Kolom Eko Kuntadhi: IDEOLOGI IBLIS

1
727

Jika saja Joseph Sebastian Zebua lahir dari ibu berdarah Sunda bapak Betawi, akankah dia dibully teman-temannya? Jika saja mata Joseph tidak sipit dan kulitnya agak gelap dengan rambut ikal, akankah dia dimusuhi teman-temannya? Jika saja Joseph beragama Islam, akankah dia disakiti teman-temannya?

Jika saja Joseph sama dan sebangun dengan teman-temannya, baik agama, tampilan fisik maupun ras, apakah teman-temannya akan memperlakukan lebih baik?

Iya, Joseph lahir dengan potongan mirip anak berdarah Tionghoa, meskipun aslinya dia berdarah Nias. Agamanya Katolik. Semua temannya memanggilnya Ahok. Dia dituding bukan pribumi. Lalu dikucilkan. Diperlakukan bukan sebagai teman sekolah.




Lingkungan sekolahnya memperlakukan Joseph karena dia berbeda. Padahal, Joseph tidak pernah bisa memilih dari ibu yang mana dia dilahirkan. Dia tidak pernah memilih ingin bermata sipit dan berkulit putih. Dia tidak pernah berencana dari orangtua beragama apa dia hadir ke dunia.

Joseph adalah produk kreasi Sang Pencipta. Josep adalah buah dari kemahabesaran Tuhan yang berfirman dalam sebuah kitab suci, “Aku ciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling memahami.” Sama seperti kita semua.

Tapi Joseph lahir di jaman yang sedang dimabuk prasangka. Jaman dimana anak-anak telah diperkenalkan dengan kebencian pada perbedaan sejak dini. Jaman dimana orang membenci hasil kreasi Tuhan yang berbeda dengan dirinya.

Anak-anak adalah produk lingkungan orang dewasa. Orangtua, guru, tokoh masyarakat, televisi, mengasuhnya dengan menanamkan nilai. Mereka mendengar nasihat, mengdengar kutbah, mendengar kebencian yang dijejalkan ke otak kecilnya. Jika anak Kelas 3 SD bersikap rasis, maka orang dewasalah yang perlu berkaca.

Oleh teman-temannya, Joseph dipanggil dengan sebutan Ahok. Oleh lingkungannya juga diperlakukan seperti Ahok. Dinistakan, dipersekusi, disakiti dan dialienasi dari lingkungannya. Seperti Ahok yang kini diasingkan di Mako Brimob.

Joseph dimusuhi teman-temannya. Seperti juga Ahok yang didemo berjilid-jilid. Joseph seorang diri menghadapi lingkungan yang kejam. Seperti juga Ahok seorang diri menghadapi ratusan ribu masa yang dimobilisir dan mabuk jihad.

Tapi Ahok adalah orang dewasa. Dia bangga menyebut dirinya Cina dan Kristen. Itulah jalan Tuhan yang diarunginya. Berbeda dengan Joseph. Dia masih Kelas 3 SD. Mestinya rongga dadanya dipenuhi dengan persahabatan dan kasih sayang. Tapi lingkungan kecilnya telah merusak mentalnya. Dia tumbuh di sekolah dan lingkungan sosial yang kebencian dibiarkan tumbuh dengan subur.

“Kalau di sebuah negara mayoritas Islam, orang beragama lain hidupnya aman. Berbeda jika orang Islam minoritas,” saya pernah membaca pembelaan seperti ini di media sosial. Mereka berkata begitu, mungkin karena ingin menutupi kenyataan.

Bicaralah tentang itu di hadapan Joseph. Bicaralah di depan jemaah geraja yang gerejanya disegel dan mereka tidak bisa beribadah. Bicaralah di depan jemaat Kristen yang tidak mendapat ijin kebaktian di sebuah lapangan, dengan alasan karena merusak iman orang lain.

Lalu Anda bilang aman?

Joseph adalah potret guru-gurunya yang kehilangan empati dengan anak didiknya. Joseph adalah potret orang-orang tua murid yang mengajarkan anaknya tentang kebencian ras dan agama. Joseph adalah potret politisi yang mendikotomi pribumi dan nonpribumi. Joseph adalah korban dari masyarakat yang sakit karena ras dan agama dijadikan tembok penghalang untuk saling mengasihi.




Jika seorang menghina Tuhanmu, mungkin pemahaman dia tentang Tuhan berbeda denganmu. Jika mereka menghina ras-mu, sesungguhnya dia sedang menghina Tuhan yang menciptakanmu.

Kebencian rasial adalah musuh bebuyutan kemanusiaan sekaligus musuh bebuyutan ajaran agama. Kebencian itu seperi iblis, yang menolak menghormati Adam dengan alasan, “Aku lebih baik dari Adam. Aku diciptakan dari api, sedangkan Adam dari tanah.”

Lalu Tuhan pun murka.

Saat mendengar penghinaan rasial, rasanya saya seperti melihat iblis sedang menari di bumi. “Kami lebih baik dari Joseph. Karena kami pribumi, sedangkan Joseph bukan!”

Iblis manakah yang mengajarkan anak-anak Kelas 3 SD itu, hingga mereka mengikuti ideologi iblis?

FOTO HEADER: Penari remaja Nias dengan latar belakang anak-anak di sebuah kampung Nias.








1 COMMENT

  1. makin hari makin rusak rasa kebangsaan rasa keBhinekaan Tunggal Ika, kita; namun itu wajar karena makin suburnya ajaran intoleran kaum islam wahabi serta ormas2 garis keras; yg memang telah dipeliahara sejak zaman SBY; belum lagi etnis Arab yg sudah ngesohk merasa pemilik bagian Republik ini hingga merasa pencetus pertama Sumpah Pemuda lagi; miris; lucu; kayak nano nano rasanya melihat hal hal yg beginian….

Leave a Reply