Apa yang salah dengan melakukan “kesalahan”, padahal kita sadar bahwa melakukan kesalahan adalah sesuatu yang alamiah dalam interaksi antara manusia? Masalahnya apakah kesalahan yang kita lakukan kemudian kita sadari, atau malah dengan pongah membuat “alibi” bahwa kita tidak salah dan kemudian menggunakan jurus kambing hitam sebagai objek untuk menempatkan kesalahan yang secara sadar kita sadari.

Posisi ke dua lebih sering kita temukan dalam realitas, bahwa belajar untuk mengakui kesalahan secara terbuka bisa jadi bukan menjadi tradisi kita.

Tradisi yang kita bangun dan praktekkan selama ini adalah menempatkan “rasa malu” di hadapan kesalahan, padahal justru sebaliknya, mengakui kesalahan secara terbuka bukanlah hal yang memalukan. Justru kita sedang melakukan praktek yang dikenal dengan istilah ‘honest’. Cuman saja, apakah bersikap honest cukup untuk menjawab persoalan? Ternyata jawabannya tidak.

Kita perlu membuktikan bahwa kesalahan itu tidak melebar ke mana-mana. Kemampuan untuk mengisolasi kesalahan adalah bagian dari proses panjang yang tidak selesai.

Intinya, salah dan benar itu cuman hidup dalam persepsi manusia. Bersikap terbuka atas kebenaran atau kesalahan menjadi kunci dalam membangun sebuah peradaban.

#Itusaja!








1 COMMENT

  1. “Bersikap terbuka atas kebenaran atau kesalahan menjadi kunci dalam membangun sebuah peradaban.”

    Wow, ini dia kuncinya, betul memang. Teringat apa yang dikatakan George Orwell dalam bukunya ‘1984’ dia bilang: “in a time of universal deceit, telling the truth is a revolutionary act.”

    Bahwa zaman sekarang adalah zaman ‘universal deceit’ penipuan, pembohongan dan juga kekerasan . . . mengatakan yang benar adalah aksi revolusioner, dan ini berarti juga melaksanakan revolusi mental anjuran presiden Jokowi. Katakan semua apa saja yang benar, tanpa argumentasi atau dengan argumenatasi. Katakan selalu yang benar.

    MUG

Leave a Reply