Walikota Medan: KITA DIPERSATUKAN OLEH BHINEKA TUNGGAL IKA

0
77

ADINDA DINDA. MEDAN. “Kita dipersatukan oleh Bhineka Tunggal Ika,” demikianlah sebuah kalimat yang diungkapkan secara tegas oleh Walikota Medan (Drs H T Dzulmi Eldin S MSi) diwakili oleh Kepala Badan Kesbang Pol Kota Medan (Ceko Wakhda Ritonga SH) ketika secara resmi membuka Seminar Penguatan Pemahaman Bhineka Tunggal Ika di Hotel Madani [Selasa 26/9].

Dengan mengangkat tema “Memahami Perbedaan Untuk Persatuan”, diharapkan para peserta yang mengikuti seminar dapat memahami arti sesungguhnya dari Bhineka Tunggal Ika sebagai landasan untuk berfikir muktikultural dan dapat saling menghargai segala perbedaan yang di miliki.




Dalam sambutan Walikota Medan yang dibacakan oleh Ceko Wakhda Ritonga mengatakan, sejak awal berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia, para pendiri negara menyadari bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa yang majemuk karena terdiri atas berbagai suku, adat istiadat, budaya, bahasa daerah serta agama yang berbeda-beda. Dengan keanekaragaman tersebut, mengharuskan setiap langkah dan kebijakan negara dalam kehidupan berbangsa dan bernegara diarahkan untuk memperkuat persatuan dan kesatuan.

“Demi menyatukan banyaknya perbedaan, maka dipakailah semboyan Bhineka Tunggal Ika yang diambil dari Buku Sutasoma, maka secara mendalam Bhineka Tunggal Ika memiliki makna walaupun di Indonesia terdapat banyak suku, agama, ras, kesenian, adat dan bahasa, namun tetap satu kesatuan yang sebangsa dan setanah air,” kata Ceko di hadapan para peserta.

Lebih lanjut Ceko menjelaskan, keanekaragaman tersebut bukanlah merupakan perbedaan yang bertentangan namun justru keanekaragaman itu bersatu dalam satu sintesa yang pada gilirannya justru memperkaya sifat dan makna persatuan bangsa dan negara Indonesia. Disamping itu, bagi setiap masyarakat Indonesia, semboyan Bhineka Tunggal Ika dapat dijadikan sebagai dasar guna melaksanakan perwujudan terhadap kesatuan dan kerukunan bangsa Indonesia. Maka untuk itu Ceko berpendapat, sudah selayaknya Bhineka Tunggal Ika diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya dengan cara menjalani kehidupan dengan saling menghormati dan menghargai setiap individu.

“Semboyan Bhineka Tunggal Ika harus terus disebarluaskan sehingga menjadi perekat dari keanekaragaman yang bangsa Indonesia miliki. Jangan pernah memandang perbedaan suku dan agama, sebab setiap individu pasti memiliki perbedaan, maka dari itu tanamkanlah semboyan Bhineka Tunggal Ika dalam hati kita semua,” sambung Ceko.

Seminar yang berlangsung selama 6 hari ini diikuti oleh sebanyak 200 orang peserta yang dibagi menjadi 6 (enam) angkatan yang terdiri dari Kepala Lingkungan dan Tokoh Masyarakat di Kota Medan serta mengundang narasumber yang berasal dari KPU Kota Medan, Kodim 0201/BS dan Fisip USU.








Leave a Reply