Kolom Nisa Alwis: DENGAR PENDAPAT

0
331

Kamu pasti menduga aku akan sedih jika pindah rumah. Sama sekali tidak. Sebab aku hanya terima beres. Hanya membantu mengangkat mainanku yang berserakan di lantai ke kardus. Setelah itu Bapakku yang mengangkut kardusnya ke dalam mobil. Jadi, tidak perlu sedih, bukan?

Awal mula datang dan tinggal di Madinah kami tinggal di apartemen. Sebetulnya itu rumah kotak bertingkat, bersusun. Satu gedung isinya puluhan kamar studio. Salah satu kamar itu berisi orang Banten; bapak, ibu dan aku. Lokasi rumah ini sangat dekat dengan Masjid Nabawi.

Saking dekatnya, jika ingin pergi ke mesjid bersejarah ini cukup membuka pintu kamar, berjalan keluar melewati pintu yang terbuka, tutup lagi pintunya. Lalu turun tangga dari lantai lima, dan terus berjalan ke depan sekitar 100 meter, lebih 500 meter. Jika hitungan meterannya kelebihan atau kurang mohon dimaafkan.

Sekali lagi saking dekatnya, kami cukup berjalan kaki, karena di sana abang becak juga tidak ada. Dari jendela rumah bisa terlihat Baqi. Itu kawasan pemakaman yang luas. Begitulah lokasi rumah pertamaku ini, penuh dengan semangat spiritual.

Meskipun aku tidak tahu nama tempatnya, alamat jelasnya, siapa RT, RW, dan lurahnya itu tidak membuatku ragu-ragu. Karena aku tahu pasti King Fahad, itu raja Saudi. Raja yang jenggotnya selalu ingin aku tiru jika kelak aku dewasa dan berjenggot juga.




Di tempat pertamaku ini tidak banyak cerita, tidak ada teman, aku hanya bermain dalam kamar bersama mobil-mobilan, kapal-kapalan. Jika lapar aku makan, jika haus aku minum, walaupun bulan Ramadan aku tetap makan dan minum. Karena aku bukan mahasiswa. Aku anak TK.

Tiba-tiba aku pindah rumah. Kenapa tiba-tiba? Karena jika tidak, maka tidak akan tiba-tiba. Artinya, itu tidak terjadi. Apa yang terjadi hingga harus pindah? Itu hasil keputusan dan perundingan Bapak dan Ibuku. Aku tidak pernah diajak mikir tentang kepindahan rumah kami. Pindahnya masih di Madinah juga. Bapakku masih betah tinggal di tempat yang banyak kurmanya. Tapi rumah kami kini jauh dari Masjid Nabawi.

Aku tidak ingat tepatnya jam, tanggal, hari apa, bulan apa, yang jelas aku pindah menempati rumah kedua. Bercat kuning agak coklat atau coklat agak kuning. Posisi rumah tiga lantai ini sangat strategis, ada satu pintu masuk berwarna hijau. Pas depan pintu masuk itu ada jalan yang lurus sekitar 70 meter. Jika lurus terus maka kamu akan menabrak bukit yang diatasnya ada masjid. Jika ingin selamat kamu harus belok kiri. Di situ ada lapangan pasir tempat biasa aku main. Kalau tujuan kamu ke masjid jangan berhenti di lapangan. Itu belum sampai. Lanjutkan langkahmu sedikit ke atas bukit.

Kami tidak sendiri di rumah ini. Ada juga satu keluarga sesama mahasiswa Indonesia. Sumi, istri dan satu anaknya, lebih kecil dari aku. Dan sewaktu-waktu banyak mahasiswa-mahasiswa lainnya berkumpul dan makan-makan. Aku yakin kepindahan rumahku ke tempat baru itu merupakan hasil rapat dan dengar pendapat mereka itu. Dan Bapakku itu ketua PPI.

Mereka sepertinya bertekad untuk membangun suasana belajar dan keluarga sakinah. Sayangnya para mahasiswa itu tidak mengajak rapat siswa TK.

Padahal aku ingin bertanya mana lebih enak ke Masjid Nabawi berjalan kaki, atau naik mobil. Karena sudah pindah, paling jawaban mereka; wahai anak kecil, kami ini anak kuliahan. Fikiran kami bukan hanya bagaimana Ke masjid Nabawi.

Pada bagian ini kamu akan tahu alasanku. Ini adalah laporan harta kekayaanku sewaktu kecil. Mainanku 2 karung. Kalau masuk kardus bisa jadi 4 kardus besar, atau 6 kardus indomie. Inventarisku ini adalah sebuah hasil usahaku, merengek tiap pulang solat dari Masjid Nabawi. Dengan catatan tingkat keberhasilan usaha saya lebih tinggi jika pulangnya berjalan kaki berdua ibu. Aku tidak begitu berdaya kalau pulang digendong Bapakku.








Leave a Reply