DKI Jakarta sebagai etalase negeri ini, sebagai wajah, sekaligus sebagai ibukota Indonesia, oleh 2 orang sontoloyo ini sepertinya sengaja dirusak. Sengaja dibuat carut marut. Kebijakan yang seharusnya menyelesaikan masalah, oleh mereka menyelesaikan masalah dengan masalah.

Faktanya adalah, Tanah Abang dibiarkan semrawut. Sepertinya Si Sontoloyo sengaja membiarkan hal itu. Pedagang sudah unjuk gigi berjualan di trotoar. Eehh, 2 orang sontoloyo ini malah rembugan sama preman. Yang namanya preman, mana ada kerja pakai otak? Tentu mengandalkan otot.




Pengendara roda 2 akan diperbolehkan melintas di Jl. Thamrin. Artinya apa? Jelas, ini penyelesaian yang ngawur. Jakarta yang oleh Pak Jokowi-Ahok-Jarot dibenahi, ditata, oleh 2 sontoloyo ini akan dibuat semakin macet dan amburadul.

Apakah ada maksud terselubung dengan kebijakan-kebijakan itu?

2018 di Jakarta, ada pesta Asean Games. Tentu akan banyak wisatawan, duta olahraga serta wartawan dari seluruh wilayah Asia akan “tumplek blek” di Jakarta. Akan berada di Jakarta mengikuti Pesta Olahraga Asean Games.




Jika DKI Jakarta semrawut, tentu konsentrasi aparat keamanan tersita untuk ngurusin hal-hal yang sebenarnya sepele. Dan, kesemrawutan di Jakarta bisa jadi dimanfaatkan oleh para teroris untuk menebar teror.

Jika ini terjadi, 2 sontoloyo dan politikus sontoloyo akan menyerang Pak Jokowi dengan berbagai macam ocehan. Salah satunya, pemerintah Pak Jokowi tidak aman.

Yang ke dua, konsentrasi masyarakat akan selalu tertuju di DKI. Pers dan pendukung Pak Jokowi dibuat lupa, dibuat terlena hingga lupa menyuarakan prestasi pemerintahan Pak Jokowi.

Padahal, mereka dengan pasukannya yang militan sudah bergerak di setiap penjuru mata angin dengan mengusung bahwa Rezim Jokowi dianggap tidak Islami. Suka mengkriminalisasi ulama, dan seterusnya.

Ingat, Pilkada DKI mereka menghalalkan segala cara. Bisa jadi Pilpres 2019 mereka juga menggunakan cara-cara keji. Resiko terbelahnya kerukunan bangsa ini dipertaruhkan.

Oleh siapa? Oleh manusia sontoloyo!





Leave a Reply