JEBTA B. SITEPU – BINJAI. Ritual penyembuhan memanggil tendi (jiwa) khas Suku Karo serta ritual mengusir bala atau mengusir hal jahat yang berdiam di sekitar rumah, di kediaman beru Surbakti di Jl. Ikan Arwana Simpang Korem (Kota Binjai) kembali terlaksana [Rabu 22/11].

Acara ini terjadi karena beru Surbakti yang juga merupakan seorang Guru (sebutan untuk dukun Karo) menerima sebuah petunjuk dari mimpinya beberapa tahun lalu, namun baru terlaksana kemarin.

Petunjuk yang didapatkan oleh beru Surbakti mengisyaratkan tendinya telah dibawa oleh leluhur (jinujung) ke puncak Gunung Sibayak. Petunjuk itu juga menyuruh beru Surbakti melaksanakan ritual raleng tendi untuk mengembalikan tendi beru Surbakti kembali ke dalam raga atau tubuhnya.




“Sekitar 5 tahun lalu, aku mimpi didatangi oleh leluhur. Mereka mengatakan tendiku sudah mereka bawa ke puncak Gunung Sibayak. Tapi, aku tidak kepikiran untuk melakukan ritual ini,” kata beru Surbakti didampingi suaminya merga Sebayang kepada SORA SIRULO sesaat sebelum ritual dimulai.

Lebih lanjut beru Surbakti mengatakan, bukan hanya raleng tendi yang harus dilaksanakan, tapi juga ritual ngarkari rumah untuk mengusir segala hal jahat dari rumah tersebut. Hal ini dikarenakan, leluhurnya menganggap sudah banyak hal jahat yang mengganggu keluarga mereka.

Saat sang guru dirasuki roh seorang pengembala permakan).

“Setelah mimpi sekitar 5 tahun itu, sekitar 2 tahun yang lalu saya bermimpi lagi dan leluhur saya menyuruh untuk melakukan acara ngarkari rumah. Kedua petunjuk yang datang melalui mimpi tadi, dilaksanakan hari ini,” sambung beru Surbakti.

Merga Sebayang selaku suami dari beru Surbakti juga menambahkan bahwa istrinya sejak umur 6 tahun sudah diikuti oleh umang (orang bunian). Bahkan, beru Surbakti pernah mengalami sesuatu yang disebut sebagai mati suri dan pernah juga tendi dari beru Surbakti dibawa pergi selama beberapa hari untuk bertapa.

“Sebelum sekolah, kira – kira umur 6 tahun sudah ada umang yang merasa kasihan dan menyukai istri saya. Pernah juga dia mengalami mati suri, dan beberapa hari pernah tendinya dibawa leluhur untuk bertapa,” sambung merga Sebayang.




Dari pengamatan Sora Sirulo, acara ritual ini berlangsung mulai pukul 20.30 Wib, dimana beru Surbakti dibantu oleh sekitar 6 orang teman sendalanennya yang juga merupakan guru (dukun Karo) serta ritual ini diiringi dengan musik oleh Yanto Djast Tarigan (Putra Alm. Djasa Tarigan) bersama Jhon Tarigan (putra Alm. Stasiun Tarigan).

Ketika ritual ini dimulai dan dibacakan beberapa tabas (mantra) dan doa, datanglah leluhur beru Surbakti merasuki salah seorang teman sendalanennya. Dari kerasukan ini, diketahui bahwa yang datang adalah leluhur bernama beru Sembiring. Setelah beru Sembiring memakan sirih dan beberapa cibal-cibalen (sesajen), beru Sembiring kemudian memanggil roh leluhur dari beru Surbakti yang lainnya untuk merasuki teman sendalanen dari beru Surbakti agar ritual raleng tendi segera dimulai.

Ketika ritual raleng tendi selesai dilaksanakan dan dianggap bahwa tendi beru Surbakti sudah kembali kedalam raganya, beru Sembiring yang tadinya merasuki teman dari beru Surbakti kemudian berpindah dan merasuki beru Surbakti. Selanjutnya beru Sembiring mulai memotong-motong 7 jenis jeruk untuk dibuat sebagai lau perpangiren untuk digunakan sebagai media membersihkan rumah dari segala hal jahat yang mengganggu.




Pada saat lau perpangiren telah selesai diramu oleh beru Sembiring, kini giliran leluhur bernama beru Karo yang juga dari Gunung Sibayak merasuki raga beru Surbakti dan dimulailah ritual ngarkari rumah. Setelah ritual ngarkari rumah selesai dilaksanakan oleh beru Karo dibantu dengan teman sendalanen dari beru Surbakti, maka dimulai lagi gendang terakhir yang bertujuan untuk memanggil semua leluhur yang mengikuti beru Surbakti.

Dari gendang terakhir ini, ada beberapa leluhur ataupun yang selama ini mengikuti beru Surbakti datang. Beberapa diantaranya adalah beru Sembiring, beru Karo, pengembala, Putri Hijau dan salah satu roh dari Suku Batak yang juga mengikuti beru Surbakti.

Beru Surbakti sedang dirasuki oleh keramat dari Gunung Sibayak (Beru Karo) diiringi kulcapi oleh Yanto Tarigan.








 

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.