Sama seperti tulisan saya sebelumnya, yang berkaitan dengan DKI Jakarta, bahwa saya bukanlah warga DKI Jakarta. Tulisan sebelumnya kalau saya tidak lupa, judulnya: Aku Ingin Jadi Warga DKI Jakarta. Masih saja sama, saya tidaklah warga DKI Jakarta. Saya adalah kelahiran di desa kecil di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Akan tetapi, dalam KTP elektornik saya, tercatat saya adalah warga Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Jujur saja, saya mengidolakan Ahok. Sebenarnya bukan nama itu yang kuidolakan. Apa yang dia perjuangkanlah yang membuat sosok itu sangat aku kagumi. Dengan kata lain, perbuatan seseoranglah yang membuat arti terhadap nama yang ia miliki. Sekalipun saya menamai anak saya Guy Deutcher, tidak akan bisa menuangkan kebaikan dalam buku yang menyamai “Spiegel Der Sprache”.




Salah satu kekaguman saya terhadap beliau adalah cara pandangnya terhadap Bonus Demografi Indonesia yang diperkirakan akan dimulai pada 2025. Seperti yang dipaparkan dalam banyak berita cetak, TV, maupun media online, pada tahun itu akan ada lonjakan penduduk usia produktif Indonesia. Jumlah tersebut akan menjadi 60% dari jumlah penduduk secara keseluruhan.

Dikatakan bonus, karena usia tersebut masuk kategori produktif, yakni usia bekerja. Jika manusianya memiliki kualitas yang baik, kemudian terdapat lapangan kerja yang memadai, maka inilah bonus itu. Ekonomi yang dihasilkan akan berdampak sangat ekstrim. Industri di semua bidang akan naik. Jika masyarakatnya memiliki daya beli yang baik, semua industri yang menyediakan kebutuhan hidup akan naik juga.

Hal-hal yang baik itu adalah kondisi yang diharapkan. Akan tetapi kondisi yang tidak diharapkan bisa saja terjadi. Jika sumber daya manusianya tidak memiliki persiapan, dan juga tidak ditopang dengan lapangan pekerjaan yang baik, maka bukan bonus yang dimiliki Indonesia, akan tetapi bisa berakhir dengan chaos.

Ahok ketika itu dalam satu wawancara, saya lupa stasiun tv yang mana, menyampaikan bahwa Sumatera Utara dan Jakarta merupakan daerah yang dapat dilakukan persiapan menyambut bonus demografi tersebut. Kedua daerah ini dipilih karena reformasi di segala bidang diperlukan dalam waktu yang singkat. Tidak banyak waktu.

Ahirnya beliaupun sampai ke kursi nomor satu DKI Jakarta. Banyak hal yang dilakukan, baik ketika masih menjabat sebagai wakil gubernur maupun ketika sudah menjabat sebagai gubernur. Perubahan juga sudah terasa. Banyak kebijakan yang memang tidak populis, akan tetapi untuk kebaikan semua orang tidak akan pernah semua orang akan sejalan. Rintangan pasti ada.

Pelantikan gubernur baru  ahirnya dilaksanakan, yakni 16 Oktober 2017. Annies Baswedan- Sandi resmi menjabat Gubernur dan Wakil Gubernur DKI-Jakarta yang baru, akan tetapi Ahok mendekam di penjara.




Seperti yang sudah saya paparkan, saya mengidolakan apa  yang dilakukan Ahok terutama menyongsong Bonus Demografi Indonesia. Harapan itu tetap ada kendati gubernurnya sudah berganti. Dalam kata lain, saya sangat berharap, berdoa, dan mendukung kepemimpinan Anies-Sandi agar dapat mewujudkan harapan itu. Apa yang baik, yang sudah dikerjakan pemerintahan sebelumnya, kiranya minimal dapat dipertahankan, dan tentu masyarakat berharap yang lebih baik.  Kerugian besar akan dialami masyarakat jika sumberdaya manusianya serta elemen yang lain yang saling berkaitan, tidak siap menyambut bonus demograi itu.

Nama yang baik adalah langkah awal untuk kebaikan, akan tetapi apa yang kita perbuatlah yang memberi makna apakah baik atau buruk nama itu.

Salam semangat dan perjuangan.










Leave a Reply