Kolom Andi Safiah: ANALISIS POLITIK AMATIRAN

0
264

Islam politik akan melakukan apa saja untuk meraih kursi kekuasaan. ASU sudah membuktikan itu dan sukses. Tempat ibadah macam masjid-masjid menjadi “Jamban”, karena diperalat secara brutal oleh politisi yang tidak mengenal yang namanya “moral sense”.

Jadi, percuma capaian-capaian fisik yang dilakukan oleh pemerintahan Jokowi jika rumah-rumah ibadah dijadikan tempat “pembuangan sampah”. Politik macam ini tidak akan menyelasaikan problem-problem serius yang nyata, justru malah melahirkan kekacauaan yang semakin parah.

Inilah mengapa gaya politik “gado-gado” perlu dieliminir, karena percampuran antara agama dan politik hasilnya kerusakan, dan kerusakan itu sifatnya permanen.




Revolusi mental yang diperjuangkan oleh Jokowi hanya akan berakhir menjadi slogan kosong, karena mentalitas rasional hanya akan lahir dari proses pendidikan yang juga sifatnya rasional. Sementara cita-cita tertinggi dari pendidikan bangsa ini bukan menuju pada spirit rasionalitas, tapi irrasionalitas yang super absurd.

Kita butuh generasi baru yang berani mendobrak kebekuan berpikir dan itu harus dimulai dari merubah spirit pendidikan bangsa ini menjadi rasional dan itu artinya membuang semua pelajaran-pelajaran agama yang tidak penting dan menggantinya denga pelajaran-pelajaran yang berorientasi pada ilmu pengetahuan teknology.

Jadi, jika Jokowi ingin melanjutkan ke periode kedua, maka dia harus berani mengambil langkah besar saat ini, membekukan semua akses dari Islam politis, terutama yang beraliran radikal. Kalau aliran munafik tidak perlu dirisaukan, karena mereka cukup dicekokin dengan uang selesai.

Tipikal Islam munafik alias abal-abal cukup banyak, inilah yang membuat pertarungan politik menjadi “anomali” karena yang bermain dalam arena terbuka saat ini sesungguhnya antara Islam Salto vs Islam Salting.

Di luar aliran itu pada dasarnya cukup cengar-cengir sampai negara memberikan ruang bebas yang sesungguhnya untuk ikut berpartisipasi dalam ruang politik, sampai aturan main masih “anomali” maka mereka lebih senang bermain-main pada wilayah sosmed atau media-media netral macam Twitter, Facebook, Google Plus, Blogger, etc.

#Itusaja!








Leave a Reply