Oleh: Leo Tarigan (Medan)

 

Ada seorang seniman Karo memposting sebuah video acara kerja tahun (pesta tahunan) di salah satu kampung Karo pada akun facebook pribadinya. Video tersebut, berisi audio visual yang mempertontonkan tarian yang bisa dibilang lebih cocok ditarikan pada sebuah Discotik, Bar ataupun Cafe remang-remang ketimbang pada sebuah pentas seni budaya kerja tahun. Tarian itu biasa disebut Penceng.

Menurut saya pribadi, Penceng terjadi karena dibiarkannya muda – mudi Karo yang tidak mengerti adat dan budaya untuk memimpin dan mengorganisir sebuah acara atau kegiatan budaya tanpa adanya bimbingan ataupun arahan yang tepat. Mengapa bisa terjadi?

Karena generasi yang lebih tua, yang umumnya lebih mengerti budaya, sudah terlalu letih mengurus kehidupan sehari-hari mereka, sehingga seakan tidak lagi memiliki kepedulian terhadap budayanya sendiri.




Di jaman yang mendewakan kepraktisan dan pragmatisme ini, budaya sering sekali dianggap hanya jadi beban bagi orang-orang tua yang sudah repot menanggung beban hidup sehari-hari. Sementara budaya itu sendiri nyaris tidak menyumbang apapun dalam meringankan beban hidup keseharian mereka.

Di sisi lain, anak muda yang energik dan tidak punya beban hidup terlalu berat, tertarik dengan acara-acara budaya karena butuh ruang aktualisasi diri, dan sebagai saluran pelepasan energi yang berlebih.

Jadi, tujuan anak-anak muda ini mengikuti atau melaksanakan acara budaya bukan karena ingin menghayati nilai-nilai yang terkandung dalam budaya tersebut, melainkan sebagai ajang bersenang-senang saja. Selama yang memahami budaya terus berdiam diri dan tidak mau mengambil tanggungjawab memimpin acara-acara kebudayaan, selama itu pula generasi-generasi yang tidak paham budaya akan terus melakukan apapun yang mereka sukai.








1 COMMENT

  1. Dengan kata lain mungkin generasi muda ‘kebablasan’ dalam meng-apresiasikan seni tari2an tradisional kita saat ini.
    Perkembangan jaman telah ‘meracuni’ gerakan dalam tari2an karo.

    Awalnya mungkin mencoba memadukan gerakan tarian ‘masa kini’ dengan alunan musik dlm ‘session salih (peralihan musik)’ tanpa adanya sempritan/teguran dari generasi tua utk menerangkan bhw ada rambu2 dlm menari karo (menjauhkan gerakan erotisme).
    Lama kelamaan kebiasan tersebut menjadi biasa utk dipertontonkan dan parahnya lagi akibat kebiasaan menjadi budaya.

    Sialnya lagi….generasi tua menjadi ‘penikmat’ session tersebut

    Hufftttttttt………jadi uga sibahan e????????????

Leave a Reply