Felix Siauw ditolak di Bangil. Sebelum mengisi acara teman-teman Banser mengajukan sarat Felix untuk menandatangani pernyataan tidak akan menyebarkan ideologi khilafah. Tapi Felix menolak. Akhirnya kehadirannya dihadang Banser dan polisi.

Kesempatan penolakan ini digunakan Felix untuk mengeksploitasi ketertindasan. Dia bilang ceramahnya ditolak. Pengajiannya dibubarkan. Umat Islam sedang didzolimi. Padahal yang menolak adalah Banser yang notabene organ dari NU. Dan penolakan itu karena Felix gak mau menyatakan pengakuan pada Pancasila dan tidak ceramah yang provokatif.

Beginilah cara kerjanya. Mereka bertindak semaunya. Ketika ada sedikit hambatan mereka akan mengeksploitasi isu itu. Membangkitkan emosi bahwa Islam sedang dipojokkan. Tujuannya untuk menarik simpati. Sepertinya hanya dia yang mewakili Islam.




Jika kita petakan kondisi masyarakat Islam Indonesia dan pandangannya mengenai hubungan agama dan negara sekarang kita bisa menarik beberapa titik. Ada titik ekstrim yang ditempati pendukung jihad kekerasan seperti kelompok teroris atau ISIS. Ini titik paling ekstrim. Setelah itu titik ekstrim kedua yaitu pendukung khilafah seperti HTI. Nah, Felix ada dititik pendukung khilafah ini.

Jumlah kelompok paling ekstrim ini gak banyak sebetulnya.

Adalagi pendukung Ikhwanul Muslimin. Tujuan utamanya sama, ingin menguasai negara menggantikannya dengan ideologi keislaman atau setidaknya dengan nuansa-nuansa keislaman. Mesir jaman Murai dan Turki di bawah Erdogan adalah contohnya bagaimana saat mereka berkuasa. Fokusnya mengutak-atik konsensus negara. Disini PKS adalah perwujudannya.

Bedanya jika HTI adalah partai yang mau rebut kekuasaan tapi menolak masuk dalam sistem, sedangkan IM memilih untuk mendirikan partai dan ikut Pemilu.

Setelah itu ada publik yang tidak ikut-ikutan organisasi atau partai tapi pemahaman keagamaannya cenderung mendukung gerakan Islam politis. Kebanyakan mereka menganut ajaran Wahabi.

Ada kelompok yang posisinya agak di tengah yang cuma ikut-ikutan. Mereka suka dengan simbol-simbol agama. Kelompok ini termasuk rentan ditarik-tarik untuk mendukung politisasi agama. Atau Islam politik.

Di bagian paling tengah ada masyarakat Islam awam. Mereka mengindentifikasi diri sebagai kaum Muslim. Beragama secara tradisional dan pandangan politiknya berubah-ubah. Kadang setuju dengan ide-ide politisasi agama. Kadang menolak.

Setelah itu ada Muhamadiyah yang relatif memiliki pemahaman bahwa Indonesia sudah final. Tidak ada lagi tempat buat mendirikan negara Islam.

Lalu ada NU yang menyatakan berdiri di garis depan menjaga NKRI. NU inilah yang sering berdiri saling berhadap-hadapan dengan kelompok ekstrim agama tadi.

Setelah itu ada juga kelompok liberal. Mereka menolak ide-ide keagamaan untuk dicampur aduk dengan politik. Agama adalah wilayah private, jadi jangan sampai di bawa-bawa ke ruang publik.

Lalu ada kelompok nasionalis. Dulu orang menyebutnya Islam abangan. Islam yang bukan santri.

Semua ide-ide ini sekarang sedang terjadi saling menarik. Sebetulnya masyarakat yang berada di titik ekstrim seperti pendukung ISIS dan HTI atau IM gak terlalu banyak. Namun biasanya mereka mengusahakan menarik kelompok yang di tengah untuk bersimpati dengan gerakannya.

Bagaimana caranya? Dengan terus membelah publik dalam jargon Islam dan anti-Islam. Atau mengeksploitasi kasus-kasus kecil lalu ditempelkan dengan simbol-simbol agama seolah Islam sedang ditindas. Tujuannya untuk menarik simpati orang-orang yang di tengah itu.

