Oleh: JONI H. TARIGAN (Lembang)

Sudah lama saya ingin menuliskan ini, tulisan berjudul mendengar sebuah tulisan. Mungkin ada yang merasa aneh, ada juga mungkin sudah mendapat gambaran ke mana arahnya, atau mungkin juga merasa ini tidak ada artinya.

Mendengar dalam bahasa Latin yang pernah saya pelajari sekitar 14 tahun yang lalu, adalah Audere. Dari kata dasar itulah kemudian berkembang menjadi audio untuk peralatan yang bisa menghasilkan suara seperti tape, radio, speaker dan lain sebagainya.

Audiometri adalah turunan lain dari Audere ini yang mana istilah ini adalah mengacu ke pengujian kemampuan mendengar. Dengan kata lain mendengar itu dilakukan untuk sesuatu yang bersuara. Mendengar ceramah, teman bercerita, sandiwara radio, siara di TV, semua itu bisa didengarkan karena memang sumbernya mengelurkan suara.




Lantas apakah anda pernah mendengar tulisan? Secara umum tulisan atau goresan- goresan di sebuah benda dikenali dengan membacanya, bukan mendegarnya. Saya juga orang normal yang melakukannya, yakni membaca. Akan tetapi bagi saya pribadi, saya mengalami dua kegiatan yang terjadi salam waktu bersamaan ketika membaca.

Pertama adalah membaca itu sendiri. Ke dua, dalam waktu bersamaan saya merasa tulisan-tulisan itu diucapkan oleh si penulis buku. Apakah anda mengalami hal yang sama?

Sesekali saya tersenyum mendengar kalimat-kalimat yang saya baca. Ada kalanya saya begitu terburu-buru ingin mendengar semua isi bukan dengan cepat. Kadangkala saya juga merasakan suara kesedihan dan kekawatiran dari buku.

Kadang saya berhenti membaca, untuk merenungkan suara yang diucapakan oleh tulisan itu. Kadang saya terdiam, pertanda protes atas perkataan buku yang saya balik halaman- demi halaman. Saya membaca untuk kemudian mendengarkan dari buku yang saya punya. Mendengarkan dalam hal ini, jika menggunakan bahasa Inggeris bagi saya lebih condong ke listen dibandingkan dengan hear.

Saya menikmati buku dengan mendengarkan apa yang saya baca. Jika kita dapat mendengar dari apa yang kita baca, maka tata krama dalam komunikasi dapat kita terapkan dalam membaca. Tata krama komunikasi yang saya maksud adalah, kita akan memberi orang lain kesempatan yang cukup untuk mengutarakan pendapatnya, baru kemudian kita dengan sopan memberi tanggapan. Artinya, saling menghargai akan membuat komunikasi dapat mencapai tujuan yang baik, yakni memiliki pemahaman yang sama tentang tujuan akhir yang baik.




Perihal tata krama ini juga sangat relevan dalam membaca atau mendengar tulisan. Saya sering sekali, bahkan hampir setiap hari membaca berita-berita melalui smartphone. Kadang berita-berita itu lewat Facebook, CNN, BBC, Kompas, Detik, Jawa Pos, dll. Praktek mendengar yang saya lakukan dalam membaca adalah, menyelesaikan keseluruhan artikel yang saya baca. Saya akan berkomentar, baik itu lisan ataupun tulis langsung di media online, setelah selesai membacanya.

Saya juga pada umumnya membaca komentar-komentar dari pembaca yang lain. Dari komentar- komentar ini saya menemukan bahwa ada komentar yang tidak sesuai dengan isi tulisan. Akan tetapi memang komentar itu sangat sesuai jika hanya melihat judul artikel saja. Membaca judul tulisan saja, kemudian memberikan komentar, ini sama saja dengan menghakimi orang lain tanpa memberi kesempatan untuk menjelaskan hal-hal yang sedang diperbincangkan.

Tata krama mendengarkan ini, akan sangat baik kita terapkan dalam menggunakan media sosial. Bagaimana cocok kam rasa? Salam semangat dan perjuangan.










Leave a Reply