Kolom Eko Kuntadhi: TERANG DI SORI TATANGA

0
303

Jam 11.40 kami terbang dari Bandara Cengkareng menuju Praya, Pulau Lombok. Lalu berganti pesawat meneruskan penerbangan ke Bima, NTB. Dari sana, kami masih harus melewati perjalanan darat sekitar 5 – 6 jam.

Jalanan cukup mulus. Awalnya sisi kanan kiri masih ada lampu jalan yang menyala. Lalu kami memasuki kegelapan. Kanan kiri jalan padang sabana membentang. Sayang, matahari sudah tenggelam. Yang kami saksikan di sepanjang jalan hanya warna hitam.

Setelah menyusuri jalan mulus, lalu kendaraan berbelok. Kali ini menuju jalan berbatu. Suasana benar-benar gelap. Hanya lampu mobil yang meneranginya. Sekitar 1 jam perjalanan, kami tiba di sebuah perkampungan transmigrasi.




Ada 100 rumah di sana. Sebagian sudah rusak karena tidak berpenghuni. Kini hanya 70 rumah ada penghuninya.

“Warga yang pergi dari kampung ini karena tidak sanggup hidup dalam kegelapan. Listrik gak ada. Air juga agak susah,” ujar Lalu Ahmad Istraudin, salah seorang warga Dusun Bukit Sari, Desa Sori Tatanga (Kabupaten Dompu, NTB).

Yups. Kami merasakan apa yang dibicarakan Istraudin. Suasana gelap di sekeliling dusun, di kaki Gunung Tambora ini.

Di Balai Desa yang sederhana, kami berkumpul. Tim Kementerian ESDM, seluruh warga dan beberapa awak media duduk ngeriung dalam suasana yang bersahabat. Tim ini datang ke pelosok untuk melakukan pemasangan instalasi lampu tenaga surya hemat energi.

“Ini termasuk program Kementerian ESDM untuk menerangi 250 ribu rumah yang belum tersentuh listrik di seluruh pelosok Indonesia. Tahun ini targetnya 80 ribu rumah bisa kami terangi,” ujar Dadan Kusdiana, Kepala Biro KLIK Kementerian ESDM.

Esoknya tim langsung bergerak. Beberapa rumah yang belum mendapat penerangan langsung dipasangi. Rumah-rumah lain sudah mendapat bagian, dari tim yang terdahulu sudah tiba di lokasi. Ada perangkat panel surya yang diletakkan di atas genting rumah. Perangkat itu bisa membuat 4 buah lampu LED menyala, plus satu koneksi untuk charger HP.




“Kekuatan perangkat ini baru untuk penerangan saja. Idealnya nanti PLN yang membuat jaringan. Semoga saja bisa lebih cepat,” harap Dadan.

Tapi, meskipun hanya 4 buah lampu/ rumah, sudah membuat warga di pelosok ini bergembira. Anak-anak dusun yang tadinya kesulitan belajar karena tidak ada pencahayaan yang cukup, kini bisa membaca buku sekolah di bawah sinar lampu LED.

“Tadinya habis magrib, dusun ini sepi. Seperti tidak ada kehidupan. Sekarang kami tidur rata-rata jam 10.00 malam,” ujar salah seorang warga.

Dengan perangkat ini, warga sama sekali tidak perlu membayar listrik. Karena tenaga diambil dari sinar matahari yang melimpah ruah di padang sabana itu. Sepercik sinar lampu membuat rakyat dusun tersenyum.

Penulis kanan) bersama-sama anak-anak setempat.

Ah, saya jadi ingat beberapa teman di kota besar. Saat ini untuk kemudahan pelayanan PLN sedang mengubah pengelompokan pelanggan. Tidak ada perubahan biaya sama sekali. Tapi apa yang terjadi?

Mereka menuduh pemerintah akan menaikkan tarif listrik. Isunya digoreng seperti pisang. Dimainkan sedemikian rupa untuk merusak kinerja pemerintah Jokowi. Padahal, jauh di pelosok ini, ribuan orang hidup dalam gelap gulita. Mereka kini tersentuh derap pemerataan. Dusun yang gulita mulai memercik cahaya di waktu malam.

Seperti juga cahaya harapan untuk kehidupan lebih baik di masa datang.

“Anak-anak kami bisa mengerjakan PR sekarang,” kata seorang ibu.

“Semoga dia bisa jadi bidan, sesuai dengan cita-citanya,” cetusnya lagi sambil menunjuk anak perempuan 11 tahun yang sedang terlungkup di lantai, berhadapan dengan buku tulis yang dekil.

Mendengar kisahku, Bambang Kusnadi terdiam.

“Di sini, meskipun cuma bakul bubur, saya gak pernah kegelapan, mas. Di sana, saudara kita harus berjuang gila-gilaan cuma untuk hidup yang layak. Saya harus banyak bersyukur, ya,” aku melihat wajah Bambang yang tiba-tiba melankolis.










Leave a Reply