Mereka dengan bebas membangun “Pondok Pesantren” hingga “Universitas”. Kita ngoceh soal “Kebenaran” yang selalu bisa kita perdebatkan secara terbuka malah dituding macem-macem. Hingga pembungkaman lewat Pasal Penistaan Agama hingga UU ITE yang itu juga lahir dari kader-kader “bangke”, yang memenuhi ruang-ruang publik.

Mulai dari gedung yang konon katanya adalah simbol lahirnya generasi baru (Gedung DPRRI), malah justru melahirkan kader “bangsat” yang oportismenya hingga menembus arshi. Belum lagi gedung-gedung eksekutif yang penuh dengan orkestra seolah-olah, dimana senyum-senyum yang muncrat lahir dari lobang oportunisme yang sama.

Mereka semua dulu yang paling lantang berteriak soal kejahatan masa lalu. Sekarang, merekalah yang menjadi pelaku utama kejahatan. Jangan tanya soal lembaga penegak pil keadilan, mereka yang duduk di singgasana keadilan tidak lebih dari bangke-bangke yang sukses menghianati nuraninya sebagai manusia. Memberaki rasa keadilan sudah menjadi tradisi yang dipertahankan secara brutal.

Inilah republik yang tersandera oleh masa lalu yang suram, gelap, penuh dengan intrik dan tipu daya. Generasinya buta walaupun gelarnya berbaris seperti prajurit hebat, tapi semua gelar yang bertengger hanyalah omong kosong yang dipamerkan dalam ruang hampa.

Aku hanya ingin bergerak dengan bebas seperti saudara subatomic particles-ku, yang selama tidak menabrak fundamental law of nature maka aku akan terus bergerak. Karena aku-kamu yang masih bersetia pada nurani adalah kader-kader kosmik. Kita tidak butuh universitas yang sukses melahirkan banyak pelajur intelektual.

#Itusaja!








Leave a Reply