Hyang Widhi dari Weda. Begitupun umat lain. Masing-masing agama memiliki pegangan sendiri-sendiri dalam memahami makna ketuhanan.




Yang pasti, secara konsepsi semua umat beragama yakin bahwa Tuhan adalah dzat yang tiada bandingnya. Karena itu, Tuhan bersifat unik, tidak ada kesamaan dengan yang lain. Makna unik inilah yang di Indonesia dimaknai dengan kata Esa. Esa bukan berarti jumlah. Esa adalah sebuah konsepsi mengenai ketiadabandingan.

Umat Kristen. Hindu, Budha. Kong Hu Cu dan Islam. Bahkan penganut Sunda Wiwitan, aliran Kepercayaan dan agama budaya lainnya semua meyakini makna Tuhan yang unik dan berkuasa atas diri dan alam raya ini.

Oleh karena itu, semua umat beragama merasa mendapat legitimasi hidup di Indonesia, yang berasaskan Pancasila, dengan sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Sila itu menjadi payung seluruh umat yang meyakini keberadaan Tuhan.

Lalu Eggy Sudjana datang dengan argumennya sendiri, yang mengartikan Esa sama dengan satu. Lalu Eggy menafsir makna dan konsepsi teologi agama lain, dengan kacamata dan logikanya sendiri. Lalu berkesimpulan konsepsi ketuhanan agama selain Islam bertentangan dengan Pancasila.

Awalnya argumen itu dikatakan dalam sidang MK, mengenai gugatan HTI terhadap Perppu. Kita masih maklum, sebab dalam sidang MK boleh saja orang berargumen apapun baik ilmiah, setengah ilmiah, prasangka ilmiah, atau psudo ilmiah. Justru pada sidang itu ingin diuji validitas argumennya.

Menjadi masalah justru argumen yang tadinya dilontarkan di sidang MK, malah diucapkan juga untuk khalayak ramai. Video pernyataan Eggy inilah yang kemudian viral. Jadi, jika Eggy mengatakan bahwa itu adalah argumen dalam sidang MK, ya gak juga. Buktinya video yang viral itu bukan saat di sidang MK.

Pernyataan Eggy pada khalayak itu sendiri selain menimbulkan ketersinggungan umat beragama lain juga mengkoyak pondasi berbangsa. Amat tidak pantas orang menilai konsepsi teologis agama lain dengan ukuran-ukurannya sendiri, lalu fikiran itu disampaikan secara terbuka. Selain sangat tidak diperlukan, juga berbahaya. Yang terjadi adalah kegaduhan.

Kata teman saya Awan Kurniawan, Tuhan itu berbeda dengan istrinya Arifin Ilham. Istrinya Arifin bisa satu, dua atau tiga. Makna ketuhanan dalam Kristen, Hindu, Budha, Katolik, atau Kong Hu Cu berbeda dengan cara Eggy menghitung.

“Mas, kenapa sih orang sering ribut soal perbedaan pada agama?” tanya Bambang Kusnadi. Saya diam saja. Tapi dia melanjutkan gugatannya. “Padahal kan, kita bisa fokus ke persamaan-persamaan setiap agama. Jadinya gak berantem.”




Saya kaget dengan pernyataan bakul bubur ini. “Misalnya, Mbang?”

“Ya, kita jangan korupsi. Jangan maling. Jangan menyakiti. Hidup sederhana. Jujur. Kerja keras. Berbuat baik dengan orang. Semua agama ngajarin itu, kan? Ngapain juga kita ngomong yang ini paling islami, yang ini sesuai syariat. Yang ini kristiani, yang ini sesuai dengan ajaran sang Budha. Kalau semuanya masih hobby nyolong. Kalau masih nyakitin orang. Percuma kan, mas?”

Saya melongo. Pikiran bakul bubur ini ternyata jauh lebih hebat dari seorang pengacara.









Leave a Reply