Wajahnya terlihat lelah. Tapi keciriaan tidak lepas. Saat kami masuk ke ruangan itu, dia menyambutnya dengan senyuman. Ada sofa dan meja yang dikelilingi kursi. Kami duduk melingkar, disambut dia yang langsung membuka obrolan.

Dia menggenakan polo tshirt warna ungu. Kulit lengannya sedikit gelap. Tampaknya karena dia banyak menghabiskan waktu dengan berolahraga di bawah matahari.

“Kayak Batman Return. Menempa kekuatan tubuhnya di gua. Nah, gue nempa tubuh di penjara. Hahahahahha…” tawanya lepas.




“Waktu sebulan pertama di sini, jam kayaknya berputar lama sekali. Sekarang udah cepat. Balik normal lagi,” katanya membuka obrolan sambil becanda.

“Di sini waktu yang pas untuk koreksi diri. Gue gak bisa mengandalkan siapa-siapa. Semua harus dilakukan sendiri. Kalau air tumpah, lu gak bisa marah. Karena lu yang harus beresin sendiri. Jadi gak ada gunanya juga marah-marah.”

Lalu obrolan kami mengalir. Bukan mengenai tema yang berat-berat. Tapi cuma mengenai soal yang ringan. Seperti kepusingan dia ketika ada seorang ibu hamil yang meminta dia menulis surat buat jabang bayinya.

“Bayangin. Surat itu mau gue tujukan ke mana? Bayinya belom lahir. Namanya belom ada. Hahahahahhaha…”

Sambil terus menandatangi buku dan beberapa ornamen yang kami ajukan, obrolan terus saja mengalir. Tidak ada yang luar biasa dari obrolan kami. Seperti layaknya kumpulan orang yang sedang becanda di beranda rumah.

Pertemuan sore itu bukan pertemuan seorang mantan Gubernur dengan pendukung dan pengagumnya. Ini hanya kongkow sesama manusia. Ringan, jenaka dan manusiawi.

Thanks, Pak Ahok. Banyak hal-hal kecil yang selama ini luput, ternyata tetap menarik untuk dipetik hikmahnya.








Leave a Reply