Kisah pengalaman Kopassus bongkar kiriman senjata CIA ke pemberontak PRRI/ Permesta 1958 (merdeka.com 27 Okt 2017) memang menarik. Ini menunjukkan kecekatan Kopassus menghadapi pemberontakan dan berhasil juga membongkar kenyataan campur tangan AS lewat CIA-nya dalam rangka meruntuhkan kekuasaan Soekarno yang anti Nekolim, anti imperialisme AS ketika itu.

CIA dan majikannya pada tahun 50-an masih ‘rendah’ pengetahuannya soal meruntuhkan kekuasaan suatu negara yang tidak disukai oleh pemerintahan imperialis AS, terutama kekuasaan Soekarno pada tahun tahun 60-an. Pengetahuan ‘rendah’ ini masih terus sampai 1965 dan baru ada perubahan setelah penggantian Dubes Howard P. Jones digantikan oleh Marshall Green  Juni 1965 dan berhasil bikin kudeta yang ‘indah’ itu menjatuhkan Soekarno pada bulan September. 




Keindahan kudeta ini digambarkan oleh seorang penulis DiEugenio: “It was a multi-layered, interlocking masterpiece of a clandestine operation. A coup d’ etat that was so well designed, so beautifully camouflaged, so brilliantly executed”. Ke’indah’an coup itu terutama dipuji oleh DiEugenio karena ada ‘kudeta pembukaan’ oleh Untung 30 September dan yang sudah direncanakan setahun sebelumnya dan yang langsung diikuti dengan kudeta sesungguhnya besok harinya 1 Oktober menjatuhkan Soekarno.

Taktik kudeta mulai dari daerah (pemberontakan bersenjata PRRI/ Permesta) menjatuhkan Soekarno jelas sudah gagal dan kemudian diganti dengan taktik menyusupi kekuasaan pusat dan berhasil gemilang. Dubes AS HP Jones sejak semula menentang cara ini, karena menurutnya Soekarno sangat kuat pengaruhnya di kalangan rakyat Indonesia.

Green sebelum menggantikan Jones sudah banyak mempelajari berbagai kudeta, berlainan dengan Jones yang hanya melihat pengaruh besar Soekarno dihadapan penduduk negeri Indonesia. Green dan CIA sudah merancang ‘premature coup’ (Untung 30 September) yang direncanakan akan gagal dan kemudian ditumpas dengan coup sebenarnya pada 1 Oktober. Keindahan kudeta ini terlihat hasilnya, Indonesia dikuasai oleh neolib internasional di bawah Soeharto selama 3 abad, dan mengeruk dolar triliunan dari bumi Indonesia selama setengah abad tanpa suara.

Itulah demi filsafat Duit, duit, duit . . . ‘siapa menguasai duit dia menguasai dunia’ dan bisa mendominasi human lives seantero dunia. 

Ada perdebatan yang sangat menarik soal duit dan dominasi human lives ini yang muncul tahun-tahun terakhir mengikuti pergolakan perubahan pemikiran dunia, antara John Robbins kontra Foster Gamble pendiri Thrive Movement. Menariknya ialah karena keduanya saling mengemukakan argumen, perbedaan dan pertentangannya dengan cara santun, saling menghormati dan menghargai pendapat masing-masing dengan alasan-alasan yang lebih mendalam dan luas.

Lihat kritik John Robbins di sini: JOHN ROBBINS CRITIQUE OF THRIVE MOVIE 

 Dan lihat jawaban Foster Gamble di SINI.








Leave a Reply