Itulah yang dilakukan Felix saat dia dihadang Banser ceramah di Bangil. Itu juga akan dilakukan kelompok garis keras lain ketika menemui hambatan yang sama.

Lihat saja argumennya ketika penolak Perppu Ormas. Pemerintah sedang memusuhi umat Islam. Padahal yang ditolak adalah Ormas yang anti-Pancasila.

Nah, hal yang sama akan dilakukan untuk merespon segala persoalan kecil menyangkut dengan isu keagamaan. Tujuannya untuk menghembuskan suasana Islam sedang dipojokkan atau ditindas.

Tepatnya karena kita trauma dan menolak keras ide-ide agama secara ektrim, tidak sedikit dari kita terjebak untuk akhirnya alergi dengan segala sesuatu yang berbau agama yang tampil ke ruang publik. Padahal itu hanya masalah kecil saja.




Akibatnya rasa alergi seperti itu akan digunakan kelompok ekstrim untuk mengukuhkan eksistensinya. Bahwa Dalam sedang dimusuhi dan kehadiran negara Islam menjadi keharusan agar bisa mengenakan Syariah dan semua simbol agama di ruang publik.

Coba lihat kasus Ahok. Larangan memotong hewan kurban di area yang tidak steril justru dijadikan isu Ahok memusuhi Islam. Demikian juga dengan larangan takbir keliling. Padahal itu adalah masalah biasa. Pemda lain juga melarang.

Puncaknya ketika mereka berhasil mengeksploitasi sedemikian rupa statemen Ahok di hadapan nelayan P. Seribu. Lalu gelombang emosional itu dimanfaatkan untuk dipetik keuntungan politik. Mereka berhasil menjalankannya.

Sebenarnya itu adalah keberhasilan mereka menarik gerbong yang di tengah tadi untuk akhirnya berpihak kepadanya. Itu baru kasus Pilkada. Apa dampaknya jika strategi itu berhasil diterapkan pada Pilpres?

Nah, ini menurut saya bisa menjadi perhatian kita. Saya sih, memandang sebaiknya kita lebih fokus untuk menghadang gerakan Islam politis. Sebab tujuan mereka memang ingin mengganti ideologi negara.

Langkah Banser membubarkan acara Felix sudah tepat. Felix adalah corong HTI. HTI bercita-cita mendirikan khilafah. Jadi fokus perlawanan diusahakan pada titik ekstrim yang ingin mendirikan negara agama.

Untuk hal-hal yang tidak signifikan dampaknya, yang juga kadang melibatkan simbol-simbol agama di ruang publik sebaiknya hati-hati menanggapinya. Bukan apa-apa. Penolakan untuk hal-hal kecil akan digunakan untuk mengkampanyekan perasaan Islam sedang ditindas. Akibatnya mereka akan mendapat simpati kelompok yang mengambang tadi.

Jadi mereka tidak usah menarik orang untuk masuk HTI atau jadi teroris. Atau terlibat dalam struktur partai. Mereka cukup mencari simpati saja. Itu sudah bisa dimanfaatkan secara maksimal.

Nah, makanya saya tidak terlalu tertarik komentar soal surat edaran di UGM yang mengijinkan jalur masuk untuk penghafal Alquran. Itu cuma soal kecil. Jika itu dijalankan paling cuma tiga orang yang akan masuk lewat jalur itu. Tapi saat ada penolakan isu itu akan dikapitalisasi bahwa benar Islam sedang dipinggirkan. Untung saja hal itu kabarnya dibatalkan rektorat.

Jika kita terus bereaksi pada segala hal-hal kecil yang ada bau-bau agamanya saya kuatir itu akan terus dieksploitasi menarik kelompok tengah untuk bergeser semakin ke kanan. Kasus Ahok jadi pelajaran bagi kita.

Jad fokus saja melakukan perlawanan pada Islam politik. Pada ide mengganti dasar negara. Kita memilih skala prioritas perlawanan. Bukan mengkritisi semua hal yang berbau islam. Sebab dampaknya justru akan buruk.

“Kalau mas sendiri masuk ke kelompok mana?,” Tanya Bambang Kusnadi.

“Aku tetap Mbang. Kelompok makan bubur gak diaduk.”










Leave a Reply