Pernyataan “Karo Bukan Batak” di Kota Medan

12
2693

SADA ARIH SINULINGGA. MEDAN. Sekelompok pemuda Karo yang mengatasnamakan Forum Runggu Masyarakat Karo melakukan aksi pemasangan spanduk yang berisikan pernyataaan sikap bahwa Karo Bukan Batak [Selasa 21/11].




Pemasangan spanduk ini dilakukan pada tempat-tempat yang cukup strategis di Kota Medan seperti di Bundaran Tugu pendiri Kota Medan (Guru Patimpus Sembiring Pelawi), Bundaran SIB, Kantor Gubernur Sumatera Utara, depan Istana Maimun Kesultanan Deli, fly over Djamin Ginting Simpang Pos, Gapura Batas Kota Medan di Simpang Tuntungan Pancurbatu dan tempat-tempat lainnya.

Pemasangan spanduk dilakukan oleh para penggiat KBB (Karo Bukan Batak) seperti Alfonso Maranatha Ginting’s, Adi Surbakti, Edison Gerneng, Bung Aspipin Sinulingga dan Iwa Brahmana. Para militansi KBB ini mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan aksi nyata untuk menyampaikan kepada publik bahwa gerakan Karo Bukan Batak itu bukan sekedar di dunia maya.

Pegiat KBB ini mengatakan bahwa Suku Karo berbeda dengan Suku Batak dan bukan bagian dari sub-etnis Batak seperti yang selama ini banyak beredar di kalangan masyarakat. Suku Karo bukanlah keturunan Siraja Batak sebagaimana yang disebut-sebut dalam Tarombo Siraja Batak yang ditulis oleh W. Hutagalung pada tahun 1926 dalam bukunya yang berjudul “Tarombo Batak Dohot Turi-turian”.

“Suku Karo memiliki bahasa, Adat budaya dan ciri khas lainnya yang sangat berbeda dengan Suku Batak. Karo memiliki asal usul dan sejarah bahkan tanah ulayat yang berbeda dengan suku Batak,” kata Alfonso Ginting diamini oleh beberapa militan KBB lainnya.

Aksi ini merupakan kelanjutan dari hasil diskusi para pegiat KBB di dunia maya seperti group Jamburta Merga Silima, Rumah Masyarakat Karo, Surat Haru dan lain-lain.

Di depan Kantor Gubernur Sumatera Utara, Medan.

FOTO HEADER: Aksi spanduk pernyataan Karo Bukan Batak di depan Istana Maimun, Medan.








12 COMMENTS

  1. Sebutlah suku kita dengan tidak mengaitkan hal yang membuat kata seperti BATAK, memang dipaksain yah jadi orang batak, kan tidak? Seharusnya lebih berpikir rasional, suku kita kita lah yang pilih, siapapun bebas mengatakannya, namun jngan sampai muncul pembandingan seperti Kata Bukan Batak, kan gak ada yang maksa karo jadi batak, hanya saja orang batak toba dan karo itu merupakan juga satu keluarga, atau ada yang satu marga, contohnya Ginting dan Simarmata, simbolon, parna lainnya,, Terima kasih

  2. Apa yang membedakan manusia jaman sekarang dengan manusia jaman dahulu , Manusia jaman sekarang mempelajari sejarah yang ditinggalkan sedangkan Manusia jaman dahulu mereka yang menciptakan sejarah tersebut . ketika saya masih kecil bukan sekali dua kali belajar tentang silsiah batak bahkan berulang ulang, tentang siraja batak sampai marga saya sendiri.jelas dikatakan bahwasanya batak berasal dari BonaPasogit dan merantau ke luar daerah samosir hingga timbullah marga marga yang makin beragam bahasa yang beragam rumah yang beragam dan lain sebagainya.

  3. Kalo pun teman2 Karo ingin mendeklarasikan diri,jgn pernah pake embel-embel “BUKAN BATAK”. Sebab sy rasa tdk ada sejarahnya BATAK menjajah dan memaksa KARO utk menyatakan diri sbg BATAK pd jaman dahulu. Deklarasikan diri dgn cara yg tdk menyebut suku lain,dan komplainlah sama roh nenek moyang kalian yg pd masa hidupnya mengatakan dirinya bahagian dari BATAK.
    Ini tdk hanya berlaku bagi Karo,tp jg utk rekan2 suku atau marga lain yg ingin mendeklarasikan diri

  4. setuju. karo ya karo…dan pendiri kota medan pun orang karo, ya itu guru patimpus sembiring pelawi.. ya harus mejuah juah… harus mejuah juah,,,

  5. ‘Karo Bukan Batak’, dan istilah ‘Mandailing Bukan Batak’ berkobar sangat gencar-gencarnya sehubungan dengan pesta perkawinan putri Jokowi dengan Bobbi Nasution. Nasution adalah salah satu marga orang Mandailing. Tersebar luas penjelasan/pencerahan siapa Batak dan bukan Batak menjadi lebih populer di masyarakat Indonesia. Katanya Mandailing sudah menyatakan bukan Batak sejak 1922, Karo sejak 1952, Simalungun sejak 1963. Rame juga tetapi banyak positifnya bagi Karo dan Mandailing, dan juga bagi rakyat Indonesia. Terutama sekali bagi orang-orang Jawa yang sama sekali buta terhadap soal ‘batak’.
    Bagi orang Jawa Jokowi sudah ada pengalaman nyata ketika ke Parapat pesta Danau Toba yang sempat menyaksikan bupati Simalungun menangis karena Parapat dikatakan daerah Batak oleh tamu menteri, karena tidak mengerti kalau Parapat terletak didaerah ulayat suku Simalungun. Pelajaran ‘batak’ kali ini (dalam pesta perkawinan putri presiden) memang sangat meriah tetapi juga mengharukan dan pembelajaran penting bagi rakyat Indonesia tentang suku-suku bhinnekanya. Ethnic Competition dalam politisasi ‘batak’ semakin jelas bagi orang awam. Pembatakan dipakai kolonial untuk memecah belah, sekarang dipakai sebagai alat kompetisi etnis, ethnicgroups self-assertion for power, regional power or central power. Terima kasih Bobbi dan Kahiyang yang telah memunculkan pencerahan yang gemilang terutama bagi suku Mandailing dan suku Karo, dua suku bhinneka tunggal ika yang punya hak dan kewajiban yang sama dengan semua suku-suku lain di negeri multietnis Indonesia.

    MUG

  6. Ini aksi nyata yang tegas dan bermanfaat sebagai pencerahan nyata bagi masyarakat yang belum mengetahuinya.
    Mengatakan apa yang benar adalah indah dan progresif.

    MUG

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.