Perjalanan yang penuh hingar bingar kasus SN telah mencapai klimaks. Fore play yang begitu lama dan melelahkan membuat bangsa ini terbawa situasi dan kontra produktif gara-gara kelakuan manusia yang konon terhormat. Yang jelas mendapat fasilitas dan gaji yang lebih dari cukup, gaji yang diambil dari pajak rakyat. Namun, ternyata hanya memikirkan kelompoknya dan perutnya sendiri.

Mencermati perjalanan kasus tokoh nomor satu di Senayan, memang penuh dengan adegan yang menegangkan. Para politisi seakan bersepakat membela dan menutupi aib junjungannya. Korupsi yang dilakukan oleh SN seakan sebuah rekayasa dari KPK. KPK seakan super body yang telah kurang ajar dan semena-mena mau menelikung seorang SN sebagai Ketua DPR RI, wakilnya Rakyat Indonesia.

Kong kali kong para wakil rakyat akhirnya sepakat membuat gerombolan dengan nama keren: Pansus KPK.




Apa yang dilakukan Pansus KPK? Mengunjungi penjara koruptor di Sukamiskin. Dan, hasilnya adalah beredarnya foto-foto mereka ngerumpi bersama sambil makan enak.
Selanjutnya, dengan merasa ada payung hukum, Pansus KPK memperalat Komisi III DPR agar memanggil petinggi KPK supaya bisa disate dan dikuliti.

Yang lebih konyol adalah adanya anggota DPR yang mendatangi KPK sambi membawa kopor dan seperti orang kesambet teriak “tangkaplah faku… tangkaplah dakuuu …”

Namun, sejatinya, dengan adanya pembelaan dari rekan sejawat di Gedung DPR, seperti yang pernah diteriakkan secara lantang oleh si Fachri ”Jokowi jangan pasang badan untuk KPK” maka wibawa serta reputasi Pak Jokowi dipertaruhkan.




Namun, bukan seorang Jokowi jika tidak bisa “menjinakkan” Si Fachri yang lagi kesurupan.

Bukan seorang Jokowi jika tidak bisa “mengarungi” koruptor kakap sekelas SN. Pak Jokowi rasanya ngerti, ada lubang menganga di sana yang, jika tidak ditangani dengan baik, akan bisa terperosok.

Dengan cerdas dan bijak serta dengan gestur yang kalem, saat diwawancara dia mengatakan: “Semua ada aturan hukum.”

“Kita semua musti taat pada hukum,” itu intinya. pesannya.

Kira-kira kalau Almarhum Gus Dur akan ditambahi “Gitu aja kok repot”.

Penak, kan?





Leave a Reply