DARAH MENGANAK SUNGAI DI PANCURBATU (Selamat Hari Pahlawan).

0
437

Oleh: T. Sehbana Pandia

Wartawan SORA SIRULO di Binjai

 

Pancurbatu atau orang Belanda menyebutnya Arnhemia (1934) karena sangat mirip dengan sebuah kota kecil di Belanda. Pancurbatu adalah sebuah kota kecil yang berada di lintasan antara Medan yang terletak di Karo Hilir (Karo Jahe) dengan Berastagi yang terletak di Karo Pegungungan (Karo Gugung). Hari pekan utamanya adalah Sabtu.


Kota ini menjadi menarik. Khususnya bagi orang-orang Karo yang tinggal di Karo Hilir termasuk Medan karena di sini menjadi pertemuan dari produk-produk yang datang dari Karo Pegunungan dengan produk-produk yang datang dari Karo Hilir. Karena itu, hampir semua kebutuhan keluarga Karo tersedia di sini. Termasuk gulai ikan mayung dgn asam cekala yang menjadi ciri khasnya. Hampir semua kedai nasi di sini menyediakan menu ini.




Pada zaman penjajahan Jepang, terjadi peristiwa berdarah di sini. Bermula dari Tentara Jepang yang menangkapi pimpinan pergerakan rakyat ARON (dari bahasa Karo yang artinya kelompok kerjasama pertanian) di Lianggagang/ Kutalimbaru dan menahannya di tangsi/ penjara Pancurbatu. Di jaman penjajahan ARON disamarkan menjadi kelompok perjuangan agar tidak dicurigai penjajah. Nama lengkap organisasi ini sebenarnya SETIA, singkatan dari Serikat Tani Indonesia Aron

Tempat persidangan Karo yang dibangun oleh C.J. Westenberg yang menjadi cikal bakal Kantor Pengalilan Pembantu Pancurbatu sekarang.

Ditangkapnya pimpinan Aron membuat suasana jadi panas. Seluruh pimpinan Aron mengerahkan aggotanya untuk berkumpul di Pancurbatu. Lebih 4.000 orang sudah berkumpul di sana dan sebagian masih berada di perjalanan. Padahal jarak yang mereka tempuh puluhan kilo meter jauhnya. Tapi mereka tetap semangat.

Pimpinan Aron kemudian mengajukan pemintaan kepada Kompetai Jepang namun tidak ditanggapi. Akhirnya pasukan Aron menyerang tangsi secara membabibuta. Tentara Jepang panik dan menembaki mereka.

Darah mengalir menganak sungai. 16 orang anggota Aron gugur di tempat. Mereka dimakamkan di dalam satu lobang di Pancurbatu arah simpang ke Delitua. Sedangkan yang luka-luka memenuhi bangsal-bangsal RSU Medan yang sekarang bernama Pirngadi.

Esoknya 5 orang lagi meninggal dan dimakamkan di Medan. Sungguh sadis perbuatan mereka terhadap pejuang kita. Untunglah kita cepat MERDEKA!

SELAMAT HARI PAHLAWAN 10 N0VEMBER 2017. MERDEKA !!!!








Leave a Reply