Publik Karo Terkejut, Gubsu Keluarkan Kabupaten Karo dari Provinsi Sumut?

1
1248

Oleh: Karl Sumagara Sembiring (Medan)

 

Sebuah selebaran yang mengatasnamakan sumbernya Sumut Paten sangat mengejutkan warga Suku Karo karena terkesan Gubernur Sumatera Utara tidak mengakui Kabupaten Karo berada di wilayah Provinsi Sumatera Utara. Di selebaran itu tertera teks berikut:

Masyarakat Sumatera Utara Mengucapkan Terima Kasih Atas Kunjungan Presiden Republik Indonesia Yang Sudah Mengunjungi 2/3 Kabupaten/ Kota di Sumatera Utara.

Selanjutnya,  selebaran itu menerakan daftar Kabupaten dan Kota di Sumut yang telah pernah dikunjungi oleh Presiden RI (Ir. Jokowidodo). Anehnya, di dalam daftar ini, tidak tertera Kabupaten Karo. Padahal, Presiden RI Ir. Jokowidodo telah ketigakalinya mengunjungi Kabupaten Karo.

Selebaran ini terkesan dikeluarkan oleh Pemprov Sumut atau bisa juga Tim Sukses Erry untuk Pilgub 2018 karena ada tulisan Sumut Paten. Beberapa orang Karo warga Medan yang sempat saya wawancarai tidak menutup kemungkinan bahwa selebaran itu bisa juga disebarkan oleh pihak lain yang ingin memberi kesan teledor atau sembrono dari tim sukses Erry.




Sepengetahun saya, setiap kunjungan Presiden Jokowi ke Sumut selalu mengunjungi Kabupaten Karo, dan tentunya pengungsi Sinabung. Maka timbul lagi pertanyaan, apakah ini kesalahan penulisan, atau memang ada upaya menghilangkan jejak Karo suku mandiri dari peta nasional.

Dalam kunjungan terbaru Presiden Jokowi ke Sumut kemarin [Sabtu 14/10], sempat viral foto presiden yang duduk santai di rumah hunian korban Sinabung di Siosar (masih Kabupaten Karo). Tampak Jokowi dengan baju putih kebesarannya diapit dua warga yang belakangan diketahui seorang pernandén (Karo: ibu) beru Ginting dan perbapan merga Karo-karo Surbakti.

Begitu ramainya foto ini diperbincangkan di medsos dan menjadi sampul depan di media-media, namun dalam kunjungan presiden tidak diterakan Kabupaten Karo sebagai Kabupaten/ Kota yang telah dikunjungi oleh presiden. Demikian jika kita merujuk ke selebaran tersebut.

Ada beberapa dampak yang dapat muncul dari selebaran itu. Pertama, bagi orang-orang Karo atau asal Kabupaten Karo di perantauan yang tidak mengkonsumsi berita nasional, seperti halnya saya yang tidak menonton siaran tv nasional, akan menganggap presidennya tidak peduli dengan penderitaan rakyat Karo.

“Masak presiden keliling Sumut, tapi tidak mengunjungi korban erupsi Sinabung?”

Berastagi, Kabupaten Karo.

Dampak lainnya, adalah akan hilangnya Karo dari pembicaraan nasional. Setelah capek-capek pak presiden ke Siosar di Kabupaten Karo sana, eh… tidak disebut Kabupaten Karo di dalam daftar kunjungan. Orang-orang Indonesia di bagian lain dari Nusantara ini yang memang tidak tahu di mana itu persisnya Siosar dan Sinabung akan salah menafsirkan. Bisa saja mereka menafsirkan Siosar dan Sinabung itu terletak di Tapanuli Utara, Batu Bara, Humbang Hasudutan, Nias, ataupun Deliserdang.

Atau mereka anggap berada di Tanah Batak, padahal Tanah Karo dari dulu tidak pernah menjadi bagian Tanah Batak; baik secara administrasi pemerintahan maupun secara historis kultural.

Jadi, dugaan adanya upaya sistematis untuk menghilangkan Karo dari peta nasional akan terus ada, selama kekeliruan itu pun terus dipelihara dan bahkan disebarluaskan. Maka, jika selebaran itu merupakan kesalahan penulisan, baiknya diperbaiki dan dijelaskan ke umum. Jika tidak demikian, maka kecurigaan saya dan tentunya masyarkat luas bahwa ini sebuah upaya sistematis menghilangkan Karo dari peta nasional, baik sebagai sebuah suku yang sering diklaim bagian dari suku lain maupun sebagai wilayah ulayat dan tanah perjuangan merebut Kemerdekaan RI, memang benar.

Catatan: Setelah ditelusuri oleh SORA SIRULO, ternyata sumber dari selebaran ini adalah facebook dari Gubsu Tengku Erry Nuradi.











1 COMMENT

  1. “dugaan adanya upaya sistematis untuk menghilangkan Karo dari peta nasional akan terus ada,”
    Itulah memang ‘konspirasi’ besarnya. Perlawanan tidak habis-habisnya
    terhadap gerakan pencerahan KBB termasuk didalam ‘konspirasi’ itu. Bagi Erry Nuradi pribadi masih ada ‘dendam’ sama orang Karo karena mencaplok sebagian daerah Karo tempo hari dimasukkan ke kabupatennya ketika dia jadi bupati. Orang Karo pada marah ketika itu. Nuradi tidak menjawab sampai sekarang. Hal itu juga bikin dia tidak dekat sama orang Karo, hal yang tidak mengenakkan itu terbawa terus dalam hidupnya. Existensi orang Karo punya imbas yang besar bagi semua, tidak tahu juga kenapa.

    Bagi orang Karo solusinya masih tetap, hanya orang Karo yang bisa menyelesaikan dan memikirkan solusinya. Salah satu jalan yang sudah pasti benar ialah be a part of conversation, be a part of solution. Bicara, bicara, katakan apa yang harus dikatakan, tulis apa yang harus ditulis. Kalau diam saja idak akan ada perubahan.

    Keluarlah dari zona aman masing-masing. Kita punya media besar sekarang ini. Kita tahu benar bahwa 1 juta atau 2 juta suara mempopulerkan ‘konspirasi’ itu, dan melawannya atau mengurangi imbas negatifnya terhadap kultur Karo, tak ada jalan lain selain bicara, bicara, tulis, tulis, perluas dan perdalam argumentasi. Ini juga tidak bisa dilaksanakan kalau diam saja. Mencari argumentasi yang mendalam dan ilmiah adalah kesenangan dan hobby bagi orang Karo, karena sesuai dengan jiwanya. Ayo orang Karo, perbaiki nasibmu, be a part of conversation be a part of solution. Get out of your comfort zone.

    MUG

Leave a Reply