Kolom M.U. Ginting: 2 MUSUH DEWAN JENDERAL (Jebakan Terbesar di Asia)

0
446

Sudah banyak buku dan dokumen diterbitkan dalam soal kudeta 30 September 1965, tetapi buku John Roosa yang terakhir dianggap paling mendasar dengan fakta-fakta ilmiah tepercaya serta uraian dan analisa yang juga masuk akal. Seperti pendapat Dubes Howard P. Jones yang bertugas dari 1958 sampai 24 Mei 1965. Jones berpendapat bahwa PKI untuk berkuasa lebih cenderung mengambil jalan ‘damai’ lewat kekuasaan Soekarno daripada menggulingkan Soekarno dengan kekerasan.

Dalam kenyataan politik sehari-hari, memang itulah yang dijalankan oleh PKI, dengan NASAKOM dsb. Tetapi, juga dengan tuntutan ‘angkatan ke 5’ mempersenjatai buruh dan tani, yang ditolak tegas dan keras oleh Yani dan Nasution. Bersaman dengan itu, mereka sekuat tenaga mempengaruhi Soekarno untuk tidak mengizinkan angkatan ke 5 itu.

Pimpinan PKI juga masih meyakini bahwa mengkudeta Soekarno dengan kekerasan dari pihak siapa saja akan gampang ditumpas karena pengaruh Soekarno masih begitu kuat di kalangan rakyat Indonesia.




Berlainan dengan pendapat Dubes Marshall Green –  yang menggantikan Jones. Dia dengan tegas berpendapat bahwa harus ada dalih tersembunyi (pretext) untuk menyalahkan PKI supaya bisa mengadunya dengan pihak militer terutama Angkatan Darat, seperti yang ditulis oleh John Roosa dalam bukunya “some sort of dramatic action from the PKI that would provide a justification for repressing it. . . . “.

Green sebelum ke Indonesia pastilah sudah mendengar dan mempelajari ‘premature communist coup’ yang sudah sejak setahun sebelum terjadi sudah banyak jadi percakapan hangat dan luas di kalangan diplomat negara-negara antek-antek imperialis neolib AS.

Green mempersiapkan semua bantuan yang diperlukan dalam pelaksanaan ‘premature communist coup’ ini. Selain bantuan finansial tentu persiapan taktis praktis yang harus dengan teliti dipersiapkan dan dilaksanakan. Dekrit Dewan Revolusi yang akan langsung dibacakan lewat RRI pastilah juga sudah disiapkan sebelumnya, jelas bukan oleh Untung dkk, karena Untung tak punya banyak orang. Yang ada juga tidak profesional. Terlihat  dalam penangkapan jenderal-jenderal itu, dimana orang-orang Untung tidak mengerti mau ditahan atau mau dibunuh dan akhirnya dibunuh semua, dibuang ke Lubang Buaya.

Tetapi, apapun yang terjadi, dilaksanakan secara professional atau tidak, premature communist coup sudah terlaksana dengan ‘sempurna’. Tinggal kudeta sesungguhnya langsung menangani Soekarno. Pagi hari 1 Oktober Soekarno sudah berada dalam lingkungan militer Soeharto di istana. Beliau sudah tak punya hubungan keluar selain lewat penjagaan militer. Dengan begitu, sekarang bisa dengan bebas menangani dan menumpas komunis PKI.  

Contrary to Jones’s expectations, the PKI, more specifically, Aidit and Sjam, did walk into the trap,” kata John Roosa dalam bukunya. 

Apakah Aidit masuk ke perangkap itu? Apakah dia juga setuju diadakannya kudeta Untung itu. Memang bisa terjadi bahwa Aidit setuju, berkat pengaruh licik dari agen ganda Syam Kamaruzaman. Tetapi, kemungkinan besar hanya Aidit yang tahu diantara semua anggota Politbiro PKI. Soalnya, hanya dia yang punya hubungan langsung dan rahasia dengan agen ganda Sjam. Celakanya bagi Aidit ialah bahwa dia sama sekali tidak tahu bahwa Sjam adalah agen ganda, yang dalam arti sesungguhnya adalah agen neolib internasional dalam tubuh PKI lewat pemimpin besarnya Aidit.

Bisikan Sjam soal kudeta Untung pastilah menarik luar biasa bagi Aidit, karena akan menghabiskan ‘dewan jenderal’ yang dia sudah lama siarkan kepada semua anggota PKI. Dewan Jenderal ini sangat terkenal anti komunisnya dan karena itu sangat dibenci oleh orang-orang PKI’. 

Itulah ‘trap’ (jebakan) besarnya. Apakah dari PKI atau dari neolib/ imperialis – akan tetap menjadi pertanyaan besar. Kerumitannya ialah karena, baik Soeharto maupun PKI, sama-sama berkepentingan melenyapkan Dewan Jenderal.




Itulah ‘trap’ yang mungkin terbesar di Asia pada masa perang dingin dalam soal meruntuhkan suatu kekuasaan besar anti-imperialis di negeri besar dan strategis di Asia Tenggara. Trap satu ini telah merupakan percikan api kecil yang telah mengubah Indonesia jadi negara pro Barat. Selama 3 dekade dikeruk miliaran dan triliunan dolar dari SDAnya tanpa suara seperti Freeport Papua di samping harus bantai 3 juta orang yang anti-neokolim, anti imperialis.

Duit, duit, power, power . . . siasat dan strategi Greed and Power neolib internasional demi world hegemonynya.

















Leave a Reply