Menyimak perjalanan Anies Sandi yang super kocak sekaligus super koplak, ujug-ujug tersirat sebuah pemikiran, untuk apa Anies Sandi kita kritik? Apa untungnya? Kenapa gak sebaiknya kita onggrong, orang Jawa menyebut dibombong, dipuji-puji?

Ketika kawasan Tanah Abang makin semrawut, ya biar saja. Malah kalau bisa kita katakan: “Woww…. keren. Tanah Abang makin rame dengan pejalan kaki. Hebat tenan gubernur baruu.”

Juga Ketika Anies Sandi membuat kebijakan menghambur-hamburkan duit rakyat, kenapa harus dibully? Kenapa musti dinyinyiri? Kok kayak kurang kerjaan saja, kan lebih bagus kita beri apresiasi.




“Cckckckck…. Anies Sandi top markotop. Hueebaaat abis. Luar biasa. Duit rakyat memang harusnya ya dibuat bancakan. Ngapain mikirin ngumrohkan Marbot? Ngapain mikirin kesejahteraan PNS dan Pasukan Oranye? Ngapain mikirin pemegang KJP atau KJS ? Toh terpilihnya Anies Sandi karena SAIMAN. Yang milih Anis sandi dijamin Mak Clingkrik masuk surga, ya tow?”

Juga ketika DKI makin ancur-ancur hatiku kayak lagu Olga, banjir makin merajalela di mana-mana, untuk apa dirasanin ? Ya biar saja. Justru harusnya kita sanjung-sanjung.

“Inilah contoh pemimpin yang joss. Yang super. Untuk apa repot-repot dan capek mikirin rakyat, lha wong sudah ngerti orang tidak berkwalitas kok dipilih. Siapa yang goblok, hayoo?”

Lalu ketika Monas mau dipakai acara dzikir bersama oleh Alumni 212, ya biar, to. Bukti bahwa Anies Sandi berbicara rekonsiliasi ternyata hanya ndobosss.




Jadi, untuk apa Anies Sandi jangan dikritik? Untuk apa Anies Sandi kita dukung? Untuk apa Anies sandi kita sanjung-sanjung?

Jika DKI makin rusak, jika dalam pemakaian duit rakyat sak enak udele dewek, tinggal sorak-sorak bergembira agar Anies Sandi terperosok di lubang yang dia bikin. Trus kena pecat.

Sukur-sukur sebelum 2019. Supaya apa? Agar para “penthol korek” matanya melek bahwa pilihan mereka tidak becuuuuss.

Dan mbisiki telinga KPK: “Mas KPK, ini datanya. Tolong diusut, ya.”

Aahhh, menulis wacana sambil nyruput memang sodaaap.


Leave a Reply