Akankah Bupati Deliserdang Jadi ke Kampung Terisolir Laja?

0
470
Laporan Wartawan SORA SIRULO

Seriulina beru Karosekali

dari Sibolangit, Deliserdang

 

Laja, sebuah kampung (kuta) tradisional Karo di tengah hutan yang terabaikan di Deli Hulu. Menurut penuturan orang-orang tua, kampung ini di masa pre-kolonial hingga kolonial merupakan salah satu tempat persinggahan orang-orang karo yang membawa garam (perlanja sira) dari daerah Pantai Timur Sumatera ke Dataran Tinggi Karo.

Luas wilayah kampung sekitar 100 ha yang dihuni oleh hanya 50 keluarga.

Menurut hampir semua warga kepada SORA SIRULO saat mengunjungi kampung ini beberapa waktu lalu, Laja belum pernah mendapatkan perhatian serius dari pemerintah; baik dalam hal infrastrukturnya mapun kesejahteraan warganya.




“72 tahun sudah Indoneia Merdeka, tapi sampai sekarang anak-anak sebagian masih harus berjalan kaki sejauh 5 km untuk pergi ke sekolah melewati hutan, perbukitan dan lembah. Namun begitu, saya sungguh bangga lahir di kampung ini, karena dari sini saya belajar banyak hal; keberanian, kerja keras, tidak mudah menyerah, gotongroyong, hubungan kekeluargaan yang sangat dekat satu dengan yang lain,” kata seorang perempuan dari merga Karo-karo yang sekarang tinggal di sebuah kota jauh dari Laja saat kebetulan berkunjung ke kampung asalnya ini.

Laja bisa dimasuki melalui Desa Batu Layang (Sibolangit) dengan jarak tempuh sekitar 5 Km dengan kenderaan roda empat, tapi lantainya harus tinggi seperti jeep atau sejenisnya yang bukan sedan. Bisa juga ditempuh dengan dengan jarak tempuh 4 km dari Desa Pertembuken (Kecamatan Sibiru-biru) atau 5 km dari Desa Penen (Kecamatan Biru-biru). Tapi, dari kedua desa terakhir ini, hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Bisa juga sih ditempuh kenderaan roda dua, tapi harus yang bermesin tahan banting.

Bendahara Desa Salabulan, Estepanus Karosekali, dengan latar belakang jalan menuju Dusun Laja melalui Desa Pertembuken.

Setibanya di Laja, anda bakalan butuh tukang urut karena badan pasti sakit dilempar ke sana sini ketika kita berada di dalam mobil jeep sebagaimana dialami reporter anda saat memasuki kampung ini dengan menumpang kenderaan roda empat.

Mungkin anda membayangkan kampung ini sangat gelap gulita pada malam hari, karena sepanjang perjalanan hanya akan melihat pohon-pohon dan hutan hujan tropis yang masih primer. Tidak ada tiang listrik PLN sama sekali. Tapi, ketika anda memasuki daerah perkampungan mungkin anda akan terkesima melihat tiang-tiang listrik yang, walaupun tidak setinggi tiang PLN.

Jangan harap anda menemukan kamar mandi umum di kampung ini. Jangan pula bayangkan warga pergi ke sungai atau pancuran untuk mandi atau mencuci sebagaimana biasanya di kampung-kampung tradisional apalagi terpelosok begini. Kampung yang didirikan oleh bapa Karo Sekali mergana ini sudah menerima aliran air bersih untuk memasak, mandi, dan mencuci di rumah masing-masing.




Pengadaan air bersih adalah atas swadaya masyarakat yang bersatu hati bergotongroyong bahu membahu membangun desa sendiri atas bimbingan Parpem GBKP Sukamakmur yang pernah mendapat Kalpataru atas kegiatannya dalam mengalirkan air bersih dan sehat dari pegunungan atau hutan ke pemukiman di banyak kampung Karo; baik di Dataran Tinggi Karo (Kabupaten Karo, sebagian Kabupaten Simalungun, dan sebagian Kabupaten Dairi) maupun di Karo Hilir (Kabupaten Deliserdang dan Kabupaten Langkat). Ini berawal dari proyek Pdt. Borong Tarigan saat mengalirkan air bersih ke Desa Munte (Kecamatan Munte Kabupaten Karo) di masa Emil Salim sebagai Menterli Lingkungan Hidup dan Kependudukan.

Sri yang berasal dari kampung mengatakan kepada SORA SIRULO masih sangat lekat di dalam kenangannya, semasih kecil, warga Dusun Laja bergotongroyong sampai terkadang meninggalkan pekerjaan bertani demi bekerja bersama para relawan dari Parpem GBKP Sukamakmur.

Hutan di sekitar Laja

“Mereka membangun bendungan yang nantinya bakal jadi Pembangkit Listrik Tenaga Air yang menerangi Dusun Laja dan Pagar Aji sampai sekarang. Begitu juga saat pembangunan bak penampung air yang bakal dari sana dialirkan ke rumah-rumah. Warga  bergotongroyong meninggalkan pekerjaan bertani mereka masing-masing. Begitulah hebatnya Parpem GBKP memberi semangat kepada warga. Makanya saya tidak heran lembaga ini pernah mendapat Kalpataru di masa Menteri Emil Salim,” tutur Sri.

Mungkin dibandingkan dengan desa sekitarnya Dusun Laja yang paling tertinggal terutama bila dilihat dari sudut pembangunan jalan dan prasarana pemerintahan. Namun, hidup di kampung ini lebih nyaman dibandingkan dengan kampung-kampung lain. Ya, itu tadi, mereka sudah memiliki MCK (Mandi Cuci Kakus) di rumah masing-masing. Kenyamanan ini bukannya didapat dengan mudah. Tanpa rasa sosial yang tinggi dari warga mustahil kampung kami bisa dialiri air ke rumah-rumah dan diterangi listrik pula.

Kandang ayam salah seorang warga Dusun Laja

Terdengar kabar gembira. Saat ini, mudah mudahan saja apa yang diimpikan dan diharapkan warga Dusun Laja dan Dusun Pagar Aji akan terwujud. Sebagaimana dituturkan Bendahara Desa Salabulan (Kecamatan Sibolangit) yang mana salah satu dusunnya adalah Laja, Camat Sibolangit akan datang berkunjung ke dusun ini untuk mempersiapkan penyambutan kedatangan Bupati Deliserdang yang akan meresmikan Kantor Desa Salabulan.

“Kedatangan bupati ini merupakan tanda-tanda sudah mulai ada perhatian dari Pemerintah Kabupaten Deliserdang ke dusun-dusun di sekitar ini,” kata Estepanus Karosekali kepada SORA SIRULO.

Semoga saja impian warga sekitar, khususnya tersedianya sarana jalan untuk kenderaan roda empat yang nyaman, menjadi kenyataan.

Berita terkini yang didapat oleh SORA SIRULO mengatakan kedatangan Bupati deliserdang itu direncanakan pada 23 desember 2017 mendatang.










Leave a Reply